Memburu Cuan di Pasar Modal

Oleh FIRZAN SYAHRONI*
3 Januari 2023, 12:57:53 WIB

JOKO memandang layar handphone-nya dengan lemas. Di layar telepon selulernya terpampang portofolio sahamnya yang merah. Dia tak menyangka niatnya berinvestasi di pasar modal membuatnya merugi. Semula Joko berharap investasinya di bursa saham bisa menjadi jalan keluar dari masalah ekonomi. Dia ingin terbebas dari masalah keuangan, seperti yang selama ini sering digembar-gemborkan sejumlah influencer di media sosial. Namun, Joko tak pernah belajar tentang dunia pasar modal. Dia membeli saham apa pun yang direkomendasikan seorang influencer.

Joko tentu tidak sendirian. Ada banyak sekali trader baru yang berdatangan ke bursa saham tanpa bekal pengetahuan memadai. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, hingga 28 Desember 2022, jumlah investor saham di pasar modal Indonesia mencapai 4,44 juta. Angka itu mengacu pada jumlah single investor identification (SID). Sebelumnya, pada 2020, jumlah investor masih 1.695.268. Lalu, pada akhir 2021, jumlahnya naik menjadi 3.451.513. Atau tumbuh 100 persen lebih. Lalu naik lagi sebesar 15,9 persen pada akhir Juni 2022 menjadi 4.002.289.

Wajar jika pertambahan jumlah investor terbanyak terjadi pada masa pandemi Covid-19. Maklum, pada masa tersebut, banyak perusahaan yang mengurangi jumlah karyawan. Joko adalah salah satunya. Dia sempat berencana membuka usaha dengan modal uang pesangonnya. Namun, situasi kala itu yang penuh pembatasan membuat Joko mengurungkan niatnya. Dia lantas memilih berinvestasi di bursa saham. Joko berharap pesangonnya akan tumbuh berlipat dalam waktu singkat. Namun, harapannya sirna.

Kisah Joko ini bukan cerita fiktif. Namun, bukan berarti tidak ada cerita sukses dari dunia pasar modal Indonesia. Ada banyak juga trader yang akhirnya meninggalkan profesi lamanya demi menjadi full time trader. Tentu, keberhasilan itu bukan tanpa perjuangan. Semua trader yang kini sukses mengaku merugi di awal-awal trading. Sebab, mereka belum bisa memantau pergerakan harga saham.

Mereka juga belum bisa mengontrol emosi dan kesabaran. Padahal, bekal utama seorang trader adalah kemampuan mengontrol emosi. Tidak mudah panik ketika harga saham dibanting oleh market maker alias bandar. Tidak juga tergopoh-gopoh memencet tombol buy ketika melihat harga saham melejit cepat.

Pada 2023 jumlah investor di pasar modal Indonesia diprediksi kembali naik. Hal itu seiring dengan makin tumbuhnya awareness masyarakat pada dunia investasi. Namun, tanpa bekal memadai, para trader newbie itu bisa bernasib seperti Joko. Minimnya pemahaman tentang pasar modal membuat negeri kita ketinggalan jauh dari negara-negara tetangga. Di Indonesia, warga yang berinvestasi di pasar modal masih di bawah 5 persen. Tetangga kita Malaysia saja sudah 9 persen dan Singapura 26 persen. Di Amerika bahkan mencapai 55 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah menyampaikan bahwa mindset keuangan kita harus mencontoh negara-negara maju. Di banyak negara maju, uang yang bekerja untuk kita. Di sini, kita yang bermandi keringat untuk mendapat uang. (*)

*) FIRZAN SYAHRONI, Redaktur Nasional Jawa Pos Koran

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: