JawaPos Radar

Didiagnosa Kanker Testis di Otaknya, Jordan tak Putus Asa

28/08/2018, 04:00 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Didiagnosa Kanker Testis di Otaknya, Jordan tak Putus Asa
Belum selesai sampai di situ, bulan lalu Jordan dan keluarganya diberi kabar buruk bahwa tumornya telah tumbuh kembali. Pilihan satu-satunya Jordan sekarang adalah operasi otak berisiko tinggi yang dapat membunuhnya atau membuat permanen buta, atau lumpuh (Mirror)
Share this image

JawaPos.com - Jordan Payne, 23 tahun, merasa ngeri ketika mengetahui bahwa ia memiliki tumor otak kuman suprasellar, tempat sel kanker testis tumbuh di kelenjar pituitari otaknya. Dilansir Mirror pada Minggu, (26/8), sebelumnya Payne memang memiliki perubahan perilaku. Pacar dan keluarganya merasa Payne menjadi sering lupa, dan kekebalan tubuhnya juga menurun.

Dia jadi sering sakit. Lalu keluarga menyarankan Payne untuk melakukan CT Scan. Setelah CT Scan dilakukan pada Maret 2017, Jordan dan keluarganya diberi berita buruk tentang adanya massa kanker, yang menurut dokter sudah menyerupai ukuran bola golf di kelenjar pituitari otaknya. "Ketika dokter memberi tahu kami bahwa mereka telah menemukan tumor, itu adalah hari terburuk dalam hidupku. Rasanya tidak hanya mengerikan. Ini telah mengubah saya, dan kita tidak punya pilihan, kita hanya harus menghadapi apa yang akan terjadi,” ujarnya.

Pemindaian Jordan menunjukkan otaknya membengkak, hampir menutupi seluruh permukaan tengkoraknya. Sejak didiagnosis, Jordan harus menyerah dengan pekerjaannya di bidang konstruksi.

Dia telah menjalani empat putaran kemoterapi, enam operasi otak serta 44 putaran radioterapi. Efek samping dari serangkaian pengobatannya adalah kehilangan sebagian memori dan juga epilepsi.

Belum selesai sampai di situ, bulan lalu Jordan dan keluarganya diberi kabar buruk bahwa tumornya telah tumbuh kembali. Pilihan satu-satunya Jordan sekarang adalah operasi otak berisiko tinggi yang dapat membunuhnya atau membuat permanen buta, atau lumpuh.

"Saya harus tetap positif. Jika saya tidak, saya akan putus asa. Saya harus tetap kuat untuk saya dan keluarga saya," ujarnya optimistis.

Ibunya Jordan, Ellen Payne, 40 tahun, mengatakan, dalam kasus Jordan, benih untuk membentuk testis berjalan dari otak ke tulang belakang dan alat kelamin, namun tidak semua benih bergerak dari otak dan bertahan selama bertahun-tahun, akhirnya menjadi kanker.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up