JawaPos Radar | Iklan Jitu

300 Pemuda Jadi Korban Pelecehan Seksual, Begini Modus Pelaku

26 November 2018, 15:19:23 WIB
pelecehan seksual, seks, kejahatan seksual,
Pria asal Swedia tersebut Jumat (23/11) didakwa telah melakukan pelecehan seksual kepada 300 anak laki-laki dari tiga negara. Yaitu, Norwegia, Swedia, dan Denmark (Eroju)
Share this

JawaPos.com – Jangan mudah percaya dengan foto profil di dunia maya. Bisa jadi itu hanya tipu muslihat belaka untuk menjerat mangsa. Sama seperti yang dilakukan Henrik. Pria asal Swedia tersebut Jumat (23/11) didakwa telah melakukan pelecehan seksual kepada 300 anak laki-laki dari tiga negara. Yaitu, Norwegia, Swedia, dan Denmark. Kasusnya akan disidangkan 22 Januari mendatang.

’’Ini adalah kasus pelecehan terbesar yang pernah terungkap dengan lingkup yang sangat besar dan disertai tindakan yang kejam,’’ ujar Christian Lundin, pengacara utama yang mewakili para korban, kepada New York Times Sabtu (24/11). Ada sebelas pengacara yang membela korban. Sebagian menuntut ganti rugi.

Kejahatan Henrik dimulai 2011 lalu, tapi mayoritas terjadi 2014–2016. Pria 26 tahun itu berpura-pura sebagai remaja putri yang ingin berkenalan dengan remaja pria di beberapa forum percakapan online. Nama yang kerap dipakai adalah Sandra dan Henriette.

pelecehan seksual, seks, kejahatan seksual,
Ini adalah kasus pelecehan terbesar yang pernah terungkap dengan lingkup yang sangat besar dan disertai tindakan yang kejam (Public Radio International)

Pelaku menggunakan aplikasi Kik dan LINE untuk menghubungi korban. Jika ada yang berkenalan, dia meminta mereka mengirimkan foto atau video telanjang yang tak senonoh. Sebagai iming-iming, dia berjanji mengirim foto dan video Sandra atau Henriette.

Tentu saja foto tersebut tak pernah dikirim karena itu adalah tokoh palsu, yang ada adalah Henrik. Ada 460 remaja laki-laki dan pemuda berusia antara 9–18 tahun yang dilecehkan. Tapi, hanya 300 yang dianggap paling parah dan masuk dalam dakwaan.

Henrik mengancam akan mengunggah foto maupun video para korbannya ke YouTube. Jika tak mau hal tersebut terjadi, mereka harus terus mengirim foto maupun video serupa. Salah satu korban sampai mengirim belasan video.

Henrik tak hanya ’’bermain’’ di dunia maya. Dia juga melakukan kopi darat dengan dengan 20 korban. Dia berpura-pura sebagai sahabat sosok Sandra atau Henriette. Sebagian akhirnya diperkosa di rumahnya di Fetsund dan beberapa lokasi lainnya. Ada pula yang dibayar. Setelah ditangkap, polisi menemukan 16 ribu video milik para korban di komputernya.

Henrik ditangkap pada 2016. Dia terancam hukuman 20 tahun penjara. Tapi, jika dianggap sebagai ancaman terhadap masyarakat, dia bisa dipenjara seumur hidup.

’’Masalahnya adalah internet,’’ ujar Guro Hansson Bull, salah seorang jaksa penuntut. Menurut dia, korban begitu banyak karena mereka terhubung lewat dunia maya.

Berdasar laporan Norwegian Media Authority, kompetensi digital di negara tersebut memang termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Sebanyak 87 persen anak-anak usia 9–11 tahun memiliki akses ke telepon pintar. Selanjutnya, pada anak usia 12–14 tahun jumlahnya mencapai 97 persen. Itu membuat mereka kian rentan mengalami pelecehan seksual lewat dunia maya.

’’Perdebatan terkait apakah kita harus mengatur penggunaan dan bagaimana melakukannya baru dimulai,’’ tegas Thor Steinhovden, penasihat di lembaga Agenda.

Pelecehan seksual di Norwegia juga termasuk tinggi. Berdasar penelitian Norwegian Center for Violence and Traumatic Stress Studies, 21 persen perempuan dan 8 persen laki-laki di Norwegia mengalami pelecehan seksual di bawah usia 18 tahun.

Selama lima sampai enam tahun belakangan ini, kasus pelecehan seksual secara online seperti yang dilakukan Henrik juga terus naik. Berdasar KUHP di Norwegia, pelecehan seksual di dunia maya dianggap sama halnya dengan di dunia nyata.

Para korban biasanya tidak melapor meski pelaku tertangkap untuk meminimalkan rasa malu. Sebagian lainnya tidak tahu bahwa mereka adalah korban dan telah dilecehkan. Usia korban yang rata-rata masih muda membuat mereka tidak waspada dengan apa yang terjadi. 

Editor           : Dyah Ratna Meta Novia
Reporter      : (sha/c22/dos)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up