alexametrics

Boikot Terkait Iklan di Media Sosial Makin Meluas

30 Juni 2020, 13:46:28 WIB

JawaPos.com – Perusahaan media sosial terus mendapat sorotan terkait dengan ujaran kebencian. Perusahaan besar memutuskan untuk menangguhkan penggunaan iklan di Facebook, Twitter, dan lain-lain. Starbucks adalah perusahaan terbaru yang mengikuti jejak raksasa bisnis lainnya.

Raksasa jaringan gerai kopi itu mengumumkan keputusannya pada Minggu (28/6). Mereka mencabut semua iklan di media sosial, kecuali YouTube milik Google. Ke depannya, mereka juga berkoordinasi dengan rekanan media dan organisasi hak sipil untuk tetap melawan ujaran kebencian.

’’Kami percaya bahwa komunitas harus bersatu, baik di dunia nyata maupun maya,’’ ujar jubir Starbucks kepada BBC.

Starbucks mengikuti perusahaan global lainnya seperti Coca-Cola, Diageo, dan Unilever. Mereka menyatakan bahwa itulah sanksi karena perusahaan media sosial tidak bertanggung jawab atas konten yang beredar di dalam platform.
Penyebabnya, Facebook memilih tidak menindak beberapa konten ujaran kebencian. Lantas, lahir gerakan #StopHateForProfit yang diikuti 150 perusahaan. Starbucks dan Coca-Cola mengaku tidak mengikuti gerakan tersebut meski ikut memboikot iklan di media sosial.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru mengulangi kesalahan yang sama di media sosial. Tokoh yang sering tersandung karena konten ujaran kebencian dan manipulatif itu me-retweet video kontroversial. Dalam video tersebut, seorang pria meneriakkan white power alias kekuatan kulit putih. Meski video itu dicabut tiga jam kemudian, publik telanjur marah.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c14/dos)



Close Ads