alexametrics

Negara G7 Dukung Otonomi Hongkong, Tiongkok: Bukan Urusan Pihak Asing

29 Agustus 2019, 18:58:32 WIB

JawaPos.com – Tiongkok meradang setelah negara-negara G7 mengeluarkan pernyataan bersama mendukung penuh otonomi Hongkong. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan puncak KTT G7 di Biarritz, Prancis. KTT G7 sendiri telah berakhir pada Senin (26/8) lalu.

Para pemimpin negara-negara G7 (Inggris, Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, AS) mendukung otonomi Hong Kong sebagaimana tercantum dalam perjanjian tahun 1984 antara Inggris dan Tuiongkok. G7 juga menyerukan agar situasi di Hongkong lekas kembali normal dan tenang.

Pernyataan bersama itu ternyata membuat Tiongkok tidak senang. Bahkan, Tiongkok terang-terangan menegaskan bahwa apa yang terjadi di Hongkong adalah urusan internal dan menolak intervensi pihak asing. Dalam artian, Tiongkok meminta pihak asing untuk tak terlibat atau terlalu dalam mengurusinya.

“Kami menyatakan ketidakpuasan dan menolak dengan tegas pernyataan yang dibuat oleh para pemimpin KTT G7 tentang urusan Hongkong,” sebut juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang pada konferensi pers di Beijing.

“Kami telah berulang kali menekankan bahwa urusan Hongkong adalah murni urusan dalam negeri Tiongkok dan tidak ada pemerintah asing, organisasi, atau individu yang memiliki hak untuk melakukan intervensi,” tegas Geng.

Geng bahkan menilai pihak asing, terutama G7, sengaja ingin mencampuri karena menyembunyikan tujuan tertentu terkait situasi di Hongkong. Hal itu disuarakan Geng karena merasa bahwa pihak asing, dalam hal ini G7, sudah mencoba mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok soal Hongkong.

Sejauh ini, Tiongkok belum melakukan langkah nyata terkait kerusuhan di kota semi-otonom tersebut. Padahal, eskalasi protes makin meningkat. Kekhawatiran yang muncul, Tiongkok bakal bertindak secara militer untuk mengatasi kekerasan.

Sementara itu, kepala eksekutif Hongkong Carrie Lam mengatakan bahwa protes anti-pemerintah telah menjadi masif. Namun, pemerintah yakin bisa mengatasi krisis mereka sendiri. Lam mengaku tengah berupaya untuk mencari jalan keluar dengan melakukan rekonsialisi.

“Kami harus mempersiapkan rekonsiliasi dengan berkomunikasi yang baik. Kami ingin mengakhiri situasi kacau di Hongkong sesegera mungkin,” sebut Lam seperti dilansir Al Jazeera.

Editor : Edy Pramana

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads