JawaPos Radar

Polisi Kamboja Gerebek Persewaan Rahim, 33 Perempuan Ditemukan Hamil

25/06/2018, 17:30 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Polisi Kamboja Gerebek Persewaan Rahim, 33 Perempuan Ditemukan Hamil
Sebanyak 33 wanita hamil karena menyewakan rahim (Reuters)
Share this

JawaPos.com - Sebanyak 33 perempuan hamil ditemukan dalam operasi penggerebekan yang dilakukan oleh polisi Kamboja. Seperti dilansir AFP pada Minggu (23/6), polisi mengatakan, seorang manajer Tiongkok tampaknya menjadi dalang di balik operasi persewaan rahim ilegal.

Puluhan wanita hamil tersebut membawa bayi atas nama klien Tiongkok. Polisi menangkap kelompok ibu pengganti dan lima orang yang diduga sebagai pemimpin kelompok tersebut di Phnom Penh.

Kepala Polisi Anti-Perdagangan Manusia Phnom Penh, Keo Thea mengatakan, paspor, dokumen, serta lima orang yang ditangkap itu dikirim ke pengadilan untuk dituntut di bawah Undang-undang Anti-Perdagangan Manusia Kamboja. "Mereka membawa bayi untuk warga negara Tiongkok," katanya.

Polisi Kamboja Gerebek Persewaan Rahim, 33 Perempuan Ditemukan Hamil
Di Kamboja kejahatan perdagangan manusia masih marak (Dyah Ratna Meta Novia/JawaPos.com)

Setiap perempuan dijanjikan USD 10 ribu bila mau menyewakan rahimnya. Kasus ini adalah yang kedua dari jenisnya di Kamboja dan serangkaian penangkapan pertama sejak perawat Australia Tammy Davis-Charles dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, bersama dengan dua rekan Kamboja.

Sebanyak 33 perempuan itu ditempatkan di vila dan dalam kondisi berbagai macam tahap kehamilan. Mereka terhubung dengan bisnis melalui pialang dan bersumber dari desa-desa di Provinsi Kandal, Prey Veng, dan Kampot.

Praktik terlarang seperti itu telah membanjiri Kamboja setelah dilarang di tempat-tempat seperti India, Nepal, dan Thailand. Individu dan pasangan yang putus asa untuk mendapatkan anak sering menghadapi biaya mahal atau hukum yang melarang penyewaan rahim di negara mereka sendiri.

Jadi praktik itu mendorong mereka untuk beralih ke opsi yang lebih murah di Asia, dengan harga untuk biaya anak sekitar USD 50 ribu. Awalnya praktik ini berkembang di Kamboja, hingga keputusan singkat dari Departemen Kesehatan melarang operasi praktik tersebut pada Oktober 2016.

Penasehat Gender PBB Rodrigo Montero mengatakan, kasus baru menunjukkan bahwa pihak berwenang telah mencoba menegakkan hukum. "Kabar buruknya, itu membuktikan industri rahasia internasional yang tersembunyi masih beroperasi di Kamboja," katanya.

(ina/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up