JawaPos.com - Tato wajah telah menjadi bagian dari budaya Maori selama berabad-abad. Itu merupakan penanda suci dari silsilah dan warisan pemakainya. Tapi desain tato di dagu seorang wanita bernama Sally Anderson atau disebut tato Moko telah menimbulkan perdebatan di Selandia Baru, sebab dia berkulit putih, dan bukan keturunan Maori.
Anderson memang menikah dengan pria Maori dan mengatakan, mokonya melambangkan perjuangan pribadinya dan kisah hidupnya. Tapi dia dituduh telah menerapkan budaya Maori demi keuntungan pribadi.
"Kami harus melindungi benteng terakhir yang kami miliki sebagai Maori untuk membuat kami berbeda," kata seorang pakar Maori dilansir BBC, Kamis, (24/5).
Moko berbeda dengan tato modern, moko diukir di kulit menggunakan pahat. Dikenal sebagai tradisi suci, yang menunjukkan hubungan seseorang dengan keluarga dan identitas budaya mereka.
Moko sangat penting bagi Maori. Laki-laki moko cenderung menutupi seluruh wajah mereka, sementara perempuan hanya menutupi dagunya. "Maori menganggap wajah atau kepala itu sangat sakral," kata Mera Lee Penehira, profesor di Te Share Wananga o Awanuiārangi.
"Jadi ukiran yang menempel di wajah atau kepala juga sangat sakral," tambahnya.
Menurut Lee Penehira, tato wanita tersebut tidak bisa diterima. "Kalian hanya bisa memilikinya jika kalian memiliki silsilah yaitu keluarga Maori," ujarnya.
Mengenai hal ini, Anderson belum berkomentar sama sekali. Suaminya, Roger Te Tai, seorang Maori dan memiliki moko wajah penuh mengatakan kepada acara TV Te Karere bahwa dia butuh waktu beberapa saat untuk menerima keinginannya untuk mempunyai tato. Namun, ia berkata, istrinya lebih Maori dari dirinya.