JawaPos Radar

Mahathir tak Penjarakan Koruptor dengan Hukuman Seumur Hidup

25/09/2018, 13:12 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
mahathir mohamad, malaysia,
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan, para koruptor harus dihukum berat. Namun, belum terpikir olehnya untuk menghukum para koruptor dengan hukuman penjara seumur hidup (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan, para koruptor harus dihukum berat. Namun, belum terpikir olehnya untuk menghukum para koruptor dengan hukuman penjara seumur hidup.

"Mereka para koruptor harus dipenjara. Berapa lama mereka harus dipenjara tergantung pada sejauh mana korupsi yang mereka lakukan, dan saya pikir berbagai tingkat korupsi membutuhkan hukuman yang berbeda. Tapi kita belum mencapai tahap harus menghukum orang seumur hidup," lanjut Mahathir dilansir dari Channel News Asia Selasa, (25/9).

Jawaban itu dia sampaikan saat menanggapi pertanyaan apakah ia mendukung hukuman mati bagi para pemimpin korup, setelah ia menyampaikan ceramah berjudul Tantangan Pemerintahan yang Baik di Dunia Muslim di Pusat Oxford untuk Studi Islam pada Senin (24/9).

mahathir mohamad, malaysia,
Malaysia digoncang skandal korupsi 1MDB (The Star Online)

"Mereka yang dinyatakan bersalah melakukan korupsi oleh pengadilan di Malaysia akan dijatuhi hukuman penjara," katanya.

Dalam ceramahnya, yang menyentuh negara-negara Muslim dan sistem demokrasi, Mahathir mengatakan negara-negara Muslim mengadopsi sistem demokrasi yang diperlukan untuk menghabiskan lebih banyak waktu memahami cara kerja demokrasi.

"Jika Anda tidak mengerti bahwa dalam demokrasi, pemungutan suara itu kuat, maka Anda tidak bisa memiliki sistem demokrasi," katanya.

Menurutnya, di beberapa negara Muslim, transisi ke sistem demokrasi malah justru membawa bencana ke negara-negara itu. "Setiap kali mereka mencoba sistem demokrasi, akan ada pertempuran di antara mereka dan negara-negara tersebut hampir hancur," lanjut Mahathir.

Lebih lanjut, Mahathir mengatakan, Malaysia adalah negara Muslim yang mengadopsi sistem demokrasi, meskipun hanya 60 persen penduduknya beragama Islam.

Sistem ini berhasil karena orang-orang di Malaysia tampaknya menemukan bahwa ketika mereka memiliki penguasa mereka, mereka juga bisa memiliki sistem demokrasi.

"Kami di Malaysia tidak suka kekerasan. Kami tidak menggulingkan pemerintah sampai pemerintah berubah dengan sendirinya," katanya, sambil tertawa

(met/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up