alexametrics

Puluhan Tahun Kerap Salah, Begini Penanganan Gigitan Ular yang Tepat

11 Desember 2019, 12:33:11 WIB

JawaPos.com – Munculnya ular di tengah pemukiman masyarakat tengah terjadi di beberapa wilayah. Seperti di Citayam, Depok, Jawa Barat baru-baru ini dilaporkan ada sekitar 30 ekor anak king kobra yang ditemukan warga. Hal ini pun membuat warga setempat resah, karena takut terkena gigitan ular. 

Dokter spesialis gigitan ular berbisa, Tri Maharani mengatakan, munculnya fenomena ini bisa saja karena ular king kobra tengah memasuki musim bertelur. Dan memang setiap kali reproduksi, seekor ular bisa bertelur dalam jumlah banyak.

“Jadi memang ini adalah saatnya ular-ular itu menetas. Jadi sekali menetas itu tentunya mereka tidak 1 telur, saya pernah dapat itu 1 ular 24 telur dan semuanya hidup. Kalau itu cuma 30 berarti cuma telur 1 ular,” kata Tri saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (11/12).

Musim bertelur ular, dijelaskan Tri dipengaruhi oleh banyak hal. Seperti nutrisi yang dikonsumsi ular, hingga cuaca. Dengan begitu, ular merasa nyaman untuk bereproduksi. Siklus musim bertelur ular sendiri biasanya berbeda-beda sesuai spesiesnya. 

Meski begitu, menurut dia, pencegahan maupun penanganan pertama (first aids) pada korban gigitan ular berbisa tidaklah sulit. Hanya saja persoalannya selama ini kerap terjadi kesalahan penanganan. Baik itu yang dilakukan tenaga medis. Maupun oleh masyarakat awam.

“Kita itu kesalahan berjamaah puluhan tahun. Kita semua mikir bahwa gigitan ular venomnya (bisa, Red) masuk lewat pembuluh darah, padahal ternyata enggak. Lewatnya kelenjar getah bening,” ucap Tri.

Kesalahan penanganan pertama yang dilakukan masyarakat yakni saat korban tergigit ular, mereka berusaha mengeluarkan bisanya dengan menyedot darah, atau ditusuk bagian yang terkenda gigitan supaya darahnya keluar. Cara ini dipastikan salah. Bahkan dalam buku guideline WHO juga tidak ada satu pun yang membenarkan cara tersebut.

Mengikat area yang terkena gigitan ular juga termasuk penanganan yang salah. “Karena lewat kelenjar getah bening jadi (penanganannya) melakukan imobilisasi atau dibuat tidak bergerak. Kalau kita sudah tahu persis bahwa itu adalah neurotoksin, maka imobilisasi plus fesertendid untuk membuat ototnya terkompresi jadi tidak bergerak,” tambah Tri.

Penanganan dengan imobilisasi ini bisa dilakukan secara mudah. Misalnya area gigitan terjadi di tangan atau kaki. Imobilisasi bisa menggunakan kayu atau bambu untuk menahan kaki dan tangan supaya tidak bergerak. Sedangkan apabila gigitan di leher atau kepala bisa menggunakan cervical collar atau korset leher supaya tidak terjadi gerakan.

Ketika area gigitan tidak bergerak, maka bisa ular tidak akan menyebar ke seluruh tubuh. Bahkan untuk jenis gigitan yang bisanya tidak dalam level yang tinggi, korban tidak perlu diberi anti bisa. Sedangkan proses penyebaran bisa ular pada tubuh dipengaruhi oleh dua hal. Yakni jenis ular dan banyaknya bisa yang masuk ke tubuh korban. Semakin tinggi tingkat racun, dan banyaknya yang masuk ke dalam tubuh, maka penyebaran akan sangat cepat. Sehingga apabila tidak mendapat pertolong pertama, korban dibayangi oleh kematian.

Oleh karena itu, Tri mengatakan, masyarakat harus paham bahwa proses gigitan ular memiliki 2 fase. Yakni lokal dan sistemik. fase lokal yakni gigitan yang hanya perlu ditangani dengan imobiliasi. Sedangkan sistemik selain diimobilisasi juga membutuhkan anti venom.

Di sini lah kerap terjadi kesalahan. Bahkan sekelas tenaga medis pun masih kadangkala terjadi. Menurut Tri, semua rumah sakit sekalipun tidak memiliki anti bisa ular, tetap bisa memberikan pertolongan pertama kepada korban gigitan ular. Yakni dengan imobilisasi tersebut untuk mencegah bisa ular menyebar ke seluruh tubuh.

“Masalahnya ada juga kesalahan berjamaah puluhan tahun, first aidnya salah, para dokter dan perawat juga salah, mereka mikir semua gigitan ular harus dikasih anti venom, kalau nggak ada anti venom pasiennya diusir ke rumah sakit lain,” ujar penyandang gelar doktoral bidang biomedik Universitas Brawijaya itu.

Paradigma ini yang perlu dibenahi. Termasuk pola pikir masyarakat dalam penanganan pertolongan pertama. Terlebih di Indonesia banyak mitos yang diyakini masyarakat terkait penanganan ular. Seperti diberi kotoran angsa agar ular mati, atau menabur garam di sekeliling rumah agar ular tidak masuk, dan mitos lainnya, semuanya dipastikan salah.

Berdasarkan penelitian medik, ular tergolong binatang liar solitaire atau hidup sendiri. Dia tidak mengenal istri, anak, sudara, teman bahkan pemiliknya. Berbeda dengan hewan lain seperti kucing dan anjing yang mau bersosialiasi dengan lingkungannya.

Dengan begitu, ular dipastikan hanya memiliki naluri untuk makan. Atau memikirkan diri sendiri. Bahkan seekor induk ular tidak akan memberi anaknya makan setelah menetas.

“Nalurinya dia makan, maka kalau dia datang ke rumah kita, sebetulnya dia hanya cari makanannya, nggak mungkin cari kita. Dia takut sama manusia,” tegas Tri.

Berdasarkan buku guideline WHO, disebutkan jika ular tidak takut dengan bahan kimia apapun. Karena ular memiliki indera penglihatan dan pendengaran yang kurang baik. Dia hanya bagus pada pergerakan maupun pengaturan suhu tubuhnya, karena dipengaruhi oleh sisik badannya.

Oleh karena itu, bagi masyarakat harus mengenakan alat perlindungan diri saat beraktivitas. Misalnya petani, harus menggunakan sepatu boots saat ke sawah, nelayan sebaiknya memotong jaringnya ketika ada ular laut yang tersangkut, bagi yang kerap ke perkebunan agar membawa tongkat untuk menghalau serangan ular, dan tidak beraktivitas seorang diri. Dengan begitu, ketika ada peristiwa tergigit ular, orang yang mendampingi bisa mencari pertolongan.

Adapun tips agar ular tidak masuk ke dalam rumah penduduk. Pertama masyarakat bisa melakukan bersih-bersih rumah, membuang semua makanan ular seperti tikus, dan katak. kedua memotong rumput yang sudah tinggi, untuk mencegah jadi tempat persembunyian ular.

Ketiga masyarakat bisa memilih tidur dengan tempat tidur yang tinggi, atau ranjang diberi kelambu. Keempat, masyarakat harus paham pertolongan pertama terhadap korban gigitan ular. Dan terakhir segera membawa korban untuk mendapat pertolongan medis.

Editor : Kuswandi

Reporter : Sabik Aji Taufan


Close Ads