alexametrics

Mahathir Masih Ingin Jadi PM Malaysia

Kembali Berhadapan dengan Anwar Ibrahim
27 Februari 2020, 10:54:22 WIB

JawaPos.com – Peta perang politik terkait masa depan pemerintahan Malaysia akhirnya terlihat. Setelah rangkaian rapat semenjak Selasa (25/2), tiga kubu terbentuk: pro-Anwar Ibrahim, pro-Mahathir Mohamad; dan propemilu ulang.

Kemarin (26/2) dua tokoh politik besar akhirnya buka suara berbarengan dengan selesainya wawancara kerajaan oleh Yang Dipertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah.

Dimulai dari pidato Mahathir yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi nasional. Politikus berusia 94 tahun itu memastikan dirinya ingin tetap memegang status kepala pemerintahan.

”Pertama saya ingin meminta maaf kepada semua warga Malaysia atas kekacauan ini,” ujar dia seperti dilansir New Straits Times.

Mahathir menjelaskan bahwa faktor utama pengunduran dirinya adalah tuduhan dari beberapa politikus. Beberapa bulan terakhir, banyak anggota parlemen yang menuding Mahathir tak ingin menyerahkan kursi perdana menteri kepada Anwar Ibrahim. Padahal, janji itu sudah diucapkan saat kampanye Pemilu 2018.

Tapi, akhirnya ayah tujuh anak tersebut mengakui keinginannya menjadi perdana menteri (PM) ke-8 Malaysia. Padahal, dia baru saja melayangkan surat pengunduran diri sebagai perdana menteri (PM) ke-7 ke Istana Kerajaan Malaysia.

Mahathir beralasan, politisi dari berbagai kubu mendukungnya untuk tetap memimpin Malaysia. Dia kembali mengungkapkan ambisinya menciptakan koalisi pemerintah tanpa kubu. ”Salah atau benar, politik dan partai harus dikesampingkan. Saat ini negara sedang dihadapkan oleh masalah ekonomi dan kesehatan yang besar,” jelasnya.

Tak sampai satu jam, sang rival Anwar menggelar konferensi pers. Dia pun memastikan bahwa koalisi Pakatan Harapan mengusungnya sebagai kandidat perdana menteri. Artinya, 62 anggota parlemen yang terdiri atas tiga partai tak lagi mendukung Mahathir.

”Mahathir Mohamad menolak undangan rapat penyelamatan pemerintah Pakatan. Karena itu, dewan presidensial memutuskan untuk mencalonkan Anwar Ibrahim,” papar dia seperti dilansir The Star.

Anwar menegaskan bahwa ideologi Pakatan Harapan tak berubah meski ditinggal Mahathir dan 37 anggota lain. Namun, dia menegaskan bahwa pihaknya bakal menerima keputusan apa pun dari raja Malaysia.

Menurut Malaysiakini, koalisi Pakatan Harapan masih punya suara paling banyak. Sebaliknya, Mahathir baru mendapat 62 suara dukungan dari Bersatu, GPS, Warisan, dan 11 anggota faksi Azmin Ali. Partai besar lainnya seperti UMNO dan PAS menolak kedua calon dan meminta parlemen dibubarkan.

”Kalau menurut peraturan, satu-satunya yang bisa memberi saran pembubaran parlemen ke raja hanyalah perdana menteri,” ungkap pakar hukum Malaysia Gopal Sir Ram.

Itu berarti, raja harus memilih perdana menteri baru terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan pemilu dini. Sampai tadi malam, pukul 23.00 WIB, Istana Kerajaan belum memberikan keputusan.

Menurut pejabat istana, raja mewawancarai 130 anggota parlemen pada hari kedua. Dua legislator gagal wawancara. Mereka adalah anggota Partai Warisan Shafie Apdal dan anggota UMNO Nazri Aziz.

Free Malaysia Today melansir, Shafie mencoba mengirimkan perwakilan ke istana, tetapi ditolak karena wajib dihadiri secara pribadi. Sementara itu, Nazri sedang berada di luar negeri dan tak bisa kembali tepat waktu.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : bil/c10/ttg



Close Ads