Tiongkok Bakal Miliki Vaksin mRNA seperti AS, Manjur Lawan Covid-19

29 Juni 2022, 13:07:03 WIB

JawaPos.com – Amerika Serikat sudah memiliki 2 vaksin Covid-19 dengan metode mRNA yakni Pfizer dan Moderna. Tiongkok tak mau ketinggalan dan mengembangkan vaksin Covid-19 dengan metode serupa. Vaksin tersebut dikenal dengan ArCoV.

Tiongkok segera menyetujui vaksin mRNA pertamanya untuk melindungi orang dari Covid-19. Dalam uji klinis kecil, kandidat vaksin tersebut diklaim memicu respons antibodi yang lebih kuat pada orang dewasa sebagai booster dibanding vaksin virus tak aktif seperti Sinovac.

ArCoV menjadi kandidat kuat vaksin mRNA pertama yang disetujui di Tiongkok. Vaksin mRNA diklaim efektif mengurangi kemungkinan infeksi serius akibat Covid-19 dan butuh perawatan di rumah sakit.

Sejauh ini, regulator obat Tiongkok telah menyetujui tujuh vaksin Covid-19. Sebagian besar penduduk Tiongkok sudah divaksinasi dengan salah satu dari 2 vaksin virus yang tidak aktif, baik CoronaVac dari Sinovac atau BBIBP-CorV dari Sinopharm.

Vaksin virus yang tidak aktif efektif dalam mengurangi risiko rawat inap dan kematian, tetapi memberikan perlindungan yang lebih sedikit daripada 2 vaksin mRNA yang dikembangkan oleh Pfizer–BioNTech dan Moderna.

“Dari data semua vaksin Covid-19 yang tersedia di dunia, teknologi mRNA tampaknya lebih baik dibandingkan dengan teknologi lain,” kata ahli virologi di Jinan University di Guangzhou, Tiongkok, Feng Gao.

Tetap Impor dari AS

Tiongkok telah merencanakan untuk mengimpor vaksin mRNA buatan Pfizer-BioNTech. Pada awal Maret 2020, sebuah perusahaan obat yang berbasis di Shanghai, Fosun Pharma, membuat kesepakatan dengan BioNTech untuk menjual vaksinnya di daratan Tiongkok dan di Hongkong setelah regulator memberi lampu hijau produk tersebut. Tetapi, persetujuan vaksin yang sangat efektif masih tertunda, meski data dari uji coba fase II di Tiongkok menunjukkan bahwa vaksin memicu respons imun yang kuat dan aman digunakan pada orang dewasa.

“Alasan penundaan tidak jelas, tetapi kemungkinan bersifat politis,” kata spesialis kebijakan kesehatan Tiongkok di Dewan Hubungan Luar Negeri di New York City, Yanzhong Huang.

Dia menambahkan bahwa pemerintah Tiongkok mungkin lebih memilih vaksin mRNA pertamanya seperti ARCoV. Data yang ada sejauh ini hanya 60 persen orang berusia 60 tahun ke atas yang menerima suntikan booster, yang berarti 100 juta orang dalam kelompok usia tersebut belum menerimanya. Cakupan booster jauh lebih rendah pada mereka yang berusia 80 tahun ke atas, kurang dari 20 persen dari mereka telah menerima suntikan booster pada Maret, ketika gelombang Omicron mulai meningkat.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini: