alexametrics

Selidiki Kematian Anggota Paskibra, Polisi Cek Buku Harian Korban

12 Agustus 2019, 15:55:27 WIB

JawaPos.com – Polres Tangerang Selatan masih mengusut kasus kematian calon Paskibra Tangerang Selatan, Aurellia Qurata Aini. Penyidik saat ini tengah berupaya mendalami buku harian milik korban yang didapat dari pihak keluarga. Dari bukti ini diharapkan ada petunjuk yang bisa digunakan mengungkap kasus ini.

“Buku harian juga kita cek, keluarga juga memberikan (buku harian korban),” kata Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, AKP Muharam Wibisono di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (12/8).

Selain itu, Muharam mengatakan, beberapa orang saksi juga sudah dimintai keterangan oleh penyidik. Namun, dia belum bisa banyak mengungkapkan ke publik isi interogasi tersebut. Mengingat penyelidikan masih berlangsung. “Semua yang terkait baik itu pelatih, teman, dan keluarga (sudah diperiksa). Yang jelas seluruh pihak terkait sudah kita minta keterangan,” ungkapnya.

Polisi juga turut mengamankan rekam medik miliki korban. Namun, untuk visum sejauh ini tidak dilakukan karena pihak keluarga tidak membawa kasus ini ke ranah hukum. Sebelumnya, Aurellia meninggal dunia pada Kamis (1/8) pagi. Dia menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya, Taman Royal 2, Cipondoh, Tangerang.

Ayahnya, Farid Abdurrahman mengatakan latihan Paskibraka yang dilakukan oleh anaknya dianggap berlebihan. Terlebih adanya campur tangan para senior, membuat beban psikologis semakin besar. Meski begitu, keluarga tidak membuat laporan polisi atas kejadian ini.

Sedangkan ibunda Aurel, Sri Wahyuni mengatakan, beberapa hari sebelum meninggal, anaknya dalam kondisi sehat. Bahkan anaknya sempat menceritakan siap mengikutu renang sore setelah latihan fisik.

Aurel kemudian pulang ke rumah menjelang malam sekitar pukul 19.30. Nampak tampang kelelahan keluar dari wajah siswa kelas XI MIPA 3 SMA Islam Al Azhar BSD itu. Aurel sempat bercerita ikut terkena hukuman saat latihan, lantaran ada temannya yang berbuat salah. Bahkan di hari terakhir latihan buku harian Aurel sempat dirobek oleh para seniornya.

Menjelang malam, Sri menyadari suhu tubuh anaknya meningkat seperti terkena demam. Namun, sebagai seorang purna Paskibraka dia masih berpikir positif. Dia menganggap sakit anaknya karena kelelahan akibat aktivitas berat.

Jelang pagi hari Aurel kemudian bangun dari tidurnya dan menyalin ulang buku hariannya yang dirobek. Namun, saat berada di dapur, dia terjatuh dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Sesampainya di UGD dokter menyatakan fungsi otak Aurel sudah berhenti dan tak bisa diselamatkan.

Perhatian Khusus KPAI

Kasus meninggalnya Aurellia Qurratuani (AQA), pasukan Inti Paskibra di Kota Tangerang Selatan mendapat perhatian serius dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Kabarnya, almarhumah sempat bercerita jika timnya menjalani hukuman fisik saat menjalani serangkaian pendidikan dan pelatihan.

Komisioner KPAI Retno Listyarti dalam keterangan persnya pada Sabtu (3/8), menyampaikan duka cita mendalam untuk keluarga Aurel yang pasti sangat terpukul atas kehilangan putri mereka. Dari informasi yang dihimpun KPAI, memang Aurel dilarikan ke rumah sakit karena jatuh di rumah, namun ada kemungkinan kelelahan berat akibat latihan fisik sehari sebelumnya.

“Keluarga sempat mendengar keterangan anaknya kalau timnya mengalami hukuman karena ada anggota tim yang melakukan kesalahan, dan setelah latihan berat hari itu, dilanjutkan dengan kegiatan berenang yang tentu menguras energi yang tidak kecil,” ucap Retno seperti dilansir PojokSatu.id (Jawa Pos Group), Senin (12/8).

Meski demikian dirinya salut pada keluarga, terutama kedua orang tua Aurel yang begitu tegar menerima musibah musibah tersebur, bahkan berpikir jernih bahwa tidak ada yang salah dengan sistem yang sudah dibuat purna-Paskibraka Indonesia.

Tetapi ulah beberapa oknum yang latah dan berlebihan, membuat pendidikan yang dijalani Aurel dan teman-temannya menjadi jauh lebih berat dari biasanya. Hal ini yang perlu dievaluasi ke depannya dengan belajar dari kasus meninggalnya Aurel.

Retno menyebutkan, berdasarkan cerita ibunda Aurel, memang ada sistem pelatihan yang perlu dievaluasi, karena kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh masing-masing anak itu berbeda. Pemerintah Kota Tangsel perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar pelatihan yang dilaksanakan berpedoman pada perlindungan anak, mempertimbangkan usia dan ketahanan tubuh anak.

Komisioner KPAI bidang pendidikan itu berharap kasus ini dapat menjadi momentum semua pihak terkait untuk melakukan evaluasi dan melaksanakan pengawasan selama pelatihan para calon paskibra di berbagai daerah. “Menjadi pengibar bendera pada saat perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, setiap 17 Agustus tentulah mimpi banyak anak, oleh karena itu perlu didukung semua pihak demi kepentingan terbaik bagi anak,” tandasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan


Close Ads