← Beranda

Mudahnya Berpuasa di Leeds Meski Berdurasi 18 Jam

Dhimas GinanjarSelasa, 12 Juni 2018 | 00.15 WIB
Suasana berbuka bersama di University of Leeds

JawaPos.com - Tak seperti puasa-puasa di tahun sebelumnya, kali ini saya harus beradaptasi dengan beberapa hal kontras selama Ramadan di Leeds, Britania Raya. Mulai durasi puasa yang lebih panjang yakni sekitar 18 jam, hingga tak terdengar lantangnya suara azan ketika Maghrib tiba. Itu semua harus saya jalani selama menempuh pendidikan S2 di Britania Raya.


Jika di tanah air, suara azan dari masjid-masjid sekitar menjadi penanda sahur maupun berbuka, kini saya harus mengandalkan alarm. Supaya masih dapat nuansa Ramadan, saya setel suara azan dari aplikasi telepon genggam sebagai alarm. Oh iya, di Leeds saat ini sedang musim semi. Matahari sudah terbit sejak 04.30 dan terbenam sekitar pukul 21.30 setiap harinya.


Jeda antara berbuka dan sahur yang pendek harus bisa disiasati agar tak menjadi kendala. Di awal-awal Ramadan, saya bangun sahur dengan susah payah. Bahkan, rasanya sulit menciptakan nafsu makan karena memang masih terasa sangat kenyang. Bayangkan saja, saya baru selesai makan sekitar pukul 23.00 BST dan harus kembali makan pukul 02.30 BST hingga sebelum subuh pada 03.20. Rasanya, tak menyisakan ruang kosong di perut.


Setelahnya, saya menyiasati dengan makan berbuka seadanya, lalu makan berat saat sahur. Atau kebalikannya. Ketika sedang lapar-laparnya saat berbuka, maka saya hanya akan makan roti dan buah saat sahur. Pokoknya, saya pastikannya hanya mendapat asupan air yang cukup sehingga tidak dehidrasi.


Sulit dong puasa selama itu? Jawabannya ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya. Mungkin juga didukung oleh suhu udara yang sejuk dan cuaca yang lebih sering mendung daripada panas terik. Hingga memasuki hari ke 23, tak sekalipun saya kehausan atau merasakan lapar yang teramat sangat. Semua berjalan normal. Alhamdulillah.


Adaptasi tidak hanya dilakukan dengan cara makan dan membiasakan diri bergantung pada aplikasi atau jadwal dari masjid yang tersimpan rapi di telepon genggam. Tapi juga jam tarawih. Salat Isya berjamaah baru dimulai pukul 23.00 BST. Tarawih dimulai sekitar pukul 23.15 BST. Jadi, bisa dibayangkan dong pukul berapa selesainya Tarawih di sini.


Setiap harinya, Tarawih dilakukan dengan 23 rakaat. Salat Tarawih di sini baru selesai sekitar pukul 00.40 BST dini hari. Untungnya, rumah saya hanya berjarak tiga menit dari masjid. Rejeki yang tidak dimiliki oleh banyak muslim di luar negeri. Kehadiran masjid di Leeds bisa dihitung dengan jari. Itulah kenapa, ketika kamu bisa memandang bangunan masjid dari jendela kamar, jelas itu rejeki luar biasa.


Besarnya Toleransi Selama Ramadan


Kebiasaan berbagi makanan berbuka dan takjil tidak hanya berlangsung di masjid-masjid Tanah Air. Tetapi juga di sini. Apabila mampir saat berbuka puasa, sudah pasti sepiring nasi Briyani sudah tersaji lengkap dengan air putih dan jus kemasan. Bahkan, jika hanya melintas di depan masjid sekitar pukul 22.00 BST dipastikan ada bapak-ibu yang membagikan takjil di dalam plastik secara cuma-cuma bagi siapa saja yang lewat. Isinya? Beberapa buah samosa kari.


Hal ini jauh dari apa yang pernah terlintas dalam bayangan saya. Hangatnya bulan Ramadan terasa membalut erat meski saya di sini adalah minoritas. Bayangkan saja, sekitar pukul 22.30 BST sekitar rumah saya akan ramai dengan orang berjalan kaki menuju masjid. Belum lagi puluhan mobil akan parkir dan memadati pinggir-pinggir jalan. Persis seperti di Indonesia. Padahal saya sedang di Inggris, yang mayoritas penduduknya beragama Kristiani.


Belum lagi dukungan dari sesama muslim lainnya yang tak sengaja bertemu di pasar atau di pusat kota. Pernah suatu waktu saya dan seorang teman sedang berbelanja buah dan sayur di pasar tradisional Leeds. Namanya, Leeds Kirkgate Market. Saat hendak membayar, ternyata sang bapak pemilik lapak bisa berbahasa Indonesia dan menyadari wajah saya yang katanya sangat Indonesia.


Setelah berbincang dan berkenalan, sang bapak malah menyelipkan tiga sisir pisang dengan pesan: “Untuk berbuka puasa nanti ya, jangan lupa dibagi dengan teman-teman Indonesia lainnya,”.


Pernah juga suatu waktu, saya dan seorang teman sedang ngabuburit di taman kampus. Saat kami sibuk foto-foto, seorang bapak lewat dan tertarik dengan alat yang kami gunakan untuk berfoto. Setelah berbincang dan tahu kami mahasiswa Indonesia yang sedang menanti berbuka puasa, sang bapak memberikan sebuah pisang dari kantong bekal makannya. Dia berpesan agar dibagi berdua untuk berbuka puasa. ’’Semoga puasanya lancar hari ini,” katanya. 


Dukungan selama Ramadan juga datang dari universitas tempat saya bersekolah. Di portal mahasiswa dan sosial medianya, University of Leeds turut serta menyambut Ramadan dengan memberikan tips-tips menjalani puasa panjang di UK. Selain juga menyediakan fasilitas pendukung bagi mahasiswanya yang sedang berpuasa.


Salah satu fasilitas yang terbuka dan menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa di University of Leeds untuk bersantai adalah Leeds University Union (LUU). Terletak di tengah kampus dan merupakan gedung segala aktivitas mahasiswa nonakademik berlangsung. Sepanjang bulan Ramadan, LUU menyediakan sebuah ruangan berisi bean bag dan kertas mewarnai lengkap dengan pinsil warnanya bagi siapa saja yang sedang berpuasa dan butuh ruangan istirahat sejenak dari aktivitas perkuliahan.


Setiap Selasa selama Ramadan, LUU sebagai perwakilan pihak kampus bekerja sama dengan Islamic Student Society menggelar buka puasa bersama secara gratis. Di sini lah tempat saya mencari suara azan yang menggema lantang. Hal lain yang membuat saya terkesima.


Di dalam fasilitas kampus, saat Maghrib tiba, seseorang akan mengambil posisi menghadap kiblat dan melantunkan azan dengan lantang. Lalu, dilanjutkan berbuka dengan kurma dan minuman yang telah disediakan. Setelahnya bergegas ke salah satu ruangan yang telah disediakan untuk salat Maghrib berjamaah.


Setelah salat, sudah tersedia makanan mulai dari pizza, sandwich, potato wedges hingga root vegetable chips dalam jumlah banyak. Siapapun boleh datang dan dipersilahkan makan Bersama. Bahkan jika masih tersisa, maka saat pulang kita boleh membawa pulang makanan yang kita inginkan.


Rasanya begitu hangat. Percayalah. Ketika kamu berdiri di negeri orang sebagai minoritas, namun dukungan yang kamu rasakan untuk dapat menjalani ibadahmu dengan lancar dan lebih ringan datang dari banyak pihak, ada rasa syukur yang tak pernah putus. Toleransi yang mereka lakukan terasa begitu besar bagi kami, para Muslim di sini.


Sejak awal saya tinggal di Leeds memang saya merasa kota ini begitu ramah dengan Muslim. Dengan mudahnya saya menemukan toko daging halal, restoran berlabel halal hingga berdirinya dua masjid di sekitar kota yakni Leeds Grand Mosque dan Makkah Masjid. Belum lagi di kampus, tersebar beberapa ruangan yang berperan sebagai musola kecil sehingga tidak ada kendala untuk salat selama sedang sibuk beraktivitas di kampus.


Namun tak disangka, segala kemudahan dan dukungan itu juga terjadi saat Ramadan. Mungkin saya dan teman-teman Muslim di sini beruntung tinggal di Leeds. Berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana toleransi itu dibangun bagi siapa saja dengan tidak memandang ras, suku, bangsa bahkan agama. Satu pengalaman berpuasa yang mengajarkan banyak hal dan membuka mata akan pentingnya toleransi.


Berpeluang menjadi minoritas yang dihargai dan dihormati kepercayaan dan tradisinya, sehingga nantinya ketika kami kembali ke Tanah Air dan kembali menjadi pihak mayoritas, kami sudah berbekal pengalaman untuk berbagi dan memberikan tempat yang sama layaknya bagi saudara-saudara kami lainnya yang mungkin masih minoritas.


Leeds mengajarkan bahwa toleransi harus dibangun untuk dapat menciptakan suasana rukun dan damai. Menjadikan siapapun merasa Leeds sebagai rumahnya, bukan lah turis atau pelajar asing yang tinggal sementara. Sebagai balasannya, kami yang merasa disejajarkan tempatnya dengan penduduk lokal sini pun merasa memiliki Leeds, tergerak untuk menjaga dan melindunginya sebagaimana rumah sendiri.


Ditulis oleh:


Namira Daufina


Mahasiswi S2 jurusan MA New Media, University of Leeds, UK, Sekretaris PPI Leeds dan anggota PPI Dunia


Untuk JawaPos.com

EDITOR: Dhimas Ginanjar