alexametrics

Tanah di Jakarta Turun 1 Meter/10 Tahun, Jonan Minta Gubernur Concern

15 Oktober 2019, 22:23:19 WIB

JawaPos.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan, berdasarkan hasil pengukurannya, penurunan permukaan tanah di Jakarta mencapai 12 sentimeter per tahun. Paling tinggi terjadi di daerah Ancol, Jakarta Utara.

Pengambilan air tanah secara berlebihan menyumbang 30 persen penurunan muka tanah (land subsidence) di Jakarta. Disusul kompakasi tanah (alamiah), pembebanan akibat pembangunan dan geotektonik.

“Satu tahun 10 sentimeter, 10 tahun 1 meter. 40 tahun maka lima meter. Maka itu harus segera ditangani. Penggunaan air tanah harus diperhitungkan dampaknya kepada lingkungan, masyarakat,” ungkap Menteri ESDM Ignasius Jonan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (15/10).

Saat memimpin PT KAI, Jonan kewalahan dengan Stasiun Jakarta Kota. Stasiun itu kerap terendam banjir karena penurunan muka tanah yang cukup dalam di kawasan tersebut.

Pengambilan air tanah berlebihan oleh industri dan rumah tangga mengancam pasokan air baku di Jakarta. Kebutuhan air bersih di Jakarta mencapai 846 juta meter kubik pertahun. Namun baru 50-62 persen yang dipasok PDAM.

“Saya harap ini menjadi concern dari Gubernur DKI Jakarta, jangan sampai merugikan semua, masyarakat, ekologi, lingkungan,” pungkas Jonan.

Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar mengatakan, pengendalian pengambilan air tanah bisa mengurangi laju penurunan muka tanah. Sejak 2015, izin untuk pengeboran air tanah di Jakarta harus mengantongi rekomendasi Badan Geologi.

“Salah satunya pengendalian air tanah. Karena kontribusi terhadap penurunan permukaan tanah juga sangat besar 30 persen,” tukasnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Abdul Rozak



Close Ads