JawaPos Radar

Hassan Rouhani: Perang AS dan Iran adalah Ibu dari Segala Perang

23/07/2018, 15:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Hassan Rouhani: Perang AS dan Iran adalah Ibu dari Segala Perang
Rouhani mengatakan, perang AS dengan Iran adalah ibu dari semua perang. Namun tidak menuntut kemungkinan akan ada perdamaian antara kedua negara tersebut (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) sebelumnya yang menarik diri dari kesepakatan program nuklir internasional 2015 dengan Iran. Kini soal pengiriman minyak dari Iran telah jadi akar perseturuan keduanya.

Iran telah berada di bawah tekanan atas sanksi yang diberlakukan Presiden Donald Trump dengan menarik AS keluar dari kesepakatan internasional 2015 atas program nuklir milik Iran.

Presiden Iran Hassan Rouhani memperingatkan Presiden Donald Trump soal kebijakan permusuhan Washington terhadap Tehran. AS khususnya Washington bahkan telah memberi ultimatum bagi beberapa negara untuk berhenti membeli minyak dari Iran.

Hassan Rouhani: Perang AS dan Iran adalah Ibu dari Segala Perang
Trump bersikeras menjalankan kebijakan bermusuhan dengan Iran (AP)

Seperti dilansir Channel News Asia, Rouhani mengatakan, perang AS dengan Iran adalah ibu dari semua perang. Namun tidak menuntut kemungkinan akan ada perdamaian antara kedua negara tersebut.

"Amerika harus tahu bahwa perdamaian dengan Iran adalah ibu dari semua perdamaian, dan perang dengan Iran adalah ibu dari semua perang. Meninggalkan kemungkinan perdamaian antara kedua negara, yang bertentangan sejak Revolusi Islam 1979," lanjutnya.

Menurut Rouhani, pihak AS tidak dalam posisi untuk menghasut Iran demi keamanan dan kepentingan negaranya. Dia bahkan memperingatkan Trump untuk tidak bermain dengan ekor singa (Iran) agar tidak menyesal nantinya.

Rouhani mencemooh ancaman Trump yang menghentikan ekspor minyak Iran dan mengatakan bahwa Iran memiliki posisi dominan di Teluk dan Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak utama.

Washington awalnya berencana untuk menutup Iran dari pasar minyak global. Pihaknya menuntut semua negara lain berhenti membeli minyak mentah Iran dan menjatuhkan tempo hingga November mendatang.

(trz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up