Pemkot Bogor Ajak Masyarakat Hormati Perbedaan Hari Idul Adha 1443 H

6 Juli 2022, 15:55:02 WIB

JawaPos.com–Pemerintah Kota Bogor mengajak masyarakat menghormati perbedaan penetapan Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah. Organisasi Muhammadiyah menetapkan Idul Adha jatuh pada Sabtu (9/7) dan pemerintah pada Minggu (10/7).

Pemkot Bogor tetap memfasilitasi lokasi salat Idul Adha untuk seluruh umat Islam. Pelaksana Harian Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyampaikan, telah berkoordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor, untuk menyikapi hal tersebut.

”Kita berikan izin (Muhammadiyah lebih dulu), sudah konsolidasi dengan berbagai pihak, termasuk juga kami sudah koordinasikan dengan Forkopimda, pada prinsipnya tidak ada masalah,” kata Dedie seperti dilansir dari Antara.

Menurut Dedie, perbedaan disikapi dengan rukun dan harmonis antarumat beragama di Kota Bogor akan membuat kenyamanan masyarakat. Hasil sidang isbat penentuan awal Dzulhijah 1443 yang disampaikan kementerian agama menetapkan Hari Raya Idul Adha atau 10 Zulhijah 1443 H jatuh pada Minggu (10/7).

Sedangkan keputusan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 10 Dzulhijjah 1443 atau Hari Raya Iduladha jatuh pada Sabtu (9/7). Pemerintah Kota Bogor, kata Dedie, mempersilakan masyarakat dalam hal ini organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan salat Idul Adha 1443 Hijriah secara berjamaah di Lapangan Sempur. Masyarakat yang ikut ketetapan pemerintah pada hari selanjutnya di masjid-masjid atau lokasi yang memungkinkan.

”Pemkot Bogor rencananya di Masjid Raya. Insya Allah kita koordinasikan dengan MUI dan lain lain,” ujar Dedie.

Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto menambahkan, dewan mendukung pemerintah kota, kepolisian, dan TNI, untuk menjaga keamanan dan ketertiban pelaksanaan Idul Adha 1443 Hijriah. Forkopimda harus memastikan pelaksanaan Idul Adha bisa berlangsung aman, kondusif, nyaman, dengan pelaksanaan yang mungkin berbeda.

”Saya kira (perbedaan) bentuk kekayaan negara kita, khasanah umat Islam, kita hormati masing-masing dan tidak ada yang salah semua benar, tinggal bagaimana keduanya saling menghormati,” ucap Atang.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Antara

Saksikan video menarik berikut ini: