alexametrics
Sopir Taksi Berjuang saat Pandemi Covid-19

Kisah Sopir Taksi Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

5 Agustus 2022, 20:10:47 WIB

Masih ingat dengan sulitnya hidup saat awal Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) karena merebaknya pandemi Covid-19? Saya bertemu Muhyiddin dan Nasrul, dua sopir taksi Blue Bird yang menginspirasi untuk tidak boleh menyerah dan terus bekerja keras.

Agas Putra Hartanto, Jakarta.

Pada Senin 18 Juli lalu, saya mendarat di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah meliput rangkaian G20 di Bali. Rendahnya tingkat penularan Covid-19 membuat bandara kembali dipadati penumpang. Sangat kontras dibanding Juli 2021. Saat varian Delta merebak. Pun jika dibandingkan dengan Juli 2020, ketika awal PPKM diberlakukan.

Meski belum bisa dikatakan normal, denyut bisnis penerbangan mulai berdetak lagi. Okupansi pesawat mulai meningkat seiring dibukanya kembali jalur penerbangan domestik dan internasional. Aturan melakukan perjalanan menggunakan pesawat yang lebih longgar dibanding beberapa waktu lalu ikut memberi harapan pulihnya bisnis penerbangan.

Siang itu, para pengantar ramai duduk di bangku panjang selasar Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kata petugas di sana, saat akhir pekan lebih ramai lagi. Padat seperti masa sebelum pandemi Covid-19.

Tingginya okupansi pesawat ikut berimbas positif pada sektor angkutan lain. Seperti antrean angkutan umum bandara termasuk taksi. Saya mendapat antrean nomor 256 untuk taksi Blue Bird. Harus sabar memang. Tapi di sisi lain saya merasa lega. Sektor transportasi mulai pulih. Roda ekonomi perlahan mulai berputar lagi.

Sekitar 20 menit kemudian saya mendapat taksi dan bertemu dengan sopir bernama Muhyiddin. Beliau ramah, murah senyum, dan yang menyenangkan dia storry teller yang baik. Perjalanan saya menembus kemacetan menuju Kebayoran Lama jadi tidak membosankan. Apalagi, saat dia bercerita tentang pengalamannya ketika pagebluk Covid-19 terjadi di Indonesia.

Dia masih ingat betul ketika Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada Maret 2020. Berbagai kebijakan bermunculan. Masyarakat was-was dengan kesehatannya yang lantas banyak memilih untuk di rumah saja sesuai anjuran pemerintah. Momen yang mulai membuat hari-harinya buruk. Penumpang taksi merosot drastis. Menjadi sopir taksi saat itu tidak menjanjikan.

Muhyiddin lantas mengajukan izin untuk pulang kampung ke Mojokerto, Jawa Timur. Dia di sana sejak Maret 2020 sampai Desember 2020. Di Mojokerto, dia memilih membantu istrinya mengelola kebun bunga di kampung. “Di Jakarta nggak menghasilkan, ya milih bantu istri, makan di rumah. Kebetulan, istri butuh tenaga,” ungkapnya.

Keluarga Muhyiddin kebetulan punya bisnis bunga untuk ziarah kubur. Dari kebunnya ada melati air, kamboja, dan mawar. Selama dia merantau di Jakarta, kebun bunga itu dikelola istrinya bersama orang lain. Hanya saja, menurut dia, kurang telaten. Sekadar panen saja. “Ya asyik. Saya pulang itu tanaman jadi bagus. Karena yang punya merawat langsung,” celetuknya.

Namun, pulang kampung tidak serta merta membuat ekonominya membaik. Sebab, kebijakan PPKM juga membuat ziarah kubur turun. Muhyiddin jadinya ke kebun untuk memetik bunga dan mengecek kondisi tanaman. Jika ada bunga yang busuk segera diambil.

Jual kembang untuk ziarah kubur sebenarnya cukup untuk membuat dapurnya tetap mengebul. Apalagi, dia memiliki pelanggan tetap. Terutama yang mau berziarah ke makam-makam tokoh agama di daerah Trowulan, Mojokerto. Di sana ada makam sejumlah wali dan pemuka agama Islam. Salah satunya, Syekh Jumadil Kubro Sayyid Jumadil Kubro.

Tidak hanya itu, bunga hasil kebun Muhyiddin juga dikirim ke Surabaya. Tepatnya di Ampel dan Kembang Jepun. Di sana, bunga-bunga tersebut dijual Rp 140 ribu per kg. Bapak tiga anak itu juga menjual ke pemasok seharga Rp 90 ribu sampai Rp 110 ribu per keranjang besar. “Istilah keranjang besar itu di tempat saya per kalo. Keranjang yang dari bambu itu,” terangnya.

Dalam seminggu, Muhyiddin dapat menjual rata-rata 8 kalo. Ketika musim penghujan, apes-apesnya 4 kalo seminggu. Sebab, ketika panas, bunga akan mekar sempurna. Jika musim penghujan, bunga akan kempes.

Pada 5 Januari 2021, pria 55 tahun itu kembali ke Jakarta. Walaupun situasi belum normal, dia yakini situasi akan membaik. Sang istri juga memahami keputusannya. Muhyiddin menyadari konsekuensinya. Berusaha legowo di bulan pertama, kedua, ketiga belum dapat uang yang cukup untuk dikirim ke istrinya. Situasi masih serba terbatas. Yang penting uang cukup untuk menghidupi diri sendiri dulu di Jakarta. “Baru mulai Maret bisa ngirim (uang),” ucapnya lega.

Keyakinan dan kesabaran Muhyiddin berbuah manis. Menerapkan protokol kesehatan yang ketat serta terus berusaha keras membuatnya bertahan hingga kini. Dia kembali menikmati manisnya jadi sopir taksi karena saat ini ekonomi kembali berputar.

Cerita berbeda disampaikan dengan Nasrul. Sembari menikmati kemacetan Ibu Kota, sopir asal Padang, Sumatera Barat itu memilih tetap narik sejak awal pandemi Covid-19. Berbekal protokol kesehatan di dalam mobil, dia terus berupaya mencari nafkah di Jakarta. “Alhamdulillah Allah melindungi saya. Masih sehat sampai sekarang,” ujarnya.

Saat Covid-19 di Jakarta sedang buruk-buruknya, Nasrul tidak hanya bekerja untuk mendapatkan uang. Dia juga berusaha memberikan kebahgaiaan kepada orang lain lewat keahliannya: membawa mobil dan pengetahuannya terhadap berbagai tujuan. Itu terjadi ketika dia mengantar penumpang yang positif terinfeksi Covid-19 pada Juli 2021.

Kisahnya berawal setelah dia menurunkan penumpang di kawasan Bintaro. Tak jauh dari rumah penumpang itu, salah seorang ibu-ibu meminta tolong agar suaminya dibawa ke rumah sakit. Saat itu dia tahu, penularan virus SARS-CoV-2 varian Delta sedang tinggi-tingginya. “Saya lihat dari mobil, suaminya sesak nafas. Sudah lemas. Mana anaknya juga masih kecil-kecil,” ingatnya.

Demi kemanusiaan, Nasrul bersedia mengantarkan keduanya. Namun, perjalanan nyatanya tak mudah. Berbagai rumah sakit di Bintaro, lalu di jalan TB Simatupang Jakarta Selatan, hingga Rumah Sakit Pusat Pertamina menolak. Sebab kamar penuh. Persediaan oksigen pun kosong.

“Pokoknya rumah sakit se-Jakarta Selatan semuanya sudah saya masukin. Mulai rumah sakit mewah sampai yang murah angkat tangan. Tenaga medis nggak ada yang berani pegang,” ungkapnya.

Iba dan kasihan dirasakan Nasrul. Pengobatan belum dapat, tapi duit semakin habis. Sebab, setiap masuk rumah sakit harus membayar parkir. Ditambah, argo yang terus berjalan. Dia ingat, sampai pukul 03.00 pagi tak kunjung mendapat pertolongan. Nasrul tak menampik kondisinya yang lelah. Apalagi, seharusnya taksi sudah kembali ke pool pukul 00.00.

Akhirnya, dia menyarankan opsi rumah sakit terakhir kepada penumpang suami-istri itu. Yakni ke rumah sakit EMC Tangerang. Benar saja, di sana mereka diterima dan mendapat perawatan. “Sayangnya, baru dirawat sehari, saya dikabari ibu itu kalau suaminya sudah nggak tertolong, meninggal,” terangnya.

Wakil Direktur Utama Blue Bird Andrianto Djokosoetono mengatakan banyak driver yang terus berjuang selama pandemi Covid-19. Dia sangat mengapresiasi itu. Dia juga menghormati keputusan para driver yang memilih pulang kampung.

Andri memaknai setiap PPKM adalah pembelajaran. Selama itu pula, perusahaan melakukan sejumlah adaptasi. Mulai meningkatkan SOP (standard operational procedure) dan menciptakan layanan baru untuk bisa bertahan.

Ada beberapa ide yang diwujudkan saat pandemi merebak. Misalnya, Blue Bird Kirim. Itu adalah fasilitas logistik dengan daya angkut sampai 200 kg di seluruh area operasional. Baik untuk kebutuhan personal sehari-hari masyarakat maupun bisnis seperti pengiriman dokumen kantor. “Sehingga menjaga kebutuhan masyarakat yang tidak bisa melakukan mobilitas. Bahkan kita bekerja sama dengan beberapa partner bisnis yang memang membutuhkan pengiriman,” jelas Andri melalui teleconference kepada Jawa Pos beberapa waktu lalu.

Ada pula, layanan Golden Bird Special Care bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan ekstra untuk pemeriksaan maupun penyembuhan virus Covid-19. Mengantarkan ke rumah sakit terdekat atau untuk tes PCR. Tentunya, dengan panduan protokol kesehatan yang ketat bagi pengemudi dan armada sesuai anjuran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan World Health Organization (WHO).

Setiap selesai operasional dan kembali ke pool, armada selalu dilakukan pembersihan intens dan berkala. Jika mengantarkan penumpang yang berpotensi positif Covid-19, driver menghubungi pool terdekat untuk melakukan pembersihan, mendapat vitamin, insentif tambahan, dan waktu istirahat beberapa hari.

Andri menjelaskan, di setiap pool sudah tersedia infrastruktur fasilitas kesehatan (faskes). Lengkap dengan para dokter umum, dokter spesialis, dan perawat. “Ada staf khusus yang melakukan SOP itu semua,” imbuhnya.

Blue Bird juga menjadi perusahaan transportasi umum pertama yang melakukan vaksinasi Covid-19 kepada para driver. Sudah 95 persen driver menerima vaksin lengkap. Hanya sebagian kecil yang terkendala komorbid.

Meski begitu, Andri mengakui bahwa, selama pembatasan ketat oleh pemerintah tak banyak armada yang beroperasi. Perusahaan memberikan izin kepada para driver yang memilih pulang kampung. Ketika mau kembali beroperasi lagi, perusahan juga menyediakan dan mempersiapkan armadanya.

Tentu dilakukan pendataan ulang, sosialisasi SOP, tes kesehatan ulang, dan vaksinasi bagi driver yang belum. “Kami tidak pernah merumahkan para pengemudi, tapi kami memberikan izin. Kami memahami itu. Di awal pandemi memang banyak yang memilih istirahat,” tandasnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: