Mengembalikan Ruang Publik yang Bertanggung Jawab

Oleh JUNEKA SUBAIHUL MUFID *)
3 Januari 2023, 11:30:53 WIB

SEPANJANG 2023, media sosial dipastikan teramat bising. Argometer para buzzer dengan ribuan akun anonim sudah dinyalakan di tahun politik itu. Tebar dosa masa lalu, cibiran, nyinyiran, meme-meme nyelekit, hingga kata-kata kasar yang membuat kesal akan begitu mudah dijumpai. Awas, hati-hati, negative vibes seperti itu bisa memengaruhi kesehatan mental.

Peringatan-peringatan atau bahkan ketakutan semacam itu mulai muncul dan sedikit demi sedikit memenuhi ruang publik sejak pertengahan 2022, ketika tahapan pemilu diluncurkan KPU pada medio Juni. Dasar waswas itu jelas dari kubu-kubuan di Pilpres 2019 yang begitu riuh dan polarisasi antar pendukung di pilkada ibu kota. Imbasnya pun terasa sampai sekarang.

Pengguna media sosial menjadi semakin berpengalaman dalam mengejek, menyindir, dan menemukan kata-kata nyelekit. Pembuat hoax juga semakin mudah ditemui dan kian lihai memproduksi kabar sembarangan tanpa dasar. Hampir tiap hari rubrik Hoax atau Bukan di Jawa Pos menemukan rekayasa dan penyebaran hoax dari berbagai sumber media sosial itu. Hampir tiap hari pula Kemenkominfo memajang hasil klarifikasi kabar hoax dari media sosial.

Merasakan kenyataan pahit begitu, sepertinya kita butuh ruang yang lebih dingin dan tenang. Ruang publik yang terbuka tapi bertanggung jawab. Orang bisa berpendapat, menganalisis, dan mengkritik, tapi dengan koridor keilmuan yang dikuasai. Para pakar menuliskan opininya dengan argumentasi yang kuat dan bermanfaat untuk masyarakat.

Masyarakat awam dapat menuliskan keluhannya dengan disertai identitas resmi yang bertanggung jawab. Ada nama terang, alamat jelas, dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Sehingga semuanya dalam rel yang bisa dilacak.

Misalnya, ketika ada pelanggan Jawa Pos yang menulis di rubrik Pembaca Menulis perihal kehilangan pulsa karena SMS berbayar yang sulit di-unreg. Dalam hitungan hari, masalah tersebut bisa diselesaikan dan pulsa dipulihkan. Selain itu, persoalan pelanggan yang menuliskan terkendala BI checking dapat dituntaskan. Permasalahan pemilik sepeda motor yang protes ke bengkel reparasi pun langsung tertangani.

Itu semua adalah sedikit contoh bagaimana keluhan yang disampaikan dengan bertanggung jawab bisa mendapat solusi secara langsung. Bukan asal omong dan mengeluh oleh akun-akun anonim.

Dalam konteks seperti itu, media-media mainstream yang kredibel seperti koran menjadi antitesis atas media sosial yang amburadul itu. Meskipun di satu sisi, media mainstream masih kalah dari sisi kecepatan dan amplifikasi wacana karena jumlah pengguna media sosial. Namun, kekuatan media mainstream yang mengedepankan disiplin verifikasi dan penggunaan identitas yang jelas bisa menjadi pijakan kuat dalam memandang berbagai persoalan. Tidak terombang-ambing dalam ruang remang-remang media sosial.

Ketika Anda menemukan keriuhan-keriuhan yang teramat membosankan dan menjengkelkan di media sosial pada 2023, berhentilah. Beristirahatlah. Dan temukan oase dalam ruang publik di media yang lebih bertanggung jawab. (*)


*) JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Redaktur Opini

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: