JawaPos Radar

Ekonomi Memburuk, Iran Pecat Menteri Keuangan

27/08/2018, 10:39 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Ekonomi Memburuk, Iran Pecat Menteri Keuangan
Krisis ekonomi yang disebabkan AS membuat Iran marah dan memecat menteri keuangannya (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Parlemen Iran memecat sejumlah menteri kabinet akibat kesengsaraan ekonomi yang kian memburuk. Dilansir Arab News pada Minggu, (26/8), setelah memecat Menteri Tenaga Kerja Ali Rabiei dan Kepala Bank Sentral Valiollah Seif pada awal Agustus lalu, kini giliran Menteri Keuangan dan Ekonomi Masoud Karbasian dipecat oleh Presiden Hassan Rouhani.

Pemerintah Iran terlihat marah dalam menghadapi ekonomi yang runtuh, pengangguran melonjak, mata uang yang jatuh, dan pembaruan sanksi setelah penarikan AS dari kesepakatan nuklir 2015.

Perusahaan-perusahaan besar Eropa termasuk Total Perancis, Peugeot dan Renault, serta Siemens dan Daimler dari Jerman, semuanya telah mengumumkan penarikan mereka sejak AS mengumumkan pemberlakukan sanksi baru. Para penentang Rouhani menyalahkan korupsi pemerintah dan salah urus atas bencana ekonomi.

"Ketidakefisienan dan kurangnya perencanaan tidak ada hubungannya dengan sanksi," kata anggota Parlemen Abbas Payizadeh.

"Keputusan yang salah telah merugikan rakyat dan menyebabkan individu menjarah aset publik," lanjutnya.

Seorang politisi Iran dari Faksi Harapan Reformis Elias Hazrati mengatakan, pemerintah telah gagal untuk merencanakan pertahanan dari sanksi AS yang diberlakukan kembali pada November mendatang dengan menargetkan sektor minyak yang sangat penting bagi Iran. “Kami belum siap dan kami tidak siap sekarang. Satu-satunya orang yang bisa kita dapatkan adalah menteri ekonomi. Kalau tidak, presiden seharusnya diberhentikan,” katanya.

Pemecatan Menteri Keuangan dan Ekonomi Masoud Karbasian dilakukan dengan pemberian mosi tidak percaya. Peristiwa itu disiarkan secara langsung di radio negara.

Kabarsian kalah dengan 137 suara. Ia hanya mendapat 121 suara, dengan dua abstain. Ia langsung kehilangan pekerjaannya.

Ilmuwan Iran-Amerika Majid Rafizadeh mengatakan, pemecatan beberapa politisi tidak akan menyelesaikan masalah mendasar Iran. “Masalah-masalah ini bersifat sistemik dan ada jauh di dalam infrastruktur ekonomi Teheran," katanya.

“Itu sebabnya rial terus merosot selama 39 tahun terakhir, sejak berdirinya Republik Islam. Tren mungkin akan terus berlanjut selama rezim ini berkuasa. Sayangnya devaluasi mata uang yang tajam membuat situasi keuangan orang-orang biasa jauh lebih parah dan berat. Ini dapat menyebabkan pemberontakan nasional melawan rezim,” ujar Rafizadeh.

Kenyataan di lapangan terdapat korupsi keuangan rezim Iran, penyalahgunaan dana publik. Juga krisis perbankan yang meluas.

Hingga saat ini, Rouhani tetap dilindungi oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Namun Parlemen Iran telah memanggil presiden untuk pertama kalinya untuk menjawab pertanyaan tentang krisis, dan dia diperkirakan akan muncul pada hari Selasa.

Salah satu penanda utama krisis ekonomi Iran adalah jatuhnya mata uang, yang telah kehilangan sekitar setengah nilainya sejak April. Itu sebagian karena permusuhan AS.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up