alexametrics

Pembunuh Bayaran Habisi Bapak dan Anak Diiming-Imingi Uang Rp 500 Juta

28 Agustus 2019, 10:30:12 WIB

JawaPos.com – Kasus pembunuhan Chandra Purnama, 54, dan anaknya, M. Adi Pradana, 23, bisa dibilang cukup sadis. Karena untuk menghilangkan jejak para pelaku membakar korban di dalam mobil di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Ternyata, para pelaku merupakan pembunuh bayaran yang diiming-imingi uang Rp 500 juta untuk menghabisi nyawa korban.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menyebut otak pembunuhan ini dalah istri muda korban Edi, Aulia Kusuma (AK). “Yang bersangkutan pernah mempunyai pembantu, dan pembantu ini sudah tidak ada lagi di situ (kediaman korban Edi). Dia seorang perempuan dan suami si pembantu ini inisial A disuruh menghubungi dua orang (eksekutor) yang ada di Lampung,” kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Selasa (27/8) malam.

Setelah dihubungi, kedua eksekutor ini pun datang ke Ibu Kota. Mereka adalah Kusmawanto Agus dan Muhammad Nur Sahid yang baru saja ditangkap polisi. Keduanya datang menggunakan travel yang kemudian dijemput Aulia di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Keduanya lantas disuruh Aulia masuk ke dalam mobilnya.

“Dalam mobil tersangka AK ini sebagai istri (muda) korban ini curhat menyampaikan kepada dua orang tadi inisial A dan S, curhat kalau dia dililit hutang. Dia menjual rumah tidak diperbolehkan, dia diancam (dibunuh korban Edi) disitu. Akhirnya didalam mobil deal membantu eksekusi dan membunuh korban dengan perjanjian akan dibayar 500 juta. Ini keterangan daripada pelaku A dan S,” kata dia.

Usai mengeksekusi kedua korban, lantas keduanya disuruh pulang ke Lampung lagi oleh Aulia. Mereka diongkosi Aulia Rp.8 juta. Sementara itu, Aulia dan Kelvin, anak pelaku membawa jasad kedua korban ke Sukabumi dengan mobil lalu membakar mobil berikut kedua jasad korban. Kelvin disini yang menyalkan api.

Diberitakan sebelumnya, dua eksekutor pembunuh Edi Chandra Purnama (ECP), 54, dan anaknya M. Adi Pradana (D), 23, yang jasadnya ditemukan terbakar di Sukabumi, Jawa Barat tiba di Polda Metro Jaya, Selasa (27/8) malam. Kedua tersangka ini adalah Kusmawanto Agus, 24, dan Muhammad Nur Sahid. Mereka ditangkap di Lampung pagi tadi.

Saat tiba di Polda Metro Jaya, keduanya dikawal ketat oleh anggota polisi menggunakan mobil. Saat turun kendaraan, keduanya terlihat pincang. Perban melilit di kaki mereka. Tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mereka.

Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Jerry Siagian mengatakan, jajarannya masih melakukan pendalaman kasus ini. Dari keterangan sementara yang didapat dari dua pelaku intelektual kasus ini, Aulia Kesuma (AK), 35 dan anaknya, KV, mereka menyatakan membunuh korban dengan racun dan miras.

Racun itu diberikan kepada ECP dicampur di dalam minuman, di rumahnya di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sedangkan D dicecoki miras oleh KV hingga pingsan. Saat tak sadarkan diri, KV dibekap hingga tewas. “Diberikan miras dan racun, namun hasil minuman ini belum tahu hasilnya apa. Kemudian korban pingsan lalu dibekap dengan dipegang oleh dua orang tersangka ini (yang diamankan di Lampung),” kata Jerry.

Diketahui, tersangka AK merupakan istri dari ECP. Sedangkan KV anak tirinya. Dua tersangka ini merupakan otak pembunuhan keji terhadap korban.

Menyadari suaminya sudah tak bernyawa, AK kemudian merencanakan pembunuhan kepada D. KV ditugasi olehnya untuk memanggil D ke rumah hingga akhirnya dicecoki miras dan dibekap. “Lalu kembali AK ini panggil anaknya. Dipanggil oleh D untuk ke rumah lalu diajak minuman miras, setelah setengah sadar korban dibekap oleh handuk dengan dipegangi oleh kedua orang tersangka,” imbuh Jerry.

Setelah suami dan anak tirinya meninggal, AK dan KV beserta dua eksekutor membawa korban ke wilayah Sukabumi menggunakan dua mobil. Korban saat itu berada di mobil yang dikemudikan KV. Di sana korban dibakar di dalam mobil. AK kemudian memberikan sejumlah uang kepada dua orang eksekutor ini untuk kembali ke kampung halamannya di Lampung. “Lalu dua orang ini diberikan uang sebesar Rp 8 juta untuk pulang ke Lampung,” kata Jerry.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads