JawaPos Radar

Tiongkok Gunakan Kecerdasan Buatan Awasi Minoritas Muslim

11/09/2018, 13:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
minoritas muslim
Pemerintah Tiongkok dituding menempatkan jutaan etnis minoritas muslim dalam program pengawasan massal dan menahan ratusan ribu warga dalam kamp re-edukasi. Beijing membantah laporan tersebut (Mashable)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah Tiongkok dituding menempatkan jutaan etnis minoritas muslim dalam program pengawasan masal dan menahan ratusan ribu warga dalam kamp re-edukasi. Namun, Beijing membantah laporan tersebut.

Usai mendapat kecaman dari organisasi HAM Human Rights Watch (HRW), Pemerintah Tiongkok kini menyerang balik dengan mengklaim HRW telah memfitnah Beijing terkait perlakuan terhadap minoritas muslim di provinsi Xinjiang. Xinjiang merupakan kampung halaman untuk sekitar 13 juta warga etnis Uighur yang mayoritasnya beragama Islam. HRW sebelumnya menuding Tiongkok menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan big data untuk mengawasi etnis Uighur.

Menurut Direktur HRW Tiongkok Sophie Richardson, pelanggaran HAM itu dilakukan dalam skala yang belum pernah disaksikan di Tiongkok selama beberapa dekade terakhir. "Pelanggaran HAM di Xinjiang saat ini, belum pernah terjadi di Tiongkok sejak Revolusi Budaya 1966-1976." Atas tudingan itu, Kementerian Luar Negeri di Beijing menilai HRW berprasangka buruk pada pemerintah Tiongkok.

minoritas muslim
Pemerintah Tiongkok kini menyerang balik dengan mengklaim HRW telah memfitnah Beijing terkait perlakuan terhadap minoritas muslim di provinsi Xinjiang (Reuters)

Juru Bicara Kemenlu Geng Shuang mengatakan, situasi di Xinjiang cukup stabil. Namun dia mengaku pihaknya akan mengambil langkah tegas terhadap aktivis kemerdekaan di sana.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri bertolak belakang dengan laporan setebal 125 halaman yang dipublikasikan HRW. Menurut penelitian PBB, Tiongkok menahan ratusan ribu anggota etnis Uighur dan Kazakh di kamp re-edukasi atau yang secara resmi disebut 'pusat penanggulangan terorisme'. Mereka mendekam di sana tanpa melalui proses pengadilan.

HRW menyatakan, para tahanan dipaksa menyanyikan lagu yang memuji Presiden Xi Jinping dan Partai Komunis Tiongkok, serta belajar bahasa Mandarin. Mereka yang menolak akan dihukum, dan dalam sejumlah kasus mengalami penyiksaan.

Riset HRW dilakukan dengan wawancara terhadap 58 mantan terpidana 'terorisme' yang kini mengungsi ke Kanada, Finlandia, Prancis, Jerman, dan sejumlah negara lain. Lantaran masalah keamanan organisasi yang bermarkas di New York, AS, itu tidak bisa melakukan riset langsung di lapangan.

Adapun warga Uighur yang tidak ditahan di kamp re-edukasi juga menjadi korban pengawasan, termasuk wajib untuk mengumpulkan DNA dan sampel suara. Tujuannya memang untuk mengidentifikasi dan mengawasi semua orang di Xinjiang.

Kampanye antiterorisme yang diluncurkan Tiongkok pada Mei 2014 dipraktikkan secara komprehensif di Xinjiang sejak 2016 di bawah kekuasaan Sekretaris Partai Komunis Xhen Quanguo, yang sebelumnya bekerja di Tibet.

Di dalam negeri, pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa perlakuan warga minoritas muslim ditujukan untuk menyembuhkan penyakit ideologi dan menggambarkan kamp re-edukasi sebagai pusat pelatihan vokasi.

rzn/yf (dpa,ap)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up