alexametrics

Sebelum Tarrant, Penembakan Terparah di Selandia Baru Dilakukan Gray

24 Maret 2019, 14:24:16 WIB

JawaPos.com – Pada 13 November 1990 David Gray, seorang pengangguran berusia 33, tinggal di rumah liburan keluarganya di sebuah komunitas pantai kecil Selandia Baru. Di rumah sebelahnya, Garry Holden dan putri-putrinya Jasmine, 11, dan Chiquita, 9, sedang menikmati akhir pekan yang cerah di luar ruangan di Aramoana, dekat Dunedin.

Pacar Holden, Julie Anne Bryson, tinggal di ujung jalan, dan putrinya yang berusia 11 tahun, Rewa, datang untuk bermain dengan anak-anak Holden.

Seperti dilansir The Washington Post beberapa hari lalu, saat matahari terbenam, Gray dan Holden terlibat pertikaian di depan rumah mereka. Gray kembali ke rumahnya sebentar hanya untuk mengambil senapan semi otomatis. Gadis-gadis kecil itu berjalan keluar dari rumah Holden tepat ketika penembakan dimulai. Saat polisi menghentikan Gray pada hari berikutnya, ia telah membunuh 13 orang, termasuk empat anak.

penembakan masal, penembakan di masjid, selandia baru, penembakan, david gray,
Gadis-gadis kecil itu berjalan keluar dari rumah Holden tepat ketika penembakan dimulai. Saat polisi menghentikan Gray, ia telah membunuh 13 orang. Ini merupakan Aramoana Memorial untuk peringatan (NZ History)

Itu adalah penembakan masal paling mematikan dalam sejarah Selandia Baru hingga Jumat 15 Maret 2019, ketika polisi mengatakan 50 orang tewas setelah seorang pria bersenjata, Brenton Tarrant menembaki jamaah masjid di dua masjid Christchurch.

Dua masjid menjadi sasaran dalam penembakan, yang digambarkan oleh Perdana Menteri Jacinda Ardern sebagai serangan teroris.

“Rewa mengatakan, Holden tertembak,” kata Chiquita Holden ingat dalam sebuah wawancara dengan Otago Daily Times pada 2005. “Itu seperti opera sabun yang benar-benar buruk.”

Lalu gadis-gadis berlari kembali ke dalam rumah Holden dan bersembunyi di bawah meja, tetapi Gray mengikuti mereka dan menembak ketiganya. Jasmine dan Rewa terbunuh saat itu. Sebuah peluru menembus lengan Chiquita dan bersarang di perutnya.

“Saya pikir itu adalah kekuatan dari tembakan yang membuat saya keluar dari pintu. Dari sana saya baru bangun dan berlari,” katanya kepada Times.

Dia berlari melewati tubuh ayahnya yang tak bernyawa ke rumah Bryson dan memberitahunya apa yang terjadi. Bryson menelepon pihak berwenang, membungkus Chiquita dengan handuk dan memasukkannya ke dalam van.

Dia mengemudi kembali ke rumah Holden untuk melihat apakah dia bisa mengeluarkan putrinya, tetapi pada saat itu, Gray telah berada di rumah itu dan membakar rumah. Dia menembak mereka ketika mereka lewat.

“Itu adalah hal terburuk, saya tidak bisa berhenti. Saya merasa gagal sebagai seorang ibu,” kata Bryson kepada New Zealand Herald pada tahun 2010.

Mereka berhasil sampai ke rumah sakit, tempat luka Chiquita dirawat, tetapi mimpi buruk itu berlanjut di lingkungan itu.

Gray menembaki siapapun yang mendekati tempat kejadian perkara saat itu. Bahkan dia menembak dan membunuh Sersan Stewart Guthrie, petugas pertama yang tiba di tempat kejadian. Menurut Herald, Guthrie mengenal Gray dan berharap dia bisa membujuknya untuk menyerah.

Gray menghabiskan malam dan hari berikutnya dengan menjelajahi lingkungan itu, menghindari pihak berwenang dan menembaki apa pun yang bergerak. Ketika matahari mulai terbenam lagi, pasukan anti-terorisme mendekatinya di rumahnya. Mereka mencoba memaksanya keluar dengan granat kejut.

Mike Kyne, salah satu petugas di regu itu mengatakan, Gray mengeluarkan senjata api. Mereka menembaknya lima kali, dan dia tewas tak lama kemudian.

Sebagai akibat dari pembantaian itu, Selandia Baru memperketat undang-undang senjata pada tahun 1992. Undang-undang Selandia Baru 1992 mengharuskan lisensi dan registrasi yang lebih ketat untuk senjata semi otomatis tetapi tidak langsung melarangnya. Seminggu setelah penembakan tetangga Gray membakar rumahnya.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : Verryana Novita Ningrum

Copy Editor :

Sebelum Tarrant, Penembakan Terparah di Selandia Baru Dilakukan Gray