Menitip Asa pada Sinema Indonesia

Oleh ARIYANTI RAKHMANA *)
3 Januari 2023, 13:48:50 WIB

’’NGGAK lah’’. Begitu jawaban seorang teman waktu saya tanya apakah mau menonton versi extended sebuah film horor yang tayang mulai pekan ini. Tumben, mengingat dia tergolong penggemar film horor Indonesia. Yang ini jeleknya kebangetan, katanya.

Dia tidak membayangkan menambah lagi 40 menit untuk merasakan keabsurdan cerita yang ditanggungnya setelah menonton film pertama. Meski produser menjanjikan versi baru ini (mungkin) menjawab sejumlah hal menggantung, dia bergeming.

Salah satu tujuan utama film dirilis tentu untuk menghasilkan pendapatan sebesar-besarnya. Secara ekonomi, film berjudul KKN di Desa Penari itu memang sukses. Rilis April lalu, film yang diadaptasi dari utasan Twitter itu menjadi film terlaris Indonesia.

Dikutip dari situs filmindonesia.or.id, KKN di Desa Penari telah disaksikan 9.233.847 penonton. Dengan angka tersebut, maka pendapatan kotor yang diraih MD Entertainment sebagai perusahaan yang memproduksi kurang lebih Rp 369,3 miliar.

Belum lagi pemasukan dari penjualan hak siar ke layanan streaming. Sebuah angka yang luar biasa besar, mengingat biaya produksinya hanya Rp 15 miliar.

Maka, tak heran jika menyebut alasan ekonomi menjadi faktor utama kenapa film itu dirilis ulang. Sulit sekali untuk positive thinking menyebut karena filmnya memang bagus sehingga layak ditonton ulang, hingga perlu dibuat versi yang lebih panjang.

Kapoknya teman saya mungkin tak bisa dijadikan patokan. Namun, rating 6/10 di situs IMDb menunjukkan bahwa teman saya tidak sendirian.

Mengetahui film Indonesia mampu mereguk pendapatan sebesar itu sebetulnya adalah hal yang menyenangkan. Dua tahun pandemi Covid-19 meluluhlantakkan industri film. Tahun lalu, tercatat ada 31 film lokal yang dirilis dan hanya menghasilkan 1,7 juta penonton.

Bandingkan tahun ini. Pada September lalu, akun Twitter @bicaraboxoffice mengungkapkan, hingga 28 September jumlah penonton bioskop menembus angka 44 juta. Dari angka itu, proporsi penonton film Indonesia mendominasi hingga 61 persen.

Selain itu, setidaknya sepuluh film Indonesia yang rilis tahun ini berhasil box office alias menembus 1 juta penonton. Artinya, moviegoers kita sudah sangat siap menikmati karya-karya anak negeri. Mereka tak segan menyisihkan bujet dan waktu khusus untuk ke bioskop.

Sayang, hal itu kerap tak dibarengi dengan kualitas yang disajikan. Kita sebut saja salah satu most anticipated movie tahun ini, Sri Asih. Meski akun-akun pendengung menyebut bagusnya film itu, sebagian besar penonton tidak merasakan hal yang sama saat keluar dari studio. Sampai 7 Desember lalu, film superhero perempuan pertama di Indonesia itu baru mendulang 570 ribu penonton.

Jadi gimana dong? Bikin film nggak bagus tapi penontonnya banyak, atau film nggak bagus dan penontonnya sedikit? Pilihan yang sama-sama tidak ideal. Karena semua pasti ingin filmnya bagus sekaligus penontonnya banyak.

Memadukan keduanya bukan hal mudah. Bahkan di Hollywood yang merupakan pusat industri film dunia. Banyak film bagus yang mendapat penghargaan, namun gagal di box office.

Di situlah tantangan yang dihadapi sineas. Apalagi, saat ini peluncuran film tidak lagi harus melalui bioskop. Ada berbagai layanan streaming dan platform yang menjadi alternatif. Kondisi itu memberikan peluang sekaligus menambah besar tantangan.

Namun, setidaknya sineas Indonesia sudah punya bekal besar: para penonton yang siap datang ke bioskop. Tinggal bagaimana terus membuat film yang bagus sehingga 2023 ini kita bisa melihat film baru di daftar terlaris itu yang sekaligus punya rating bagus. Every dog has its day, but this time you need more than luck. (*)


*) ARIYANTI RAKHMANA, Redaktur Show & Selebriti

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: