alexametrics

Anggota Paskibra Tangsel Meninggal Bukan Karena Kekerasan Fisik

13 Agustus 2019, 23:04:52 WIB

JawaPos.com – Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Ferdy Irawan memastikan tidak ada kekerasan fisik yang menyebabkan meninggalnya anggota Paskibra Tangerang Selatan, Aurellia Qurata Aini. Kepastian itu didapat setelah polisi memeriksa 30 saksi.

“Dari hasil penyelidikan yang kami lakukan, keterangan sudah kami rangkaikan semua dan kami belum menemukan adanya aksi penganiayaan yang dialami oleh almarhumah,” ujar Ferdy di Polres Tangerang Selatan, Selasa (13/8).

Saksi yang diperiksa yakni kedua orang tua Aurel, petugas yang memandikan jenazah korban, rekan sesama Paskibra, pelatih dari Purna Paskibraka Indonesia (PPI) hingga pelatih dari unsur TNI.

“Dan, terakhir dari Dinas Pemuda dan Olahraga sebagai dinas yang bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan pelatihan Paskibra,” tambah Ferdy.

Mereka seluruhnya tidak mengatakan ada aksi kekerasan fisik kepada Aurellia. Bahkan saat dimandikan, di tubuh jenazah tidak ditemukan bekas kekerasan fisik seperti lebam maupun luka berdarah.

Orang tua Aurellia juga membenarkan hal tersebut. Bahkan perawat yang menangani Aurel saat pertama di rumah sakit juga berkata demikian. Selain itu, kondisi korban saat mengikuti pelatihan dipastikan dalam keadaan sehat.

“Itu dinyatakan berdasarkan pernyataan dari tim Dinas Kesehatan yang sudah dibentuk wali kota Tangsel,” lanjut Ferdy.

Meski begitu, Ferdy mengatakan ada kegiatan ketahanan fisik yang diberikan pelatih kepada peserta Paskibra. Seperti lari, push-up dan pembinaan fisik lainnya. Untuk itu, pola latihan disiplin yang dirasa memberatkan seperti itu akan diperbaiki oleh pihak Pemkot Tangerang Selatan. Sehingga anggota Paskibra tidak lagi mengalami beban fisik maupun psikis yang berat.

Sebelumnya, Aurellia meninggal dunia pada Kamis (1/8) pagi. Dia mengembuskan nafas terakhir di kediamannya, Taman Royal 2, Cipondoh, Tangerang. Ayahnya, Farid Abdurrahman mengatakan latihan Paskibra yang dilakukan oleh anaknya dianggap berlebihan. Terlebih adanya campur tangan para senior, membuat beban psikologis semakin besar. Meski begitu, keluarga tidak membuat laporan polisi atas kejadian tersebut.

Sedangkan ibunda Aurellia, Sri Wahyuni mengatakan, beberapa hari sebelum meninggal, anaknya dalam kondisi sehat. Bahkan anaknya sempat menceritakan siap mengikuti kegiatan renang sore setelah latihan fisik.

Aurellia kemudian pulang ke rumah menjelang malam sekitar pukul 19.30 WIB. Wajah siswa kelas XI MIPA 3 SMA Islam Al Azhar BSD itu terlihat kelelahan. Aurellia sempat bercerita ikut terkena hukuman saat latihan, lantaran ada temannya yang berbuat salah. Bahkan pada hari terakhir latihan, buku harian Aurel – sapaan akrabnya, sempat dirobek oleh para seniornya.

Menjelang malam, ibunya menyadari suhu tubuh anaknya meningkat seperti terkena demam. Namun, sebagai seorang purna Paskibra dia masih berpikir positif. Dia menganggap sakit anaknya karena kelelahan akibat aktivitas berat.

Jelang pagi hari, Aurel kemudian bangun dari tidurnya dan menyalin ulang buku hariannya yang dirobek. Namun, saat berada di dapur, dia terjatuh dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Sesampainya di UGD, dokter menyatakan fungsi otak Aurel sudah berhenti dan tak bisa diselamatkan.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads