← Beranda

8 Duta Besar yang Bernasib Sama Dengan Andrei Karlov

Ilham SafutraKamis, 22 Desember 2016 | 04.24 WIB
Dubes Rusia untuk Turki, Andrei Karlov

JawaPos.com – Jabatan Duta Besar (Dubes) ternyata memiliki risiko tinggi. Nyawa mereka bisa terancam apalagi saat bertugas untuk negara konflik, seperti Timur Tengah.



Baru-baru ini perkembangan suasana politik di Rusia semakin memanas setelah pada Senin (21/12) waktu setempat, Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrei Karlov, ditembak di galeri seni Ankara. Insiden tersebut diduga terkait konflik campur tangan Rusia di Suriah.



Rupanya kasus ini bukan kali pertama duta besar menjadi "tumbal" atas negaranya yang berkonflik.



Pada 2012, Dubes Amerika Serikat (AS) untuk Libya, Chris Stevens, juga dibunuh di Benghazi terkait konflik Timur Tengah.



Duta besar dibunuh karena mereka mewakili negara mereka. Para diplomat adalah fasilitator untuk kebijakan negara mereka.  



Antara 1968 dan 1979, lima duta besar AS tewas dalam menjalankan tugas, tiga dari mereka di Timur Tengah, satu di Siprus dan satu di Guatemala, negara di mana AS dituduh campur tangan.



Turki juga memiliki daftar panjang diplomat tewas akibat konflik, termasuk empat dubes yang dibunuh antara tahun 1973 dan 1994 oleh organisasi militan Armenia sebagai balas dendam atas genosida Armenia 100 tahun yang lalu.



Pada tahun 1829, duta besar Rusia di Teheran, salah satu penulis paling dihormati di negara itu , Alexander Griboedov tewas dalam kerusuhan setelah memenangkan perang melawan Persia.



Setelah penembakan Karlov, Rusia mendapatkan reaksi dari Menteri Luar Negeri Ukraina Pavlo Klimkin dalam kicauannya.



“Rusia harus bertanggung jawab dengan banyaknya kejahatan kemanusiaan dan pembunuhan hingga berjatuhan korban tewas di Suriah dan Ukraina,” katanya dalam kicauannya dilansir Bloomberg, Selasa (20/12).



Beberapa dari kelompok teroris yang mengatasnamakan islam membenci Rusia dan AS. Polisi Turki yang menembak Karlov adalah pendukung kuat dari para pemberontak tentara Suriah.



Meskipun negara sekuler Barat tidak terlalu ikut campur dalam konflik di Suriah, tetap saja mereka semua menjadi target bagi teroris. Rusia terlibat di Suriah untuk mengimbangi permusuhan dengan AS.



Apapun itu aksi penembakan tersebut harus dikutuk. Semua ini masih dalam analisa internasional.



Secara umum, kekuatan campur tangan negara barat di Timur Tengah saat ini akan terancam seperti pada era 1970-an dan awal 1980-an dimana banyak duta besar dibunuh. Perang juga telah membuat puluhan juta orang mengungsi.



Namun insiden ini tidak menyebabkan keretakan terlihat antara Rusia dan Turki. (cr1/JPG)

EDITOR: Ilham Safutra