alexametrics

Intelijen AS Sebut Tiongkok dan Rusia Ingin Pengaruhi Pilpres AS 2020

30 Januari 2019, 17:45:04 WIB

JawaPos.com – Intelijen Amerika Serikat (AS) mengatakan, Korea Utara (Korut) tidak mungkin menyerahkan sepenuhnya senjata nuklirnya. Ini terlepas dari harapan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Laporan dari The Worldwide Threat Assessment Report mengatakan, Iran tidak membuat senjata nuklir. Namun ancaman cyber dari Tiongkok dan Rusia semakin mengkhawatirkan.

Direktur Intelijen Nasional, Dan Coats dan para kepala intelijen lainnya menyerahkan laporan-laporan tersebut kepada Senat AS pada hari Selasa (29/1). Laporan itu juga mengatakan baik Rusia dan Tiongkok mungkin berusaha mempengaruhi pemilu 2020.

intelijen as, tiongkok, rusia, pilpres as, as,
Tiongkok dan Rusia memiliki kemampuan 'spionase cyber' yang canggih, yang dapat mereka coba gunakan untuk mempengaruhi pemilihan presiden AS tahun 2020 (Forex News)

Mereka yakin, Korut tak akan melepaskan persediaan senjata nuklir dan kemampuan mereka memproduksinya. Korut berusaha untuk menegosiasikan langkah-langkah denuklirisasi untuk mendapatkan konsensi penting dari AS dan internasional. Namun sesungguhnya memiliki senjata nuklir dipandang penting bagi kelangsungan hidup rezim Kim Jong Un.

Seperti dilansir BBC, Trump dijadwalkan bertemu Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un pada bulan Februari mendatang. Mereka sebelumnya bertemu di Singapura Juni lalu untuk membahas denuklirisasi Semenanjung Korea, tetapi sejak saat itu hanya sedikit kemajuan yang dicapai.

Selain Korut, yang paling disorot dalam laporan intelijen adalah ancaman dari Tiongkok dan Rusia. Kedua negara memiliki kemampuan ‘spionase cyber’ yang canggih, yang dapat mereka coba gunakan untuk mempengaruhi pemilihan presiden AS tahun 2020.

Laporan itu juga mengatakan Iran saat ini tidak membuat senjata nuklir. Meskipun mereka mengatakan ambisi regional dan peningkatan kemampuan militer negara itu mungkin akan mengancam kepentingan AS di masa depan.

Presiden Trump menarik AS dari kesepakatan penting untuk mengekang ambisi nuklir Iran pada 2018. AS telah menjatuhkan sanksi yang lebih keras.

Direktur CIA Gina Haspel mengatakan Iran secara teknis, mematuhi dengan kesepakatan nuklir 2015, meskipun AS telah menarik diri.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : Verryana Novita Ningrum

Intelijen AS Sebut Tiongkok dan Rusia Ingin Pengaruhi Pilpres AS 2020