JawaPos Radar

Erdogan: Insya Allah Kami akan Bawa Perdamaian bagi Syria dan Irak

27/08/2018, 12:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Erdogan: Insya Allah Kami akan Bawa Perdamaian bagi Syria dan Irak
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersumpah untuk membawa perdamaian dan keamanan di Irak dan daerah-daerah di Syria (Reuters)
Share this

JawaPos.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersumpah untuk membawa perdamaian dan keamanan di Irak dan daerah-daerah di Syria. Dia juga mengatakan, organisasi-organisasi teroris di daerah-daerah itu akan dihilangkan.

Turki yang mendukung beberapa kelompok pemberontak di Syria telah bekerjasama dengan Rusia. Rusia adalah negara yang mendukung Presiden Syria Bashar Al Assad, dan Iran untuk resolusi politik terhadap krisis.

Sejauh ini telah dilakukan dua operasi lintas batas sepanjang perbatasannya dengan Syria, dan mendirikan belasan pos pengamatan militer di wilayah utara di Idlib, Syria.

Erdogan: Insya Allah Kami akan Bawa Perdamaian bagi Syria dan Irak
Akibat Perang Syria kondisi negara itu menyedihkan (War Childs Dawn)

Idlib yang dikuasai pemberontak merupakan tempat perlindungan bagi warga sipil dan pemberontak yang mengungsi dari daerah lain di Syria. Idlib juga merupakan tempat pasukan jihadis yang kuat, tetapi telah dilanda gelombang serangan udara dan penembakan beberapa bulan terakhir.

“Insya Allah, kami akan membangun kedamaian yang sama di bagian lain Syria juga. Insya Allah, kami akan membawa perdamaian yang sama ke Irak, di mana organisasi teroris ada di sana," katanya dilansir dari Reuters, Senin, (27/8).

Erdogan juga menghubungkan konflik-konflik regional dan krisis mata uang yang sedang berlangsung di Turki. Ia menggambarkannya sebagai perang ekonomi.

“Mereka yang mencari alasan sementara di balik masalah yang kita hadapi akhir-akhir ini adalah salah, sangat salah. Serangan yang kita hadapi hari ini, berakar dari sejarah,” ujar Erdogan.

Lira Turki telah jatuh hampir 40 persen tahun ini, karena kekhawatiran investor atas cengkeraman Erdogan pada kebijakan moneter. Juga karena perselisihan yang dalam dengan Amerika Serikat yang memberikan tekanan pada mata uang.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up