JawaPos Radar

Puasa 22 Jam, Begini Cara Muslim Islandia Bertahan

26/05/2018, 10:42 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Puasa 22 Jam, Begini Cara Muslim Islandia Bertahan
Muslim Islandia puasa selama 22 jam (Food and Wine Magazine)
Share this

JawaPos.com - Durasi puasa masyarakat Indonesia rata-rata 12 jam. Namun umat Muslim di Islandia harus berpuasa selama 22 jam di bulan Ramadhan tahun ini sebab matahari bersinar lebih lama saat musim panas di negara tersebut. Artinya, mereka hanya memiliki waktu dua jam untuk berbuka, shalat tarawih, dan santap sahur.

Pengalaman berpuasa selama 22 jam dijalani oleh Sulaiman. Ia merupakan seorang pria asal Pakistan yang pindah ke Islandia lima tahun lalu. Usai menahan lapar dan dahaga selama 22 jam, Sulaiman hanya menyantap buah dan yoghurt untuk sahur. Setelah itu dia tak makan atau minum hingga saatnya berbuka.

"Saya berpuasa selama 22 jam karena sesuai ajaran Islam kami harus berpuasa dari subuh hingga matahari terbenam. Meski puasa sangat lama saya tak merasa berat saat menjalankan ibadah puasa karena saya mengimani, maka iman itu yang menguatkan saya. Amat mudah, malah ini sudah menjadi hal yang alami," ujar Sulaiman beberapa hari lalu. 

Puasa 22 Jam, Begini Cara Muslim Islandia Bertahan
Muslim Islandia bertahan puasa meski amat lama (Reuters)

Seperti dilansir Kantor Berita Pemilu (Jawa Pos Grup), Sulaiman mengatakan, usai beberapa hari berpuasa, dia merasa terbiasa. Menahan lapar atau dahaga dalam waktu lama menjadi bagian dari hidupnya. Meski harus berpuasa selama 22 jam, Sulaiman tetap bekerja seperti biasa dan tidak meminta dispensasi apapun dari tempat kerjanya. Ia juga tak mengeluh.

Terdapat sekitar 1.000 orang pemeluk agama Islam di Islandia. Namun, tak semuanya memilih berpuasa selama 22 jam seperti Sulaiman. Salah satunya adalah Mansoor, seorang imam di sebuah komunitas warga Muslim di Reykjavik, Ibu Kota Islandia. Komunitas yang dipimpinnya memilih berpuasa selama 18 jam tidak sampai menunggu matahari terbenam pada pukul 23.00. "Saat kami membaca beberapa ayat Al Quran terkait puasa, Allah mengatakan, Dia berkenan memberi kemudahan bagi manusia," kata Mansoor.

Dia menambahkan, kerap mendengar kabar beberapa orang jatuh pingsan atau sakit akibat durasi puasa yang terlalu panjang. Satu lagi umat Muslim Islandia adalah Yakub, pemilik sebuah restoran kebab di Reykjavik. Sepanjang bulan Ramadhan, Yakub tetap membuka warungnya, menjual makanan untuk pelanggannya. Sementara dia sendiri tetap menjalankan ibadah puasa.

"Saat Anda menjual makanan dan tidak makan, tentu saja rasa lapar itu ada. Namun, itu bukan alasan untuk menghentikan puasa," ujar Yakub. "Jika Anda mengimani sesuatu, maka Anda akan menjalankan kewajiban Anda," tambah Yakub.

Tak jarang demi menghemat waktu, sekelompok umat Muslim berbuka bersama di sebuah masjid dan dilanjutkan dengan shalat tarawih. Usai shalat tarawih mereka kemudian siap untuk santap sahur sebelum kembali ke kediaman masing-masing. Dua masjid di Ibu Kota Reykjavik sepakat untuk mengikuti jam terbit dan terbenamnya matahari di Islandia. Sementara beberapa masjid lain dan komunitas Muslim Islandia memilih menjalankan puasa dengan jadwal negara Eropa lain.

Direktur Eksekutif Yayasan Islam Islandia Karim Askari mengatakan, salah satu masjid mengikuti jam puasa di Prancis. Meski durasinya panjang tetapi cuaca yang dingin di Islandia membuat puasa tak seberat di negara Asia atau Timur Tengah. "Di udara panas puasa jauh lebih sulit. Sementara di negara dengan cuaca dingin lebih mudah melewati hari," tambah dia. Selain Islandia, umat Muslim di Finlandia, Greenland, Norwegia, dan Swedia juga menjalankan ibadah puasa dalam durasi cukup panjang yaitu 19 jam.

(met/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up