alexametrics

Alasan di AS Lebih Sulit Buat Aturan Senjata daripada di Selandia Baru

24 Maret 2019, 13:10:19 WIB

JawaPos.com – Seminggu setelah aksi teror di dua masjid di Selandia Baru, pemerintah melarang penggunaan senjata semi otomatis dan senjata serbu. Ini akan dimulai bulan depan dan Pemerintah Selandia Baru akan mengambil senjata yang beredar di masyarakat.

Tahun ini adalah 20 tahun usai tragedi Columbine, penembakan masal besar di Amerika Serikat (AS). Namun Pemerintah AS tetap tidak melakukan tindakan apapun.

Seperti dilansir CNN beberapa hari lalu, larangan penggunaan senjata serbu oleh Pemerintah Federal AS berakhir pada tahun 2004. Dukungan untuk mengembalikan larangan seperti itu kurang dari 50 persen. Ini menurut jajak pendapat baru-baru ini.

Terdapat sejumlah alasan mengapa lebih sulit membuat aturan penggunaan senjata di AS daripada di Selandia Baru meskipun lebih sering terjadi penembakan di negara yang dipimpin Trump tersebut. Di antaranya:

1. Tidak ada amandemen kedua di Selandia Baru

Sementara AS dibentuk setelah revolusi Inggris, Selandia Baru secara teknis masih merupakan bagian dari Persemakmuran Inggris. Tidak ada revolusi berdarah, jadi tidak ada hak untuk membawa senjata dalam hukum negaranya.

AS sebelumnya telah memiliki larangan penggunaan senjata, namun harus ada langkah konstitusional untuk memberlakukannya lagi. Selain itu, tujuh negara di AS sudah memiliki larangan penggunaan senjata sendiri.

2. Bayangkan jika Nancy Pelosi mengendalikan pemerintah dan tidak ada Senat.

Selandia Baru tidak memiliki legislatif bikameral, yang berarti tidak memiliki senat. Negara itu juga tidak memiliki presiden.

Pemerintahan Perdana Menteri Jacinda Ardern dibentuk dari parlemen. Jacinda Ardern pada dasarnya dapat mengumumkan undang-undang senjata baru karena dia dan koalisinya yakni Partai Buruh, Partai Nasionalis Selandia Baru, dan Partai Hijau mengendalikan Parlemen.

Ardern dan koalisi yang memerintah mengendalikan satu rumah pemerintahan maka ada peluang mereka akan berhasil membuat undang-undang senjata baru.

Tidak seperti di AS, partai oposisi di Selandia Baru mendukung larangan penggunaan senjata serbu.

Rem pada tindakan Parlemen Selandia Baru adalah bahwa jika pemilih tidak menyukai apa yang dilakukan anggota parlemen, mereka akan memilih partai baru dalam pemilihan berikutnya.

3. Sistem cek dan keseimbangan memperlambat perubahan.

Demokrat yang menguasai DPR AS tidak mengendalikan pemerintah. Mereka merupakan oposisi yang loyal. Ketika Demokrat mengajukan undang-undang senjata seperti yang mereka rencanakan tahun ini, hal itu tidak akan menjadi undang-undang kecuali disetuhui Senat AS, di mana mayoritas anggota Republik tidak akan menyetujuinya. Bahkan jika mereka melakukannya, Presiden Donald Trump dapat memveto itu.

Pemerintah di AS kurang responsif dan kurang gesit dibandingkan Selandia Baru. Dibutuhkan lebih banyak kesepakatan untuk menyelesaikan apa pun di AS, yang dibangun di sekitar gagasan pemisahan kekuasaan dan melindungi hak-hak individu.

Itu mungkin bagian dari alasan mengapa para pembuat undang-undang di Selandia Baru dahulu kala mampu memberlakukan sistem asuransi kesehatan yang dinasionalisasi, tetapi di AS itu tampaknya mustahil. Di sisi lain, tidak mungkin bagi Partai Republik untuk mencabut Undang-Undang Perawatan Terjangkau.

4. Selandia Baru adalah negara yang jauh lebih kecil daripada AS.

Populasi AS adalah sekitar 326 juta pada tahun 2017, menurut Biro Sensus AS. Pada tahun itu, populasi Selandia Baru sekitar 4,8 juta.

Mengatur tempat bagi 5 juta orang, dan memperhitungkan perbedaan pendapat mereka, adalah hal yang jauh berbeda dari mengatur banyak tempat yang berkali-kali lebih besar baik ukuran, populasi, dan geografi.

5. Ada lebih banyak senjata di AS

Ada banyak senjata di Selandia Baru, lebih dari 1,2 juta senjata. Yaitu sekitar 1 senjata untuk dalam 3 orang. Namun di AS, hampir setiap orang memiliki satu senjata dan sekitar setengah dari senjata milik warga sipil. Ini menunjukkan penggunaan senjata jauh lebih berurat dan berakar dalam budaya AS.

Editor : Dyah Ratna Meta Novia

Reporter : Verryana Novita Ningrum

Copy Editor :

Alasan di AS Lebih Sulit Buat Aturan Senjata daripada di Selandia Baru