JawaPos Radar

Indonesia Protes Australia Mau Pindah Kedutaannya ke Yerusalem

17/10/2018, 06:35 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
australia, yerusalem, israel, indonesia
ndonesia langsung bereaksi ketika PM Australia Scott Morrison mengeluarkan pernyataan untuk memindahkan kedutaan Australia di Israel ke Yerusalem (The Jerusalem Post)
Share this

JawaPos.com - Indonesia langsung bereaksi ketika PM Australia Scott Morrison mengeluarkan pernyataan untuk memindahkan kedutaan Australia di Israel ke Yerusalem. Perjanjian dagang bernilai 11 miliar Dolar AS diduga terancam tertunda. Pemerintah mempertimbangkan menunda perjanjian perdagangan terdekat dengan Australia sebagai reaksi atas pernyataan PM Australia Scott Morrison hari Selasa (16/10) yang menyebutkan negaranya "terbuka” atas kemungkinan untuk memindahkan kedutaan Australia di Israel ke Yerusalem, meski tetap berkomitmen dengan solusi dua negara, terkait posisi Palestina.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi secara terbuka mengatakan penolakan pemerintah Indonesia atas sikap Australia tersebut.

"Indonesia mendorong Australia dan negara lainnya untuk terus mendukung proses perdamaian dan tidak melakukan tindakan apapun yang dapat mengacaukan proses perdamaian dan keamanan global,” ungkapnya usai melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki yang berkunjung ke Jakarta.

australia, yerusalem, israel, indonesia
Indonesia mendorong Australia dan negara lainnya untuk terus mendukung proses perdamaian dan tidak melakukan tindakan apapun yang dapat mengacaukan proses perdamaian (AP)

Menurut media Australia ABC, Menteri Luar Negeri Marise Payne telah melakukan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi melalui telepon Selasa pagi (16/10). Berdasarkan laporan ABC, Retno Marsudi disebutkan ‘memborbardir' Marise Payne dengan pesan yang menunjukkan keprihatinannya atas sikap Australia. Kedua menteri itu pun disebutkan akan segera bertemu muka.

Kenapa Australia bergantung?

Ada kekhawatiran yang muncul di Australia, sebagai reaksi atas niatan PM Scott Morrison tersebut maka Indonesia akan menunda perjanjian dagang bernilai sekitar 11 miliar Dolar AS. Namun Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita menampik dugaan tersebut. Dalam pesan singkatnya dengan Reuters, Enggartiasto menyebutkan bahwa "tidak ada hal demikian,” sambil menambahkan bahwa perjanjian perdagangan itu tetap akan ditandatangani akhir tahun ini

Awal pembicaraan mengenai perdagangan bebas dengan Indonesia disepakati Agustus lalu ketika Scott Morrison melakukan kunjungan internasional pertamanya sebagai Perdana Menteri Australia. Proses perjanjian dagang biliteral itu telah berlangsung selama delapan tahun.

Petani gandum Australia akan menuai untung karena Indonesia bersedia menerima impor bebas tarif atas gandum sebanyak 500.000 ton. Perjanjian tersebut juga jadi lampu hijau bagi universitas dan sekolah tinggi Australia untuk membuka cabangnya di Indonesia. Sebagai timbal baliknya, Australia akan membuka akses yang luas untuk pekerja dari Indonesia serta mendukung industri kelapa sawit di tanah air.

Indonesia tidak sendirian

Reaksi keras tentang rencana pemindahan Kedutaan besar ke Yerusalem tidak hanya datang dari Indonesia. Negara-negara di semenanjung Arab juga menyuarakan keprihatinan yang sama. Duta Besar Mesir untuk Australia Mohammed Khairat menyebutkan, 13 negara Arab akan melakukan pertemuan di Canberra hari Selasa (16/10).

"Setiap keputusan demikian dapat merusak proses perdamaian…Ini dapat menimpulkan dampak yang sangat negatif atas hubungan Australia, tidak saja dengan negara-negara Arab tapi juga negara Islam lainnya ," ungkap Mohammed Khairat kepada ABC.

Sementara itu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui akun Twitternya mencuit bahwa ia "sangat berterima kasih” atas kemungkinan perubahan kebijakan Australia tersebut.

Hingga kini Australia belum memutuskan secara resmi proposal PM Australia Scott Morrison tersebut. Komentar Morrison tersebut memang sarat muatan politik, sebab yang mengusulkan niatan tersebut adalah Dave Sharma, mantan duta besar Australia di Israel yang maju sebagai kandidat dalam pemilihan parlemen untuk Partai Liberal. PM Australia membutuhkan Sharma untuk meraih suara di distrik terkaya di Sydney, Wentworth yang mayoritas berpenduduk Yahudi. Jika Sharma kalah, maka pemerintahan Morisson akan kehilangan kekuatan di parlemen.

Namun jika akhirnya Australia memutuskan memindahkan kedutaan besarnya di Israel ke Yerusalem, maka Negara Kangguru itu akan menjadi negara ketiga di dunia yang mendudukan negaranya di kawasan sengketa setelah Amerika Serikat dan Guatemala. April lalu keputusan AS untuk merelokasi kedutaannya telah menyebabkan bentrokan antara warga Palestina dengan pasukan Israel di perbatasan Gaza.

ts/hp (abc, dpa, ap, afp)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up