alexametrics

Ibu Kota Padat dan Macet, TOD Bisa Jadi Solusi

9 Desember 2019, 14:01:53 WIB

JawaPos.com – Ibu Kota DKI Jakarta terkenal dengan kemacetan lalu lintasnya yang parah. Dengan begitu, konsep Transit Oriented Development (TOD) merupakan solusi yang efektif untuk Jakarta dengan mengintegrasikan proyek perumahan kepadatan tinggi dengan jaringan transportasi umum kota.

Head of Research and Consultancy Savils Research Anton Sitorus mengatakan bahwa Jakarta sebagai pusat ekonomi di Indonesia banyak menarik orang dari seluruh penjuru negeri. Hal itu pun membuat kota-kota sekitar Jakarta juga mengalami peningkatan.

Sebagai ibu kota Indonesia (kemungkinan sampai 2024, Red), Jakarta juga memegang status sebagai pusat keuangan dan perusahaan utama. Dengan pengakuan seperti itu, kota terus berlanjut menarik orang dari seluruh penjuru negeri.

Bahkan, saat ini jumlah warga di wilayah Jabodetabek ada sekitar 30 juta jiwa. Dengan populasi besar, permintaan perumahan di Jabodetabek pun juga tinggi. “Permintaan tahunan sekitar 100.000 unit per tahun, berasal dari pertumbuhan dan kebutuhan rumah tangga baru,” terangnya, Senin (9/12).

Di sisi lain, pertumbuhan pasokan jauh dari yang diharapkan, kelangkaan tanah dan meningkatnya harga dipandang sebagai hambatan utama. Sebagai hasilnya, permintaan pembangunan rumah tetap tumbuh dari waktu ke waktu.

“Kota ini juga dihadang memburuknya kemacetan lalu lintas karena peningkatan jumlah kendaraan pribadi yang signifikan. Ini yang membuat upaya untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta menjadi lebih sulit dan kompleks,” tambahnya.

Berdasarkan data TomTom Traffic Index 2019, Jakarta menempati urutan ke-7 sebagai kota termacet di dunia. Atas hal itu, Bank Dunia melaporkan bahwa kemacetan lalu lintas menelan biaya hampir USD 4 miliar per tahun dan sekitar USD 2,6 miliar terbuang untuk konsumsi bahan bakar di Jakarta.

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa pengembang mengembangkan produk, seperti apartemen di kota yang menargetkan keluarga muda dan pekerja yang mencari rumah di dekat tempat kerja mereka. Akan tetapi, kelangkaan lahan dan kenaikan harga tanah telah menghambat pengembang untuk membangun lebih banyak proyek perumahan yang terjangkau di dalam kota.

Dengan kompleksitas dan tantangan seperti itu, Jakarta membutuhkan pendekatan yang lebih baik untuk mengatasi masalah perumahan dan masalah lalu lintas secara efektif. Dalam pandangan kami, pengembangan perumahan masa depan di Jakarta harus diintegrasikan dengan publik jaringan transportasi untuk meminimalkan penggunaan kendaraan pribadi.

Adanya konsep TOD yang menghubungkan perusahaan perumahan dan komersial dengan jaringan transportasi, membuat orang mudah untuk bergerak di sekitar kota dengan nyaman dan efisien. Pertama adalah TOD tidak memerlukan pengembangan baru, yakni hanya menggunakan hub yang ada seperti stasiun kereta, terminal bus.

“TOD memaksimalkan penggunaan hub transportasi saat ini dengan fungsi yang lebih luas dan lebih vital. Sebagian besar hub transportasi yang ada memiliki luas lahan yang luas untuk menghasilkan pengembangan skala besar. Hub yang ada terletak di area strategis, ini akan memberikan perkembangan yang jauh lebih besar makna,” tuturnya.

Pihaknya juga optimis, konsep TOD dapat diadopsi sebagai bagian integral dari perencanaan kota Jakarta dan diimplementasikan secara luas dalam berbagai perkembangan.

“Itu akan berdampak besar pada upaya untuk meringankan masalah lalu lintas Jakarta dan pada saat yang sama, memasok lebih banyak stok perumahan yang berkualitas untuk mengisi simpanan dan mengakomodasi permintaan untuk populasi yang meningkat,” tutupnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Saifan Zaking


Close Ads