JawaPos.com-Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta bersama Kementerian Pekerjaan Umum resmi melakukan uji coba rekayasa lalu lintas di Jalan TB Simatupang – Jalan RA Kartini, tepatnya pada segmen Simpang Susun Antasari – Simpang Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Uji coba ini berlangsung mulai Senin (15/9) hingga Jumat (19/9), setiap pukul 17.00–20.00 WIB.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah DKI Jakarta Yusa Cahya Permana menilai kemacetan di TB Simatupang tidak bisa diselesaikan dengan satu kebijakan semata.
"Untuk perihal macet TB Simatupang ini seperti saya selalu jelaskan jika ditanya sebenarnya masalahnya kompleks," ungkap Yusa kepada JawaPos.com, Senin (15/9).
Ia menjelaskan ada sejumlah faktor penyebab macet horor di TB Simatupang di antaranya:
- Keterbatasan akses jalan utara–selatan dan timur–barat.
- Pergerakan masif masyarakat dengan dominasi kendaraan pribadi.
- Minimnya transportasi umum massal berbasis kereta.
- Jalan tol yang menjadi jalur perjalanan antarwilayah Jakarta–Tangerang–Depok–Bekasi–Bogor.
- Kapasitas jalan yang terbatas dan sulit diperluas lagi.
Yusa menegaskan, kebijakan rekayasa lalu lintas sebaiknya disertai kajian ilmiah yang jelas agar publik lebih mudah memahami.
"Untuk efektifitas kami pun tidak mendapat kajian detailnya. Tapi sudah saatnya pemerintah dalam menjelaskan kebijakan didukung data analisis keilmuan yang dapat diterima dan dipahami publik," tegasnya.
Menurut Yusa, kini sudah banyak model lalu lintas makro dan mikro yang bisa digunakan untuk memprediksi dampak manajemen lalu lintas, termasuk efek ke jalan alternatif.
Sebab, dengan kemacetan disana, masyarakat akan mencari jalan alternatif lainnya. Artinya, kemacetan disana juga akan berdampak lainnya dengan ruas jalan lainnya.
"Efektivitas riil pada akhirnya harus melihat saat implementasi. Biasanya kalau pakai ilmu pendekatan nanti perlu adjustment di lapangan. Makin banyak faktor kira-kira karena faktor tak terkontrolnya ya nanti adjustment makin banyak," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, rekayasa lalu-lintas dilakukan untuk mengurangi konflik lalu lintas dan menekan kemacetan.
"Uji coba rekayasa lalu lintas ini untuk mendukung upaya penanganan dampak kemacetan serta mengurangi konflik lalu lintas mulai dari Simpang Susun Antasari sampai dengan Simpang Lebak Bulus," ujar Syafrin.
Rute Alternatif Selama Uji Coba
Dishub juga menyiapkan jalur alternatif yang bisa dilalui pengendara untuk menghindari kepadatan. Beberapa di antaranya:
- Dari off ramp Lebak Bulus menuju Fatmawati bisa lewat Jalan RA Kartini – u-turn Lebak Bulus.
- Dari arah Timur (Pondok Labu/Cipete/Fatmawati) tetap bisa menggunakan u-turn Lebak Bulus.
- Dari Jl. Adiaksa ke arah Fatmawati, bisa lewat Jalan RA Kartini – Simpang Lebak Bulus – u-turn Ciputat Raya (depan Fedex).
- Dari arah Barat (Lebak Bulus/Pondok Indah), bisa memutar di u-turn Antasari.
- Dari Utara (Jl. Pangeran Antasari) dan Timur (Cilandak/Kampung Rambutan) menuju Pondok Labu, bisa lewat Tol Desari – Off Ramp Andara – Jalan Andara Raya – Simpang Jalan Sungai – Margasatwa – Pondok Labu Raya.
Syafrin mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan pengaturan baru ini.
"Diimbau kepada para pengguna jalan agar dapat menyesuaikan pengaturan lalu lintas yang ditetapkan, mematuhi rambu–rambu lalu lintas, petunjuk petugas di lapangan serta mengutamakan keselamatan di jalan," imbuh Syafrin. (*)