alexametrics

6 Hal yang akan Dibahas Trump dan Kim Jong Un di KTT Kedua

27 Februari 2019, 16:18:35 WIB

JawaPos.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kepada Pemimpin Tertinggi Korea Utara (Korut) Kim Jong Un pada Rabu (27/2) sore di Hotel Sofitel Legend Metropole Hanoi, kalau KTT Kedua akan menghasilkan perjanjian yang luar biasa. Berikut ini merupakan enam hal yang akan dibahas dalam KTT Kedua Trump dan Kim di Hanoi, dilansir dari The Guardian:

1. Program Senjata Nuklir

Sejauh ini jeda dalam uji coba nuklir dan rudal bersifat sukarela dan informal. AS akan berusaha untuk mengunci janji Korut bahwa tidak akan ada uji coba rudal pembawa nuklir lagi. Ini akan menjadi bagian dari perjanjian.

korut, tiongkok, beijing, kim jong un, trump, as, vietnam, KTT Kedua,
Sejauh ini jeda dalam uji coba nuklir dan rudal bersifat sukarela dan informal. AS akan berusaha untuk mengunci janji Korut bahwa tidak akan ada uji coba rudal pembawa nuklir lagi (KCNA)

Kompleks nuklir di Yongbyon akan menjadi titik tawar paling penting dalam perjanjian nanti. Kim telah mengatakan kepada Korea Selatan (Korsel), kalau ia siap untuk mematikan reaktor 5 megawatt di sana, yang merupakan sumber plutonium Korut. Ini juga merupakan sumber utama tritium, yang diperlukan untuk membuat bom termonuklir, atau ‘hidrogen’.

Reaktor yang beroperasi lebih dari 30 tahun sudah mendekati usang. Korut masih dapat membuat hulu ledak nuklir dengan uranium yang diperkaya. Korut juga bisa memiliki reaktor rahasia di tempat lain. Tetapi penonaktifan dan penutupan reaktor yang nyata dan terverifikasi akan menjadi langkah yang sangat konkret menuju pelucutan senjata.

Yongbyon juga merupakan lokasi pabrik pengayaan uranium. Menonaktifkan dan membongkar pabrik pengayaan uranium itu akan menjadi prestasi besar lainnya. AS percaya ada pabrik rahasia lain di tempat lain, dan menginginkan tempat-tempat ini juga berada di meja perundingan, mungkin pada tahap selanjutnya.

2. Rudal

AS sedang mencari batasan pada produksi rudal balistik antarbenua atau Intercontinental Ballistic Missiles (ICBM) yang mampu mencapai benua AS. Mereka ingin ICBM yang ada dimusnahkan. Ini akan menjadi kenyamanan bagi sekutu AS di wilayah yang berada dalam jangkauan yang lebih pendek dari Korut.

3. Verifikasi

Kesepakatan pengendalian senjata apapun tidak berarti banyak tanpa menunjukkan bahwa pelucutan senjata telah dilaksanakan. Paling tidak, Korut diharapkan mengizinkan inspeksi dari luar ke lokasi uji coba rudal dan nuklir yang sudah mulai dibongkar.

Mengizinkan inspektur internasional, Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) khususnya, kembali ke Yongbyon, akan menjadi langkah yang jauh lebih signifikan.

4. Sanksi

AS telah mengisyaratkan siap untuk melonggarkan sanksinya pada Korut. Namun AS mengisyaratkan tidak ada sanksi yang akan dicabut sampai Korut melucuti senjatanya. AS justru mengisyaratkan pendekatan bertahap, yaitu beberapa pembatasan akan dicabut bersama-sama dengan langkah-langkah yang diambil oleh Pyongyang.

Tangan pemerintah terikat pada banyak sanksi AS yang diamanatkan secara kongres. Namun bisa membujuk Dewan Keamanan PBB untuk melonggarkan beberapa sanksi internasional. Kemudian memungkinkan perluasan perdagangan dan investasi antara Korsel dan Korut.

5. Penarikan Militer AS

Di Singapura, Trump mengejutkan sekutu AS dengan mengumumkan penangguhan latihan militer bersama dengan Korsel. Itu dilakukan dan mungkin diperpanjang sebagai imbalan atas moratorium uji coba rudal Korut.

Langkah yang lebih signifikan adalah jika Trump mengumumkan di Hanoi bahwa ia akan menarik kehadiran pasukan AS di Korsel. Meskipun langkah tersebut akan membunyikan lonceng alarm di Kongres AS dan di Seoul, terutama jika itu dilakukan tanpa berkonsultasi dengan sekutu.

6. Hubungan Bilateral

Secara umum diharapkan bahwa AS dan Korut akan membangun kembali hubungan diplomatik dengan mendirikan kantor penghubung di ibu kota masing-masing. Berharap untuk melihat kemajuan lebih lanjut tentang pemulangan jenazah tentara AS yang terbunuh dalam Perang Korea.

Langkah yang lebih substansial adalah deklarasi yang mengakhiri permusuhan pada tahun 1950 dan mengakhiri Perang Korea. Sebab Perang Korea pada dasarnya belum diakhiri, hanya ditangguhkan dengan gencatan senjata hingga saat ini. Namun tidak ada perjanjian damai antara kedua Korea. Sebuah deklarasi bahwa perang akhirnya berakhir akan memiliki arti simbolis yang sangat penting bagi kedua Korea.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : Verryana Novita Ningrum

6 Hal yang akan Dibahas Trump dan Kim Jong Un di KTT Kedua