alexametrics

Nasib Imigran Amerika Tengah Seperti Yahudi Melarikan Diri dari Nazi

27 November 2018, 15:40:57 WIB

JawaPos.com – Ana Zuniga panik. Imigran berusia 23 tahun asal Honduras itu langsung mendekap putrinya, Valery, saat angin meniup asap putih ke arah mereka. Dia tidak ingin bocah 3 tahun itu terkena gas air mata yang ditembakkan pasukan Amerika Serikat (AS) yang berjaga di perbatasan Meksiko tersebut.

”Kami lari. Tapi, semakin kami aktif bergerak, rasanya asap semakin kuat mencekik,” ujarnya kepada Associated Press Minggu (25/11). Kendati demikian, tidak ada cara lain untuk menghindari asap beracun itu kecuali lari sekencang-kencangnya. Zuniga pun lari pontang-panting bersama ratusan imigran lainnya.

Zuniga dan rekan-rekannya sesama imigran sudah diperingatkan agar menjauh dari perbatasan. Sebab, Presiden Donald Trump tidak mengizinkan mereka menerobos pagar pembatas. Satu-satunya cara masuk AS adalah lewat pos pemeriksaan. Mereka yang tidak punya catatan kriminal dan membawa dokumen lengkap sangat berpeluang masuk AS.

imigran, imigran amerika tengah, migran honduras, nazi,
Orang-orang Yahudi melarikan diri dari Nazi meminta suaka ke negara lain (BBC)

Minggu pagi itu sekitar 500 imigran berunjuk rasa damai di perbatasan Meksiko-AS. Para imigran tersebut meminta AS memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengajukan suaka. Dengan demikian, mereka punya peluang untuk menyeberang.

Minggu itu unjuk rasa damai berubah ricuh. Para imigran yang aspirasinya tidak ditanggapi lantas menyerang petugas yang berjaga di perbatasan Meksiko-AS. Mereka juga menyeberangi Sungai Tijuana. Setelah berhasil menyeberangi sungai, mereka hanya tinggal berjalan menyusuri tanggul dan melompati pagar pembatas. Para imigran melihat itu sebagai peluang emas.

Namun, melompati pagar pembatas tidaklah semudah yang dibayangkan. Sebagian imigran terpaksa merusak pagar yang terbuat dari seng karena tidak berhasil melompatinya. Aksi anarkistis itu membuat petugas berang. Gas air mata pun lantas ditembakkan.

Legislator terpilih AS Alexandria Ocasio Cortez mengecam serangan gas air mata tersebut. Dia membandingkan imigran asal Amerika Tengah itu dengan rombongan orang Yahudi yang melarikan diri dari pasukan Nazi di Jerman. Juga, mereka yang lari dari kekejian di Rwanda dan perang di Syria.

”Minta diakui dan mengajukan status sebagai pengungsi bukanlah kejahatan,” cuit Ocasio-Cortez di akun Twitter-nya.

Trump bersikeras melarang para imigran itu masuk wilayahnya tanpa dokumen lengkap. Mereka yang mengajukan suaka pun harus tetap menunggu di sisi Meksiko sampai ada izin untuk masuk AS. Padahal, imigran berhak berada di AS untuk menantikan keputusan pengadilan tentang suaka.

Para imigran yang mengajukan suaka itu tidak mau menunggu di Meksiko. Sebab, proses hukum pengajuan suaka sampai ada keputusan dari pengadilan butuh proses lama. Terkadang sampai berbulan-bulan. Padahal, di negara yang dipimpin Presiden Enrique Pena Nieto itu, imigran tidak bisa melakukan banyak hal.

”Saya tidak tahan lagi,” ujar Joseph Garcia. Pria 32 tahun itu tidak mau lebih lama menunggu di Meksiko sebagai penganggur. Anak perempuannya butuh susu. Dia dan keluarganya butuh makan. Dia harus bekerja. Karena itu, bagaimanapun caranya, dia bertekad menerobos perbatasan.

Menteri Dalam Negeri Meksiko Alfonso Navarrete mengungkapkan bahwa unjuk rasa damai itu awalnya memang mendapatkan izin dari pemerintah. Tapi, rupanya, beberapa pentolan kelompok imigran memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menerobos perbatasan secara ilegal. Karena itulah, aparat lantas bertindak.

”Departemen Keamanan Dalam Negeri tidak akan menoleransi pelanggaran hukum semacam ini,” tegas Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kirstjen Nielsen seperti dilansir Reuters.

Bukan hanya AS, pemerintah Meksiko pun mengambil tindakan tegas. Mereka bakal mendeportasi 500 orang yang berusaha menyeberang ke AS secara ilegal Minggu lalu. Sejak 19 Oktober, Kementerian Dalam Negeri Meksiko sudah memulangkan 11 ribu imigran ke negara asalnya. Dari jumlah itu, 1.906 di antaranya adalah bagian dari kelompok imigran yang kini ada di Tijuana.

Meski kini situasinya tengah memanas, pemerintah Meksiko menegaskan tidak akan mengirimkan pasukan militer ke Tijuana. Di wilayah tersebut ada sekitar 7.417 imigran.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : (sha/c10/hep)

Nasib Imigran Amerika Tengah Seperti Yahudi Melarikan Diri dari Nazi