alexametrics

Kepemilikan Lebih Sedikit Senjata Turunkan Insiden Penembakan

24 Maret 2019, 12:03:39 WIB

JawaPos.com – Seperti halnya di Amerika Serikat, beberapa negara di Eropa juga mempunyai riwayat penembakan masal di sekolah yang memakan banyak korban. Dilansir dari NZ Herald beberapa waktu lalu, Jerman mengalami serangkaian serangan penembakan di sekolah antara 2002 dan 2009. Selain itu, sekitar 1996 dan 2008, penembakan di sekolah-sekolah besar juga terjadi di Finlandia dan Skotlandia, juga tempat-tempat lain di dunia.

Ada konsensus luas di Eropa kalau beberapa penembakan di sekolah tidak mungkin dicegah. Eropa tampaknya telah belajar dari pengalaman yang tidak menyenangkan.

Dalam sebuah penelitian mengenai Penembak Masal dan Senjata Api Publik: Studi Lintas Nasional dari 171 Negara, Profesor Kriminologi Universitas Alabama, Adam Lankford menemukan hubungan antara jumlah senjata dan penembakan masal antara tahun 1966 dan 2012 yang menewaskan empat orang atau lebih.

Studi menunjukkan, kepemilikan lebih sedikit senjata mungkin akan menghasilkan penurunan insiden. Itulah tepatnya yang terjadi di Australia setelah negara itu memperketat legislasi senjata setelah penembakan masal pada tahun 1996.

Namun para kritikus juga mempertanyakan apakah jumlah senjata benar-benar merupakan faktor paling signifikan. Mereka menunjuk ke satu negara khususnya, Swiss.

Swiss memiliki salah satu rasio senjata api tertinggi di dunia per orang, dengan perkiraan 45,7 senjata per 100 penduduk. Hanya dua negara yang memiliki rasio lebih tinggi yaitu Yaman, dengan 54,8 senjata per 100 penduduk, dan Amerika Serikat pada 88,8.

Dengan sekitar delapan juta warga, Swiss tentu saja jauh lebih kecil daripada Amerika Serikat. Tapi itu masih lebih padat daripada Finlandia, negara Eropa yang memiliki lebih sedikit senjata tetapi lebih banyak penembakan di sekolah.

Banyak senjata Swiss didistribusikan kepada tentara. Wajib bagi laki-laki Swiss untuk melakukan wajib militer. Ini membuat mereka bisa menyimpan senapan serbu semi-otomatis di rumah. Namun bagi mereka yang ingin membeli senjata sendiri harus menjalani pemeriksaan latar belakang hidupnya selama seminggu.

Beberapa sosiolog mengatakan, untuk ikut dinas militer Swiss harus dilakukan pemeriksaan latar belakang peserta. Selain itu, sistem pendidikan negara itu mengajar anak-anak sejak dini untuk mencari kompromi dan perdamaian daripada melakukan konflik terbuka.

Oleh karena itu, meskipun hampir setiap rumah di Swiss mungkin memiliki senjata, namun akses terhadap senjata masih diatur. Penggunaan senjata juga diatur norma sosial yang ketat.

Sementara itu, tes psikologi juga merupakan praktik standar bagi orang Jerman yang berusia di bawah 25 tahun yang ingin membeli senjata api. Pembatasan usia diperketat dan pendaftaran kepemilikan senjata nasional dibuat pada 2013.
Meski demikian, pengaturan pembelian senjata di Jerman tidak menghentikan penyerangan lain, seperti penembak sayap kanan 2016 yang menewaskan sembilan orang di pusat Kota Munich. Ia mendapatkan senjata secara online dengan cara ilegal.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : Dinda Lisna



Close Ads
Kepemilikan Lebih Sedikit Senjata Turunkan Insiden Penembakan