Beda Kata Anies dengan Sopir Bajaj tentang Kemacetan di Jakarta

23 September 2022, 12:51:34 WIB

JawaPos.com – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengklaim bahwa tingkat kemacetan di DKI sudah menurun sejak 2017. Klaim itu didasarkan pada riset yang dilakukan TomTom Traffic Index. Namun begitu, pernyataan data tersebut berbanding terbalik dengan yang disampaikan sopir bajaj yang tiap harinya bekerja di jalanan ibu kota.

Rojak, 71, sopir bajaj yang sore hari sering mangkal di depan Gedung DPRD DKI mengatakan, kemacetan di Jakarta semakin menjadi sejak 2021 sampai sekarang. Menurutnya, waktu-waktu macet di jalanan DKI rerata terjadi pada pagi dan sore hari.

“Paling, sore atau pagi. Kalau pagi jam 8-9 lah. Kalau sore pokoknya dari jam 4 kadang-kadang sampai jam 7. Apalagi kalau ada demo. Lebih parah,” keluhnya kepada JawaPos.com sambil menggelengkan kepala, Jumat (23/9).

Pria yang berprofesi menjadi sopir bajaj sejak tahun 1979 itu mengatakan bahwa pada waktu-waktu tersebut, kemacetan merata di semua jalanan di Jakarta. Lebih parah lagi adalah di jalan-jalan menuju Stasiun Cikini.

“Dari Menteng Raya sampai stasiun Cikini. Kalau normal nggak macet tuh Menteng-Cikini paling lima menit, kalau macet bisa setengah sampai sejaman. Parah macetnya sekarang,” jelasnya.

Rojak bercerita, kemacetan yang menghabiskan waktu tersebut merugikan dirinya yang menarifkan harga angkutannya berdasarkan jarak. Dengan begitu, ia hanya mendapatkan uang dengan jarak yang sama, tapi waktu yang dihabiskannya lebih lama dari biasanya.

“Ongkos ya sama aja kalau macet juga. Kalau penumpangnya ngerti ya mending ngasih lebih. Pengeluaran banyak, pemasukan kurang,” katanya.

Ia menambahkan, jika ada waktu-waktu di mana jalanan Jakarta tidak macet, itu hanya ketika hari libur dan pada jam-jam istirahat. “Ya, kalau nggak macet ya hari libur doang. Sabtu-Minggu. Siang mah lancar. Orang udah di kantor semua, sama kalau istirahat, makan, kan. Berangkat sama pulang aja (yang macet),” tuturnya.

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Latif Usman yang mengatakan bahwa persentase kemacetan jalanan di Jakarta saat ini mencapai 48 persen pada jam berangkat dan pulang kerja. Sehingga, hal itu menimbulkan kepadatan luar biasa dan tidak nyaman bagi seluruh pengguna jalan.

“Di jam 7.00–9.00 WIB dan pulang kerja itu jam 14.00–16.00 WIB itu di angka 48 persen,” ujarnya di Jakarta, Senin (22/8)

Sementara itu, sopir bajaj lain, Rohmat, 43, mengatakan bahwa tingkat kemacetan di Jakarta hanya menurun pada tahun 2018-2019. “Masih mendingan 2018-2019. Aman lancar, jadi penarikan juga lumayan. Mulai macet lagi 2020, masih mending, 2021-2022 ini parah lagi,” tukasnya.

Ia berseloroh bahwa kemacetan di Jakarta tidak akan bisa diatasi selama perusahaan-perusahaan transportasi mobil dan motor masih terus berproduksi. Menurutnya, kemacetan disebabkan terus bertambahnya kendaraan pribadi di jalanan ibu kota.

“Mobil sama motor produksi terus ya gimana lagi? Kecuali dua produksi itu diberhentikan dulu. Ya dikasih jalan terus, gimana?” tandasnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut bahwa kemacetan di Jakarta terus mengalami penurunan tiap tahunnya. Hal tersebut ia sampaikan merujuk pada data yang disajikan Tomtom Traffic Indeks.

Menurut Anies, tahun 2017 ketika dirinya mulai bekerja sebagai gubernur, Jakarta duduk di ranking nomor tiga sebagai kota paling macet di dunia. Namun begitu, saat ini ia mengaku bahwa peringkat tersebut sudah turun menjadi 46.

Alhamdulillah sekarang sudah turun di nomor 46 dengan tingkat kemacetan 34 persen menurun dari yang asalnya 58 persen,” katanya saat menyosialisasikan Pergub Nomor 31 Rancangan Detail Tata Ruang (RDTR) di Gedung Balai Kota DKI, Rabu (21/9).

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Tazkia Royyan Hikmatiar

Saksikan video menarik berikut ini: