
Panel surya di provinsi Van, Turki, menyimpan energi untuk digunakan saat matahari tidak bersinar atau angin tidak bertiup. Foto: (The Guardian)
JawaPos.com — Turki memperkuat posisinya dalam sektor energi bersih global setelah melampaui seluruh negara anggota Uni Eropa dalam kapasitas penyimpanan baterai jaringan listrik. Laporan terbaru dari lembaga think tank energi dan iklim, EMBER, menyebutkan bahwa sejak 2022, total kapasitas baterai yang disetujui di Turki mencapai lebih dari 33 gigawatt, jauh melebihi kapasitas terencana dan operasional di Jerman dan Italia yang berkisar 12–13 GW.
Fenomena ini bukan sekadar angka statistik; Turki menunjukkan bagaimana negara ekonomi menengah dapat memanfaatkan kebijakan energi inovatif untuk memperkuat kedaulatan energi di tengah gejolak pasar bahan bakar fosil global. Lompatan kapasitas baterai ini terjadi di saat banyak negara maju justru melambat dalam pengembangan infrastruktur bersihnya, menandai pergeseran penting dalam peta transisi energi dunia.
Dilansir dari The Guardian, Kamis (9/4/2026), analis Ember Ufuk Alparslan menilai kebijakan Turki telah memberi “sinyal investasi besar” dalam penyimpanan baterai yang melampaui negara Eropa lain. “Jika terealisasi, pipeline baterai Turki akan menjadi tulang punggung pusat energi bersih regional,” kata Alparslan. Pernyataan ini menunjukkan ambisi Turki tidak hanya mengejar kapasitas, tetapi juga posisi strategis menjelang COP31 di Antalya pada November.
Penyimpanan energi melalui baterai menjadi komponen penting bagi sistem energi masa depan karena dapat mengatasi sifat intermiten teknologi tenaga surya dan angin. Dengan baterai, listrik yang dihasilkan saat sumber terbarukan optimal dapat disimpan dan dilepaskan pada saat permintaan tinggi atau saat sumber tersebut tidak aktif, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil saat kondisi energi tidak stabil.
Keberhasilan Turki dalam memperluas kapasitas baterai ini tidak terlepas dari mandat kebijakan yang diberlakukan pada 2022, yang memberikan akses prioritas ke jaringan listrik hanya kepada proyek energi terbarukan yang dipasangkan dengan kapasitas baterai yang setara. Dari total 221 GW aplikasi kapasitas penyimpanan yang diajukan, Turki menyetujui 33 GW, setara 83 persen dari kapasitas energi angin dan surya saat ini. Rasio ini jauh lebih tinggi dibanding negara‑negara UE.
Namun pencapaian ini tidak lepas dari kompleksitas tantangan struktural. Turki masih sangat bergantung pada batubara, yang tetap menjadi sumber utama listriknya, menyumbang sekitar 34 persen dari total produksi energi listrik pada tahun lalu. Ketergantungan ini menyoroti realitas transisi energi Turki yang masih berupa sistem hibrida antara energi bersih dan bahan bakar fosil.
Para ahli menilai penurunan biaya teknologi baterai dan energi surya merupakan pendorong utama di balik pertumbuhan ini. Greg Nemet, peneliti energi dari Universitas Wisconsin–Madison yang tidak terlibat dalam laporan Ember, mengatakan, “Solar dan baterai yang murah menciptakan peluang besar untuk membangun sistem energi yang murah, bersih, dan andal.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa aspek ekonomi teknologi terbarukan kini sangat kompetitif.
Selain itu, krisis geopolitik dan fluktuasi harga bahan bakar fosil, termasuk dampak dari perang di Timur Tengah, semakin menegaskan pentingnya diversifikasi sumber energi. Dalam konteks ini, langkah Turki memperkuat penyimpanan energi dipandang sebagai strategi mitigasi risiko jangka panjang dan upaya untuk meningkatkan ketahanan energi nasional.
Melihat ke depan, Turki menetapkan target total kapasitas energi angin dan surya mencapai 120 GW pada 2035, meskipun penambahan baru 6,5 GW tahun lalu masih berada di bawah target tahunan yang dibutuhkan. Tantangan untuk memenuhi target ini menunjukkan bahwa meski momentum positif kuat, pekerjaan besar masih menanti.
Dengan strategi kebijakan dan sinyal investasi yang kuat, Turki kini tidak hanya menjadi pemain regional tetapi juga bagian penting dari gerakan energi bersih global yang semakin kompetitif, memperlihatkan bahwa transisi energi bukan monopoli negara maju saja, tetapi juga peluang strategis bagi ekonomi berkembang untuk mengambil peran penting di panggung internasional.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
