alexametrics

Thaksin: Ada Kecurangan, Jumlah Surat Suara Lebih Banyak dari Pemilih

27 Maret 2019, 20:24:59 WIB

JawaPos.com – Pemenang pemilu Thailand belum diketahui. Namun, Palang Pracharat Party dan Pheu Thai Party (PTP) mulai mencari koalisi. Tujuannya satu, mereka bisa mendapatkan 376 kursi di parlemen. Siapa pun yang mendapatkannya lebih dulu, dialah yang berhak membentuk pemerintahan.

Saat ini yang sudah jelas bergandengan tangan adalah PTP dan Future Forward Party. Sekjen PTP Phumtham Wechayachai yakin bahwa partainya mendapat kursi terbanyak di house of representative alias majelis rendah. ”Kami bisa memastikan telah mengamankan lebih dari 250 kursi,” ujar dia seperti dilansir Reuters kemarin (26/3).

Itu adalah kalkulasi mereka sendiri berdasar hasil sementara penghitungan suara. Itu sudah termasuk kursi yang diperebutkan di pemilu maupun dibagi berdasar perhitungan perolehan suara. Artinya, PTP masih kurang 126 kursi lagi jika ingin membentuk pemerintahan dan mengangkat PM nonmiliter.

Parlemen Thailand terdiri atas 500 anggota majelis rendah dan 250 anggota senat atau majelis tinggi. Semua anggota senat sudah dipilih junta militer. Sebanyak 350 kursi majelis rendah diperebutkan lewat pemilu. Sedangkan 150 kursi sisanya dibagi berdasar perolehan suara untuk tiap-tiap partai, tapi ada batas maksimalnya.

Aturan itu diberlakukan untuk memberikan kursi bagi partai-partai kecil yang tidak mendapatkannya lewat pemilihan suara langsung. Nah, partai yang mendapatkan separo plus 1 dari keseluruhan kursi parlemen atau 376 kursi dianggap sebagai pemenang pemilu.

Future Forward Party untuk sementara mendapatkan 30 kursi. Pemimpin partai yang baru berdiri setahun lalu itu, Thanathorn Juangroongruangkit, menyatakan siap jadi PM. Menurut dia, menjadi PM adalah pekerjaan penting. Namun, karena tidak mendapatkan kursi terbanyak, pihaknya lebih memilih untuk mendukung kandidat PM PTP Sudarat Keyuraphan.

”Kami yakin, menjadi nomor tiga (dalam perolehan suara, Red) di pemilu tidak memberi kami hak untuk menjadi PM,” ujar Thanathorn.

Sebelum menggandeng PTP, pria yang dipanggil Daddy oleh para pendukungnya itu mengajukan tiga syarat. Yakni, mengamandemen konstitusi, mengeliminasi kebijakan militer, dan mendorong reformasi militer agar tak ada lagi kudeta.

Sementara itu, Palang Pracharat Party lebih kalem. Mereka sudah menyatakan tengah mendekati beberapa partai. Hingga kemarin, belum ada yang mengaku sudah pasti bergabung dengan partai pendukung junta militer tersebut.

Salah satu anggota partai, Sonthirat Sontijirawong, mengaku tak buru-buru menentukan koalisi. Pihaknya tenang karena 250 anggota senat sudah pasti memberikan suara kepada partai pendukung Prayuth Chan-o-cha itu. Dia menambahkan, partai mana pun yang akan berkoalisi harus mau menerima Prayuth sebagai PM. Posisi itu tak akan diberikan kepada orang lain.

Prayuth mengaku tak terlibat dalam urusan memilih koalisi. ”Saya akan berfokus memimpin pemerintahan sampai ada pemerintahan yang baru,” terangnya.

Sementara itu, dugaan kecurangan dalam pemilu Thailand kian kuat. Beberapa lembaga independen yang memantau pemilu menyatakan, ada kecenderungan sistem dan pelaksanaan pemilu menguntungkan parpol yang mendukung junta militer. Itu membuat kepercayaan akan hasil pemilu menjadi rendah.

”Militer sangat dominan. Itu tak baik untuk demokrasi,” kata Kepala Pemantau Pemilu Thailand dari Anfrel (Asian Network for Free Elections) Rohan Nishanta Hettiarachchie saat jumpa pers di Hotel Marriott, Bangkok, yang dihadiri Jawa Pos kemarin.

Seharusnya, hasil penghitungan suara untuk 350 kursi di majelis rendah sudah selesai diumumkan tiga jam setelah tempat pemungutan suara ditutup. Ternyata, pengumuman ditunda lagi hingga keesokan harinya. Hingga saat ini, hasilnya belum jelas. Banyak yang menduga itu terjadi karena kecurangan sehingga angka kehadiran penduduk tak sama dengan hasil sementara pemilu.

Peraturan pelaksanaan pemilu yang terlalu ketat untuk validasi surat suara juga membuat banyak balot terbuang sia-sia. Sekitar 2,8 juta surat suara dinyatakan tidak valid. Hasil awal pemilu juga tak akurat. Para petugas di lapangan juga terlihat tak terlatih.

Mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra juga buka mulut. Politikus yang kini hidup dalam pengasingan itu curiga ada kecurangan di pemilu Thailand. Dia mencontohkan foto di Provinsi Phetchabun. Foto itu memperlihatkan kotak balot dibawa keluar, lalu dikembalikan lagi ke kantor pemerintahan setempat. Jumlah surat suaranya menjadi lebih tinggi daripada jumlah penduduk yang memilih di area tersebut.

”Di beberapa wilayah, Palang Pracharat Party berubah dari kelompok yang kalah menjadi pemenang. Saya melihatnya sebagai perusakan dan membuat negara kita kehilangan kredibilitas,” tegas dia dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : (*/sha/c11/dos)



Close Ads
Thaksin: Ada Kecurangan, Jumlah Surat Suara Lebih Banyak dari Pemilih