alexametrics

Fenomena Kenakalan Remaja Berujung Kriminalitas

12 Maret 2022, 08:49:09 WIB

JawaPos.com – Kasus kriminalitas belakangan ini merupakan ulah dari para remaja. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat mengaku miris melihat fenomena ini. Para pemuda yang seharusnya menjadi generasi penerus malah terjerumus ke dalam perilaku yang meresahkan masyarakat.

Tubagus Ade Hidayat mengungkapkan, dalam sebulan terakhir banyak aksi begal di wilayah aglomerasi Jabodetabek yang tersangkanya adalah anak usia dibawah 20 tahun. Bahkan, Kapolda memberikan atensi penuh terhadap fenomena tersebut.

“Dari data hasil pengungkapan,dapat fakta bahwa para pelaku kriminal di beberapa titik TKP rata-rata dibawah 20 tahun atau belasan tahun, pekerjaannya pelajar,” ujarnya di Polda Metro Jaya Jakarta, Jumat (11/3).

Berdasarkan fakta hasil analisis, terungkap berbagai kasus kriminal yang viral di sosial media merupakan usia belasan tahun. Sehingga dapat diambil kesimpulan dalam tiga klaster, yaitu penyakit masyarakat, kenakalan remaja, dan perilaku kriminal.

“Hasil pengungkapan yang cukup banyak, yang pernah viral di medsos, korbannya ustad, tukang roti, tukang gorengan, di Depok-Bekasi, korban anggota Brimob hampir sudah terungkap,” ucapnya.

Menurutnya, berdasarkan hasil analisis, penanggulangan ketiga klaster tersebut harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Sebab, mereka cenderung melakukan tindakan kriminal hanya di daerahnya masing-masing.

Ia mengungkapkan, yang menjadi pemicu tindakan kriminal berdasarkan pengaruh dari kelompoknya. Mereka berkumpul dalam suatu komunitas. Dalam komunitas tersebut, mereka mengidentifikasi diri sebagai kelompok yang kuat dan hebat. Kekuatan dan kehebatan tersebut dibuktikan dari tindakan yang berani. Namun sayangnya, keberanian yang dibuktikan malah disalurkan melalui tindakan yang melukai.

“Hanya sayangnya mengidentifikasikan berani adalah berani melukai orang lain atau kriminal,” sebutnya.

Ia melanjutkan, kelompok yang mengidentifikasikan sebagai kelompok yang hebat akan mengidentifikasi kelompok lain sebagai musuh. Hal itu lah yang menjadi penyebab tindakan aksi tawuran.

Bahkan, aksi tawuran sengaja di posting melalui sosial media seperti Instagram maupun Facebook. Hal itu menjadi salah satu cara bahwa mereka merupakan kelompok yang hebat.

“Ini lebih ke permasalah sosial. Lebih ke kriminal. Remaja, penyakit masyarakat, dan kriminalitas,” ungkapnya.

Dengan demikian, pihaknya membentuk tim yang dijalankan akan berfokus pada persoalan sosial. Dalam hal ini ketahanan keluarga dapat menjadi pencegah remaja berbuat kriminal. Selain itu juga melibatkan lingkungan remaja seperti sekolah dan RT.

“Upaya-upaya kedepan melibatkan semua stakeholder terkait pendidik, sekolah, RT RT dan organisasi kepemudaan. Karena kepolisian bagaimana kejahatan tidak terjadi,” pungkasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Romys Binekasri

Saksikan video menarik berikut ini: