alexametrics

Jepang dan Korsel Kembali Tegang, Kali Ini Soal Perjanjian Intelijen

26 November 2019, 04:34:55 WIB

JawaPos.com – Hubungan Korea Selatan dan Jepang sepertinya bertambah renggang. Teranyar, pada Senin (25/11), pemerintah kedua negara saling melempar kritik meski beberapa hari sebelumnya dua negara tersebut telah sepakat untuk menyelamatkan perjanjian pertukaran informasi intelijen yang dianggap penting bagi sejumlah pihak.

Aksi saling kecam antara Korsel dan Jepang menunjukkan betapa rapuh hubungan kedua negara bekas musuh masa perang tersebut. Ini cukup menarik karena keduanya juga sama-sama merupakan sekutu Amerika Serikat.

Pejabat pemerintah dua negara kerap mengkritik atau membuat pernyataan sanggahan terhadap satu sama lain. Dalam berbagai pemberitaan, Tokyo belum memastikan pihaknya akan meminta maaf terkait pernyataan mengenai perjanjian yang dinilai pihak Seoul kurang akurat.

Di bawah tekanan Washington, Korsel akhirnya menyepakati perjanjian GSOMIA pada menit terakhir. Keputusan Korsel menjadi momen cukup dramatis di tengah sejarah pertikaian dan kompetisi dagang dua negara itu.

GSOMIA (General Security of Military Information Agreement) atau Perjanjian Keamanan Umum Pertukaran Informasi Militer merupakan simbol kerja sama di bidang keamanan antara kedua rival. Di samping itu, GSOMIA merupakan bentuk kemitraan trilateral antara Korsel, Jepang, dan AS.

Menurut Tokyo, Seoul telah membuat keputusan strategis, dan Pemerintah Jepang berharap kedua negara dapat memulai perundingan kerja sama dagang. Meski begitu, rencana itu tidak serta merta mengembalikan status istimewa Korsel sebagai pengekspor.

Sementara itu, sejumlah pejabat di Istana Kepresidenan Gedung Biru (Cheong Wa Dae/Blue House) di Seoul mengatakan telah melayangkan protes dan menerima pernyataan maaf dari pihak Jepang. Protes itu ditujukan setelah Kementerian Perdagangan Jepang mengumumkan pihaknya akan meningkatkan pengawasan terhadap tiga produk ekspor yang menjadi bahan dasar semikonduktor. Produk ekspor itu merupakan komoditas yang cukup dibutuhkan oleh industri telekomunikasi di Jepang.

Kemudian, Istana Kepresidenan Korsel pada Senin (25/11) menyoroti berita yang dimuat koran Jepang, Yomiuri. Dalam tulisan iu, pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang mengatakan tidak benar bahwa Tokyo telah meminta maaf kepada Seoul.

“Untuk mengklarifikasi kabar tersebut, kami telah mengajukan protes dan Jepang meminta maaf,” kata pejabat senior bidang media Cheong Wa Dae, Yoon Do-han dalam siaran tertulisnya. “Media Jepang dan Korsel tengah memainkan isu ini, tetapi kami tahu mana yang benar,” imbuhnya.

Kurang dari dua jam skemudian, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menyanggah pernyataan Yoon. Dia menjelaskan pembatasan ekspor tidak terkait dengan GSOMIA. “Tak begitu produktif bagi kami untuk mengomentari setiap pernyataan Korsel, tetapi tidak benar apabila pemerintah Jepang telah meminta maaf,” kata Suga di hadapan awak media seperti dilansir Reuters.

Pertikaian antara Jepang dan Korsel salah satunya dipicu ketidaksepakatan terhadap pemberian kompensasi ke para warga Korsel yang dipaksa bekerja di perusahaan Jepang selama masa pendudukan pada periode 1910 sampai 1945. Mahkamah Agung Korsel pada tahun lalu memerintahkan pemberian kompensasi sehingga sejumlah bekas pekerja paksa berupaya menguasai aset-aset milik perusahaan Jepang yang ada di Korsel. Namun, Jepang membalas aksi Korsel dengan melakukan pembatasan beberapa komoditas ekspor.

Terkait kondisi terakhir yang makin memanas, otoritas dagang dua negara kemungkinan akan bertemu secepatnya pada awal pekan ini untuk membahas isu tersebut. Menteri luar negeri dua negara sepakat untuk menyelenggarakan pertemuan antara Presiden Korsel Moon Jae-in dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di sela-sela pertemuan trilateral dua negara itu dengan Tiongkok pada Desember mendatang.

Moon dan Abe dalam satu tahun terakhir ini belum bertemu lagi untuk berbincang secara resmi, meski keduanya sempat bertukar pikiran selama 11 menit dalam sesi konferensi internasional di Thailand pada awal November lalu.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Antara


Close Ads