alexametrics

Kata Pengamat Soal Rencana Kenaikan Tarif KRL

19 Mei 2022, 09:36:21 WIB

JawaPos.com – Tarif KRL rencananya akan naik dari yang sebelumnya Rp 3.000 menjadi Rp 5.000 untuk 25 kilometer pertama. Sementara untuk 10 kilometer berikutnya tetap sebesar Rp 1.000. Hal itu telah dilihat dari survei berdasarkan kemampuan daya beli masyarakat pengguna KRL.

Direktur Eksekutif INSTRAN Deddy Herlambang memandang, kenaikan tarif KRL sebesar Rp 2.000 tersebut sangat wajar mengingat sudah enam tahun ini tidak dilakukan penyesuaian. Hal itu juga diimbangi oleh kemampuan daya beli tiket angkutan kereta KRL.

“Sudah 6 tahun tak naik. Sudah sewajarnya tiket akan di sesuaikan. Pertama kajian dari survei kan rata-rata untuk kemampuan bayarnya sudah Rp 6 ribu keatas. Saat ini masih Rp 3 ribu,” ujarnya kepada JawaPos.com, Senin (16/5).

Deddy menjelaskan, jika dilihat secara historis, sebelum tahun 2010 tiket KRL sempat menyentuh Rp 7.000 untuk tujuan Bogor dan Rp 6.000 untuk tujuan Serpong. Artinya, harga tersebut lebih mahal dari yang diajukan saat ini yaitu Rp 5.000 per 25 kilometer pertama.

“Dulu pernah harga tiket segitu. Kalau dulu mampu kenapa sekarang tidak,” ucapnya.

Deddy memaparkan, terdapat beberapa keuntungan atau benefit yang akan diperoleh mulai dari pemerintah, PT KCI (Persero), hingga masyarakat penggunanya. Jika tarif KRL dinaikan maka akan mengurangi subsidi pemerintah di sektor moda transportasi tersebut.

Sebab, saat ini, tarif KRL masih disubsidi oleh pemerintah melalui dana subsidi Public Service Obligation (PSO) untuk KRL Ekonomi AC (commuter Line). Jika tarif KRL dinaikan maka untuk perawatan kereta dan pelayanan pun tidak perlu menunggu dana subsidi PSO cair untuk memperbaiki kerusakan infrastruktur dan kereta.

“Kalau sekarang kita mengeluh masalah infrastruktur, pelayanan, sarana dan prasarana kenapa terlambat salah satunya PT KCI menalangi dulu. Itu kan pembayaran lama bisa 6 bulan atau setahun. Kalau itu (tarif) naik langsung ke KCI untuk perbaikan atap bocor atau peron bermasalah tak perlu menunggu PSO,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, sama seperti gaji masyarakat yang naik setiap tahunnya, gaji para pekerja di PT KCI sendiri seperti petugas buruh, keamanan dan kebersihan pun membutuhkan kenaikan gaji.

“Kalau tiap tahun (gaji petugas dan masyarakat) naik masih akal. Ini masuk akal ada penyesuaian tarif. Disamping inflasi juga berdasarkan tarif UMP,” ungkapnya.

Dengan demikian, Deddy menambahkan, masyarakat dinilai mampu mengikuti penyesuaian tarif KRL. Hal itu seiring dengan kenaikan angka inflasi dan daya beli para pengguna KRL. “Kalau dikatakan masyarakat tak mampu tapi nyatanya dulu mampu sebelum 2010,” pungkasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads