alexametrics

Menunggu Regulasi, Saran Polisi Buat Pengguna Skuter Listrik

14 November 2019, 15:55:15 WIB

JawaPos.com – e-Scooter tengah menjadi primadona kaum milenial di DKI Jakarta belakangan ini. Namun, baru-baru ini insiden mengenaskan terjadi. 4 orang pengguna e-scooter harus meregang nyawa akibat tertabrak mobil. Oleh sebab itu, aparat kepolisian mengimbau pengguna agar skuter listrik tidak digunakan di jalanan raya dan trotoar.

“Kalau saya imbau sih memang enggak boleh,” ucap Kasubdit Bin Gakkum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Polisi Fahri Siregar, Kamis (14/11).

Menurut Fahri, hingga kini belum ada aturan terkait penggunaan skuter listrik. Aturan masih diatur untuk menentukan masuk dalam kategori apa skuter listrik ini, apakah kendaraan bermotor atau bagaimana. Hal ini masih terus digodok oleh Korps Lalu Lintas Polri dan Kementerian Perhubungan. Dia menambahkan, sejauh ini langkah yang akan ditempuh adalah bersama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan lokasi khusus untuk skuter listrik.

“Nanti kita minta supaya ada lingkungan tertentu yang boleh dilintasi, karena sekali lai dampaknya kan ini ada. Sudah ada kasus laka lantas (kecelakaan lalu lintas) yang melibatkan korbannya adalah pengendara skuter listrik. Jadi perlu dibatasi juga saya rasa,” ungkapnya.

Kecelakaan melibatkan pengguna skuter listrik terjadi di kawasan Senayan, Jakarta, Minggu, (10/11). Dua orang meninggal dunia dan empat orang luka-luka. Menurut Alan Darmasaputra, kakak salah satu korban meninggal, Ammar Nawar Tridarma, peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu malam. Adiknya bersama sejumlah temannya memang sengaja datang ke kawasan Gelora Bung Karno untuk bermain skuter listrik Grabwheels.

Menunggu Regulasi

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, sudah mulai menyusun regulasi guna mengatur kendaraan ini. Tahap awal ini sambil menunggu regulasi disahkan, pemprov DKI hanya membolehkan penggunaan e-scooter dijalur sepeda yang sudah tersedia. “Kami sudah sampaikan kepada operator escooter untuk kita larang mereka beroperasi di trotoar, JPO, dan kalau mau beroperasi silahkan masuk ke jalur sepeda,” kata Syafrin saat dihubungi, Rabu (13/11).

Operasional e-scooter pun dibatasi hanya di daerah yang sudah mendapat izin dari pengelola kawasan. Seperti sekitar Gelora Bung Karno (GBK) dan tempat lainnya. Sedangkan untuk jalanan umum lainnya tidak dibolehkan. “Jangan dioperasionalkan di kawasan itu (jalanan umum) sambil menunggu regulasi yang akan kita terbitkan,” ucap Syafrin.

Sedangkan bagi pemakai e-scooter yang membandel akan diberi tindakan tegas, baik itu yang menyewa, maupun milik pribadi. “Pengemudinya akan kita stop dan otopednya kita tahan. Tentu yang pribadi pun akan mengikuti regulasi yang kita buat,” jelas Syafrin.

Selain rute, Pemprov DKI juga tengah mengkaji jam operasional malam e-scooter. Rencananya akan dibatasi sesuai jam operasional angkutan umum seperti MRT atau Transjakarta. Yakni mulai pukul 05.00-23.00 WIB. “Kita harapkan, setelah jam 11 malam operator e-scooter tidak lagi menyewakan itu. Sehingga aspek keselamatan masyarakat itu yang utama,” imbuhnya.

Pemberlakuan jam malam ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kelalaian yang berujung kecelakaan seperti yang baru-baru ini terjadi. Karena ketika malam tiba, jalanan mulai sepi, sehingga dianggap bisa membahayakan. Syafrin menjelaskan, e-scooter ini sejak kemunculannya diproyeksikan untuk angkutan penghubung jarak dekat. Seperti dari shelter angkutan umum menuju titik tujuan akhir maupun sebaliknya.

Meski begitu, Syafrin membantah pemprov bergerak terlambat mengantisipasi kecelakaan e-scooter. Menurut dia, sejak awal e-scooter muncul, sudah langsung dibahas regulasinya. Namun, pembuatan sebuah aturan memakan waktu cukup lama. “Seluruh elemen yang ada akan Kita kaji, sehingga ketika kita mengeluarkan aturan bulan ini tidak sebentar-sebentar direvisi,” pungkasnya.

Editor : Bintang Pradewo



Close Ads