JawaPos Radar

Iran Peringatkan Sikap tak Pasti AS Bisa Timbukan Krisis Nuklir

23/02/2018, 18:18 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Iran Peringatkan Sikap tak Pasti AS Bisa Timbukan Krisis Nuklir
Rudal Iran (BBC)
Share this

JawaPos.com - Iran memperingatkan akan terjadinya krisis nuklir jika kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) dibatalkan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluhkan ketidakpastian yang diciptakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dalam sebuah pidato di Chatham House London pada Kamis, (23/2), Araghchi mengatakan, ketidakpastian di bawah Presiden AS Donald Trump telah membuat lebih sulit bagi Iran untuk tetap melakukan kesepakatan tersebut.

"Jika kita kehilangan JCPOA, kita akan menghadapi krisis nuklir lagi. Ini adalah pilihan antara keamanan dan ketidakamanan di tingkat dunia," ujar Araghchi.

Iran Peringatkan Sikap tak Pasti AS Bisa Timbukan Krisis Nuklir
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Reuters)

Araghchi sebagai Juru Runding Nuklir Utama Iran juga mengisyaratkan bahwa Iran dapat menarik diri dari kesepakatan jika Amerika gagal untuk memetik manfaat yang diharapkan dari kesepakatan tersebut.

JCPOA adalah kesepakatan nuklir internasional yang ditandatangani oleh Iran dan kekuatan dunia pada 2015 lalu di Wina, Austria. Sesuai kesepakatan itu, sejumlah sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut dengan imbalan aktivitas nuklir Iran dibatasi.

Di bawah kesepakatan itu ada enam negara yang menandatangani JCPOA. Mereka adalah AS, Rusia, Jerman, Prancis, Inggris, Tiongkok, serta Uni Eropa.

Dalam pidatonya Araghchi menyatakan, kesepakatan yang diharapkan dapat menjadi cara untuk menyelesaikan krisis nuklir bisa berubah menjadi masalah besar dan berbahaya bagi seluruh dunia.

"Jelas ketidakpastian AS tersebut memiliki dampak besar pada perdagangan luar negeri karena investor tetap waspada dan bank-bank besar terus menjauh karena takut sanksi AS," ujar Pengamat Politik Internasional Mohammad Hashemi seperti dilansir Al Jazeera.

Gelombang protes dalam beberapa bulan terakhir di Iran yang terjadi akibat kesengsaraan ekonomi, ketegangan politik, dan dugaan korupsi menambahkan lebih banyak tekanan pada pemerintahan Presiden Hassan Rouhani untuk melakukan langkah besar guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi Iran.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up