Duterte Tuding Oposisi Rencanakan Kudeta

11/09/2018, 21:04 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengklaim memiliki informasi dari sebuah "negara asing" bahwa oposisi bersekongkol dengan pemberontak Komunis dan perwira militer untuk menggulingkan kekuasaannya (Macau Business)
Share this

JawaPos.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengklaim memiliki informasi dari sebuah "negara asing" bahwa oposisi bersekongkol dengan pemberontak Komunis dan perwira militer untuk menggulingkan kekuasaannya. Dalam sebuah percakapan dengan kuasa hukum pribadi yang disiarkan di televisi nasional, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengungkap dirinya meminta militer memberikan informasi "rahasia" terkait rencana kudeta tersebut. Dia mengklaim informasi itu didapar dari "negara asing".

"Kami punya bukti dan kami memiliki rekaman pembicaraan yang disediakan sebuah negara asing yang bersimpati pada kami," katanya kepada Salvador Panelo, kuasa hukum kepresidenan.

Duterte mengklaim oposisi menjalin "komunikasi secara terus menerus" dengan kelompok Komunis, termasuk dengan seorang senator yang ingin dia tangkap setelah mencabut amnestinya. "Koneksi gelap itu akan terungkap dalam beberapa hari ini," ujarnya.

Pekan lalu Duterte mencabut amnesti terhadap Senator Antonio Trilanes, bekas perwira angkatan laut yang melakukan kudeta gagal 15 tahun silam (Today Online)

Pekan lalu sang presiden mencabut amnesti terhadap Senator Antonio Trilanes, bekas perwira angkatan laut yang melakukan kudeta gagal 15 tahun silam. Trillanes merupakan tokoh oposisi paling berpengaruh.

Namun rekan separtai Trillanes, Gary Alejano, yang juga ikut serta dalam kudeta gagal tersebut menampik tudingan presiden soal penggulingan kekuasaan. Dia menegaskan pihaknya hanya melakukan tugas sebagaimana "anggota oposisi di bawah sistem pengawasan terhadap pemerintahan yang demokratis."

Alejano sebaliknya menuding Duterte berusaha "mengalihkan perhatian publik dari situasi buruk perekonomian."

Militer Filipina sendiri buru-buru menepis kabar adanya "pergerakan pesawat militer dan kendaraan lapis baja secara besar-besaran" oleh para pembelot. Menurut Jurubicara militer, Edgard Arevalo, "pergerakan terebut adalah hal rutin dan telah dikoordinasikan sesuai prosedur," ujarnya sembari menambahkan, "tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

rzn/yf (rtr,afp)

Berita Terkait

Rekomendasi