JawaPos Radar

Trump Tuding Rusia Langgar Perjanjian Nuklir INF

23/10/2018, 12:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
rusia, perjanjian nuklir, as, inf,
Trump menuding Rusia telah melanggar perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) 1987, meski Rusia membantah (Tass)
Share this

JawaPos.com - Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kalau AS akan meningkatkan persenjataan nuklirnya untuk menekan Rusia dan Tiongkok. Dilansir dari BBC pada Selasa, (23/10), Trump menuding Rusia telah melanggar perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) 1987, meski Rusia membantah.

Perjanjian era Perang Dingin melarang rudal jarak menengah, mengurangi ancaman Uni Soviet terhadap negara-negara Eropa. Rusia telah memperingatkan akan membalas jika AS mengembangkan lebih banyak senjata.

Trump mengatakan, AS akan membangun gudang persenjataannya."Ini adalah ancaman bagi siapapun. Anda ingin memasukkan Tiongkok dan itu termasuk Rusia dan itu termasuk orang lain yang ingin memainkan permainan itu, Rusia tidak menganut semangat perjanjian itu atau perjanjian itu sendiri," katanya.

rusia, perjanjian nuklir, as, inf,
Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kalau AS akan meningkatkan persenjataan nuklirnya untuk menekan Rusia dan Tiongkok (Reuters)

Sementara itu, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton telah mengadakan pembicaraan di Moskow setelah Rusia mengutuk rencana AS untuk menghentikan kesepakatan itu. Bolton diberitahu bahwa penarikan AS akan menjadi pukulan telak bagi rezim non-proliferasi.

Namun, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev mengatakan, Rusia siap untuk bekerja dengan AS untuk menghapus keluhan masing-masing atas INF.

Ketika Bolton memulai kunjungannya, Moskow memperingatkan akan mengambil langkah untuk menjaga keseimbangan kekuatan nuklir. "Kami perlu mendengar penjelasan pihak Amerika tentang masalah ini," kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

"Menghentikan perjanjian itu memaksa Rusia untuk mengambil langkah demi keamanannya sendiri," ujarPeskov.

Dalam perjanjian INF, ditandatangani oleh Presiden AS Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev, pemimpin Soviet terakhir, pada tahun-tahun terakhir Perang Dingin.

Isinya, melarang rudal jarak menengah yang diluncurkan, dengan kisaran antara 500 dan 5,500 km (310-3.400 mil), baik nuklir maupun konvensional.

Pada hari Minggu, salah satu penandatangan asli dari perjanjian INF, Mikhail Gorbachev mengatakan, penarikan AS akan membalikkan upaya yang dilakukan untuk mencapai perlucutan senjata nuklir.

Tetapi AS bersikeras bahwa Rusia telah melanggar kesepakatan, karena mengembangkan rudal jarak menengah baru yang disebut Novator 9M729 - yang dikenal dengan NATO sebagai SSC-8 - yang akan memungkinkan Rusia untuk meluncurkan serangan nuklir di negara-negara NATO pada waktu yang sangat singkat.

Moskow menyangkal rudal melanggar perjanjian itu tetapi Nato mengatakan pada Juli bahwa Rusia telah gagal memberikan jawaban yang dapat dipercaya atas rudal itu dan menyimpulkan bahwa penilaian yang paling masuk akal adalah Rusia memang melanggar perjanjian itu.

Menteri Luar Negeri Jerman telah menggambarkan penarikan yang direncanakan Trump dari INF merupakan hal yang disesalkan. Iamenggambarkan perjanjian itu sangat penting, terutama bagi kami di Eropa.

Namun meninggalkan INF juga dilihat sebagai langkah balasan ke Tiongkok, yang belum menandatangani kesepakatan dan karenanya dapat mengembangkan senjata seperti itu sesuka hati. Keputusan itu dapat menciptakan ketidakpastian atas masa depan perjanjian perlucutan senjata lainnya antara AS dan Rusia, seperti Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru yang berakhir pada Februari 2021.

Terakhir kali AS menarik diri dari perjanjian senjata besar adalah pada 2002, ketika Presiden George W Bush menarik AS keluar dari Perjanjian Anti-Balistik Rudal, yang melarang senjata yang dirancang untuk melawan rudal nuklir balistik.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up