JawaPos Radar

Sesaat Wapres Afganistan Pulang dari Pengasingan, Bom Meledak 14 Tewas

23/07/2018, 11:09 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Sesaat Wapres Afganistan Pulang dari Pengasingan, Bom Meledak 14 Tewas
Sebanyak 14 orang tewas dalam ledakan yang mengguncang Bandara Kabul tak lama setelah Wakil Presiden Afganistan Abdul Rashid Dostum kembali dari pengasingan (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Sebanyak 14 orang tewas dalam ledakan yang mengguncang Bandara Kabul, tak lama setelah Wakil Presiden Afganistan Abdul Rashid Dostum kembali dari pengasingan. Seperti dilansir dari BBC pada Senin (23/7), Dostum tidak terluka dalam serangan di lapangan yang baru saja ia lewati.

Dia pergi ke Turki lebih dari setahun yang lalu, setelah dia dituduh memerintahkan orang-orangnya untuk menculik dan memperkosa lawan politiknya. Namun semua tuduhan dibantahnya. Kelompok militan ISIS mengatakan, mereka yang melakukan serangan itu.

Polisi di Kabul, Hashmat Estankzai mengatakan, sembilan anggota pasukan keamanan dan petugas lalu lintas termasuk di antara 14 orang yang tewas. Sementara 60 orang lainnya terluka.

Sesaat Wapres Afganistan Pulang dari Pengasingan, Bom Meledak 14 Tewas
ISIS selalu membuat teror bom di mana saja (Reuters)

Estankzai sebelumnya mengatakan kepada BBC seorang pengebom bunuh diri memasang bahan peledaknya di luar gerbang bandara. Beberapa laporan mengatakan konvoi Jenderal Dostum berangkat ketika ledakan terdengar. Dia di dalam kendaraan lapis baja.

Tayangan televisi menunjukkan Dostum menyapa pendukung di kantornya tidak lama setelah ledakan. Kembalinya Dostum didahului oleh kerusuhan di basis kekuasaannya di Afghanistan Utara, ketika para pendukung menuntut kembalinya dan pembebasan seorang pemimpin milisi.

Analis percaya Presiden Ashraf Ghani menyetujui kembalinya Dostum untuk mencoba menopang dukungan menjelang pemilihan presiden tahun depan. Dostum membantu AS mengusir Taliban pada 2001 tetapi disalahkan atas beberapa kekejaman terburuk dalam perang saudara yang berlangsung lama di negara itu. Ia bergabung dengan pemerintah persatuan nasional pada 2014.

Mantan sekutu Dostum, Ahmad Eshchi mengatakan, ia mengalami masa-masa yang berat, dipukuli dan dilecehkan atas perintah Dostum. Dia mengatakan, wakil presiden dan 10 pria lain menyiksanya ketika dia dipaksa tinggal di kediaman Dostum pada November 2016.

Mantan panglima perang membantah dan mengatakan, Eshchi ditahan oleh dinas intelijen Afghanistan. Juru Bicara Dostum berdalih, dia pergi ke Turki hanya untuk pemeriksaan medis.

(ina/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up