alexametrics

Demokrat Ancam Lengserkan Donald Trump

Skandal Obrolan dengan Presiden Ukraina
26 September 2019, 15:16:28 WIB

JawaPos.com – Demokrat akhirnya membidikkan senjata politik mereka kepada Presiden AS Donald Trump. Selasa (24/9) mereka memulai proses pemakzulan sang kepala negara AS. Pertaruhan itu bakal menentukan ke mana arah angin politik pada 2020.

Ketua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi muncul di layar TV nasional dengan pidato resmi. Dia resmi memulai pemeriksaan pemakzulan presiden di majelis rendah kongres. ”Tindakan presiden telah melanggar konstitusi. Dia telah mengkhianati sumpah jabatan, keamanan negara, dan integritas negara,” ungkap perempuan 79 tahun itu menurut New York Times.

Kali ini tekad Pelosi sudah bulat. Dia merasa bahwa skandal percakapan telepon antara Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky merupakan amunisi yang ampuh untuk melawan sang taipan. Dia mengaku sudah menyiapkan enam komite untuk mendaftar semua dosa Trump.

Sebenarnya, Trump bukannya pejabat tanpa dosa sebelum skandal tersebut terungkap. Isu seperti intervensi Rusia, penyuapan bintang dewasa Stormy Daniels, pernyataan rasis, sampai upaya menghalangi penyelidikan jaksa khusus Robert Mueller datang berturut-turut. Tapi, Pelosi masih ragu.

”Saya berusaha untuk menghindari (pemakzulan). Karena hal tersebut bakal memecah pemerintah,” ungkap dia sebelum pengumuman resmi pemakzulan.

Pelosi sampai diserang generasi muda Demokrat. The Squad yang terdiri atas anggota dewan Alexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar, Ayanna Pressley, dan Rashida Tlaib terus nyinyir soal ketakutan Pelosi. Sekarang mereka menyanjung keputusan istri Paul Pelosi tersebut.

”Dia ingin memastikan kita bisa memproses pemakzulan secepatnya. Dan saya jelas mendukungnya,” ujar Omar kepada Agence France-Presse.

Trump menerima tantangan tersebut. Sepertinya, pria 73 tahun itu geram dengan tindakan Demokrat kali ini. Menurut sumber tepercaya, dia sempat menghentikan rangkaian pertemuan bilateral dengan kepala negara asing di Sidang Umum PBB untuk menelepon Pelosi. Tak lama setelah itu, dia memerintahkan agar Gedung Putih merilis transkrip pembicaraannya dengan Zelensky dan dokumen laporan dari whistle-blower terkait skandal tersebut.

”Anda bisa lihat sendiri seberapa pantas percakapan saya. Tidak ada tekanan. Tidak ada quid pro quo (bantuan dibalas bantuan, Red),” tulisnya melalui akun Twitter pribadi.

Mendengar itu, Pelosi senang. Dia menegaskan bahwa letak masalah bukan pada meminta balasan terhadap bantuan. ”Ini bukan soal quid pro quo. Anda tidak bisa meminta pemerintah asing untuk membantu kampanye pemilu,” ungkap ketua Dewan Perwakilan AS perempuan yang pertama itu.

Skandal terbaru Trump datang setelah ada laporan bahwa dia menghubungi Zelensky pada 25 Juli dan mengungkit kiprah Hunter Biden, anak kandidat presiden dari Demokrat Joe Biden, di Ukraina. Dia meminta Zelensky untuk menyelidiki apakah kegiatannya di sana menggunakan kekuasaan ayahnya saat menjadi wakil presiden.

Skandal itu membesar setelah kabar Trump meminta dana bantuan ditunda seminggu sebelum percakapan tersebut terjadi. Banyak yang merasa itu adalah strategi tipikal dari Trump untuk meminta paksa sesuatu. Namun, Trump mengatakan bahwa itu adalah langkah untuk membuat negara-negara di Eropa turut andil pada masalah tetangga mereka.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (bil/c10/dos)


Close Ads