alexametrics

Konsolidasi, Kumpulan Relawan Bahas Potensi Bencana di Tanah Air

21 November 2020, 20:53:21 WIB

JawaPos.com – Bencana di Tanah Air datang silih bergenti. Baik bencana alam, maupun nonalam. Ketika bencana tiba, para relawan berdatangan dari berbagai penjuru memberikan pertolongan.

Penanganan bencana bersama relawan di lokasi ternyata butuh koordinasi yang kuat. Supaya, para korban dapat tertolong lebih cepat. Raturan relawan yang tergabung dari sejumlah lembaga kemanusiaan dan NGO yang tergabungan dalam Solidaritas Penanggulangan Bencana Indonesia (PBI) berkonsolidasi bersama BNPB di Bekasi, Jumat (20/11).

Mereka membahas sejumlah potensi-potensi bencana yang mengancam Indonesia. Anca Rahadiansyah, salah satu relawan kemanusiaan yang bergabung di Brigade Relawan Nusantara (BRN)-Indonesia CARE menuturkan, lembaga-lembaga kemanusiaan merespons dengan cepat setiap peristiwa atau bencana.

Contohnya terhadap bencana di Merapi, Jawa Tengah dan Jogjakarta beberapa hari lalu. Para relawan datang tidak hanya dalam penyaluran bantuan logistik saja. Mereka juga membantu penduduk untuk agar tidak trauma secara psikologis. Kebutuhan warga yang terkena bencana pun dilayani. “Semua itu atas dasar solidaritas dan kerelaan saja. Para relawan bertindak demi membantu sesama,” ungkapnya kepada JawaPos.com, Sabtu (21/11).

Anca berharap konsolidasi PBI bersama BNPB semakin mempersolid para relawan di lapangan. “Bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang menjadi korban bencana bisa merata dan sinergi dengan relawan lokal bisa jauh lebih baik,” imbuh mantan relawan yang pernah terjun pada peristiwa tsunami, likuefaksi di Palu dan Lombok itu.

Ada beragam lembaga kemanusiaan yang mengerahkan relawannya di bencana Merapi, Jawa Tengah dan Jogjakarta. Di antaranya BRN-Indonesia Care, ACT, dan lainnya. Mereka menyalurkan bantuan untuk korban Merapi di kawasan Mertoyudan, Magelang.

“Saat ini di Merapi sangat dibutuhkan masker. Masker dibutuhkan selain untuk mencegah covid, dalam bencana erupsi Merapi masker penting mencegah partikel debu yang berbahaya bagi paru-paru terhirup dan merusak jaringan dalam tubuh,” tegas Anca.

Ketua Tim Squad PBI Subur Rojinawi mengungkapkan, pihaknya beranggotakan dari berbagai lembaga, organisasi, dan komunitas yang memiliki relawan kemanusiaan. “Lebih dari 100 NGO dan organisasi kemanusiaan yang tergabung di PBI. Tim itu memang lahir karena intensitas pertemuan yang tinggi di antara para relawan kemanusiaan. Terutama ketika merespon bencana. Mereka butuh saling membantu, berkoordinasi, bersinergi dalam memberikan bantuan,” ungkapnya.

Di tempat lain, Direktur Eksekutif Indonesia CARE Lukman Azis menuturkan, perlu ada edukasi untuk masyarakat yang wilayahnya memiliki potensi bencana. Baik itu erupsi gunung merapi, banjir, longsor, dan sebagainya.

Bagi setiap keluarga perlu memiliki sebuah kesiapan dalam bentuk tas siaga bencana. Tas itu berisikan barang-barang primer dalam sebuah keluarga. Seperti, makanan, minuman ringan yang mengenyangkan, berbagai alat bersih diri, obat-obatan, baju satu atau dua stel serta peralatan kedaruratan lainnya. “Tas siaga bencana itu setidaknya menjadi penyangga kebutuhan logistik dari satu keluarga sebelum bantuan datang dari pemerintah, relawan, atau dari mana pun” ujar Lukman.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads