alexametrics

Sri Lanka dan Bibit-Bibit Terorisme

Meledak karena Lama Dibiarkan
28 April 2019, 15:45:36 WIB

JawaPos.com – Bagi Sri Lanka dulu, terorisme berkedok Islam merupakan hal asing. Jauh dari pikiran. Beda dengan kaum etnis Tamil atau simpatisan komunis yang punya rekam jejak terorisme di negeri itu. Singkatnya, kaum muslim bukan orang-orang yang berbahaya. Sampai 21 April kelabu tersebut.

Masjid Dawatagaha Jumma, Kolombo, Sri Lanka, tampak lengang Jumat lalu (26/4). Yang salat Jumat hanya sekitar 100 orang. Biasanya, jamaah sampai tujuh kali lipat.

Peribadatan pun singkat. Khotbah tak sampai 15 menit, padahal biasanya sejam. Jamaah juga diimbau tak lama-lama berada di sekitar masjid. Polisi dan anjing pelacak masih berkeliaran. Sebab, masih ada rumor tentang bom mobil di sekitar masjid.

“Alasan kami di sini adalah memberikan doa khusus untuk para korban bom gereja,” ujar Reyyaz Salley, kepala pengurus Dawatagaha Jumma, kepada Agence France-Presse.

Salley bersama 100 jamaah merupakan kelompok muslim Kolombo yang memberanikan diri muncul di muka publik. Sebagian besar masjid meniadakan ibadah tersebut. Mereka takut menjadi korban persekusi atau bahkan sasaran serangan balasan.

“Kami ingin memberikan pesan kepada para ekstremis. Kami tidak akan takut,” tegasnya.

Sebagian besar kaum muslim seakan ingin membuktikan bahwa mereka kaum moderat dan toleran. Poster-poster yang diangkat jamaah pun menegaskan itu. Ada yang mengutuk serangan bom bunuh diri. Ada pula yang menawarkan masjid sebagai tempat misa sementara waktu.

Namun, citra mereka kadung tercoreng. Ada teroris yang membawa nama-nama agama dan menyerang tiga gereja serta empat hotel. Jumlah korban tewas menembus angka 250. “Banyak korban yang termutilasi,” ujar Menteri Kesehatan Sri Lanka Rajitha Senaratne.

Jangankan publik internasional, pemerintah Sri Lanka pun kaget. Muslim di Sri Lanka hanya 9,7 persen dari total 21 juta jiwa penduduk Sri Lanka. Tak pernah ada masalah agama yang berujung maut.

“Kami tidak tahu apa-apa. Semua ini seperti petir yang menyambar tiba-tiba,” kata Uskup Agung Kolombo Malcolm Ranjith.

Sahlan Khalil Rahman, sekretaris kelompok pengawas masjid Sufi di Kattakundy, meyakini bahwa bibit-bibit radikalisme muncul sejak lama. Kattankudy merupakan basis National Tawheed Jamaath (NTJ), kelompok ekstrem yang diklaim bertanggung jawab atas serangan Paskah lalu. Kota itu juga merupakan kampung halaman Mohamed Hashim Mohamed Zahran, pendiri NTJ.

Hashim punya reputasi sebagai corong Islam radikal di kota tersebut. Pada 2012, dia mendirikan masjid sendiri. Saat itu Rahman mengajukan keluhan. Mereka melaporkan Hashim telah menyebarkan ajaran sesat. “Dia berusaha mengubah para sufi menjadi wahabi,” tegasnya. Dia pun dilaporkan kepada polisi. Tapi, laporan tersebut ditolak.

“Saat itu masalah yang terjadi adalah perselisihan paham. Kami tak melihat masalah besar yang ditimbulkan Hashim,” ujar Ariyabandhu Wedagedara, kepala kepolisian Kattankudy saat 2012, dilansir NDTV.

Bulan lalu intelijen India sudah mengingatkan ada rencana penyerangan. April ini sudah tiga kali mereka mengingatkan. Menurut sumber tepercaya, otoritas India menemukan video Hashim di sarang rahasia ISIS.

Beberapa anggota inti pun sudah diidentifikasi. Misalnya, dua anak konglomerat pedagang rempah Mohammad Yusuf Ibrahim. Kakak beradik itu ikut aksi di Cinnamon Grand dan Shangri-La. Sementara itu, Ibrahim sudah ditangkap untuk diinterogasi.

Namun, tetap saja otoritas Sri Lanka kebobolan. Kepala Kepolisian Sri Lanka Pujith Jayasundara dan Menteri Pertahanan Hemasiri Fernando terpaksa mundur. Mereka disalahkan karena tak segera menyebarkan informasi ancaman itu.

Apalagi, ancaman tersebut ternyata jauh lebih besar daripada yang mereka kira. “Kami sudah mendapat informasi bahwa ada 140 orang yang terkait dengan ISIS di Sri Lanka. Kami akan menumpas mereka semua,” kata Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena.

Jumat lalu pihak berwenang menggerebek sebuah studio di Kalmunai. Kota tersebut berjarak satu jam perjalanan dari Kattankudy, markas NTJ. Mereka menemukan 150 batang dinamit dan 100 ribu bola besi.

Tak jauh dari sana, mereka juga melacak sebuah rumah persembunyian simpatisan ISIS. Tiga pria lantas meledakkan diri dan menewaskan 12 jiwa lainnya. Di antara mereka terdapat tiga perempuan dan enam anak-anak.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (M. Salsabyl Ad'n/c19/dos)



Close Ads