← Beranda

Lolongan Minta Tolong hingga Jeritan Orang yang Disiksa di Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor Kepulauan Seribu

Khafidul UlumMinggu, 6 Agustus 2023 | 03.50 WIB
SAKSI SEJARAH: Tembok bangunan tua yang berdiri tegak di Pulau Cipir. Dulu bangunan tersebut digunakan sebagai rumah sakit karantina haji.

Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor sudah lama menjadi jujukan wisata. Selain pantainya yang indah, tiga lokasi itu memiliki bangunan tua peninggalan Belanda. Namun, wilayah yang masuk Kepulauan Seribu, Jakarta, itu juga menyimpan banyak kisah mistis.

---

Rombongan wisatawan dari Depok, Jawa Barat, itu tidak sabar untuk turun ketika kapal bersandar di Pulau Cipir dua minggu lalu. Mereka langsung menyebar untuk menikmati keindahan pulau tersebut.

Tampak dua meriam berjejer di pinggir pantai. Besi meriam itu tampak sudah berkarat, tapi masih sangat kokoh. Tak jauh dari situ, terlihat bangunan tua peninggalan Belanda. Dindingnya berdiri kokoh.

Selain pintu-pintu yang masih utuh, terlihat pula bilik-bilik kamar dan jendela. Namun, atap bangunan tersebut sudah hilang. Dedaunan yang jatuh dari pepohonan sekitarnya terserak menutupi lantai bangunan.

Di salah satu sudut ruangan terdapat prasasti yang menyebutkan bahwa bangunan tua itu merupakan bekas rumah sakit karantina haji yang beroperasi pada 1911–1933. Para wisatawan juga berkunjung ke Pulau Kelor.

Pulau itu lebih kecil, tapi pemandangannya sangat cantik. Puing Benteng Martello masih berdiri kokoh sebagai penanda bahwa penjajah Belanda pernah berjaya di laut Indonesia. Yang tidak dilewatkan para wisatawan adalah Pulau Onrust yang pernah sangat terkenal.

Selain bekas bangunan zaman kolonial, terdapat puluhan makam yang sampai sekarang masih terawat. Pulau Onrust merupakan bekas pelabuhan dan bengkel kapal.

Ketika siang, tiga pulau itu memang sangat cantik. Namun, saat matahari terbenam, aura mistisnya mulai terasa. Banyak kejadian horor di pulau yang ditetapkan sebagai cagar budaya itu.

Menurut Husnison Nizar, mantan kepala unit pengelola (UP) Taman Arkeologi Onrust yang juga arkeolog, banyak cerita misteri yang menyelimuti pulau-pulau itu. Sonni, sapaan akrab Husnison Nizar, menyatakan, suatu ketika dia dan timnya melakukan penelitian arkeologi di pulau tersebut.

Mereka terdiri atas pegawai dan mahasiswa. Sebelum sampai pulau, pihaknya menyampaikan bahwa mereka tidak boleh banyak melamun ketika berada di pulau tersebut.

Ternyata, salah seorang peneliti perempuan sedang mempunyai masalah dan menjadi beban pikirannya. Ketika sampai di pulau, dia banyak melamun. Peneliti itu langsung bisa melihat penampakan kehidupan zaman Belanda.

Pulau itu terlihat sangat ramai. Dia juga melihat noni-noni Belanda mengendarai sepeda. Tentu saja, perempuan itu sangat kaget dan merinding. Dia pun berusaha untuk tidak melamun. Peneliti yang lain juga merasakan kejadian-kejadian janggal. Ada di antara mereka yang mendengar teriakan minta tolong dan suara orang yang sedang disiksa.

’’Zaman dulu, pulau itu juga digunakan untuk menyiksa dan mengeksekusi orang,” ujar Sonni.

Tidak hanya itu, ada juga yang mendengar suara rantai yang diseret. Hal itu tidak terlepas dari sejarah Onrust yang merupakan bengkel kapal. Cerita misteri juga terjadi di Cipir dan Kelor.

Teriakan minta tolong dan orang kesakitan juga terdengar dari pulau itu. Khusus Pulau Kelor merupakan bekas kuburan massal. Banyak mayat yang terkubur di bawah pulau itu. Maka, tidak heran jika terdengar suara misterius dari pulau tersebut.

’’Penggalian pernah dilakukan di Pulau Kelor. Banyak tulang besar yang dipindahkan,” jelas Sonni.

Cerita misteri juga disampaikan Irandi Kasmara, warga Kepulauan Seribu. Misalnya, ada warga yang mendengar suara pasukan yang sedang baris-berbaris di Pulau Kelor. Ada pula nelayan yang diganggu makhluk halus ketika bersandar di salah satu pulau tersebut.

Bahkan, kata Irandi, salah seorang keluarganya juga pernah diganggu. Ketika mencari ikan, tiba-tiba ada yang melemparkan pasir ke arahnya. Padahal, tidak ada orang di sekitar situ. Lemparan pasir itu beberapa kali mengenainya, tapi makhluk yang menggodanya tidak tampak.

Pada kesempatan yang lain, keluarganya yang sedang melaut juga diganggu. Pohon besar yang tidak jauh darinya tiba-tiba bergoyang tak keruan seperti ada makhluk yang menggoyanggoyang. Padahal, pohon lain terlihat tenang.

’’Bukan karena kena angin, pohon itu bergoyangnya tidak wajar. Sangat keras,” jelasnya.

Menurut dia, banyaknya cerita horor itu bisa dimaklumi karena di pulau tersebut banyak puing bangunan. Selain menjadi pusat sandaran kapal, banyak tragedi kemanusiaan yang terjadi di wilayah itu. Banyak orang mati karena disiksa dan terkena penyakit menular. (lum/c12/any)

EDITOR: Dhimas Ginanjar